Perkembangan motorik anak yang terlahir kidal seringkali terhambat karena masalah budaya. Sekitar sepuluh persen manusia di seluruh dunia adalah kidal. Orang kidal adalah orang yang lebih banyak menggunakan tangan kiri daripada kanan saat melakukan berbagai aktivitas. Contohnya seperti menulis, menggenggam benda, menyisir rambut, dan menggunakan alat makan. Sebenarnya, kidal tidak terbatas pada penggunaan tangan saja, namun pada sebagian besar organ sisi kiri tubuh.

Lalu, apa yang membuat seseorang lebih sering menggunakan tangan kiri dibandingkan tangan kanan dan sebaliknya?

Faktor genetik kerap menjadi alasan seseorang terlahir kidal. Dikutip dari Medical Daily, kecenderungan untuk memilih menggunakan salah satu tangan sudah terbentuk sejak masih di dalam kandungan, tepatnya di minggu ke-8. 

Para peneliti dari Ruhr University Bochum di Jerman mengamati rangkaian DNA di sumsum tulang belakang bayi pada minggu ke-8 hingga ke-12  kehamilan. Berdasarkan pengamatan tersebut, rangkaian DNA dalam segmen saraf yang mengendalikan gerak kaki dan tangan dilihat memiliki perbedaan yang cukup jauh antara tubuh sisi kanan dan kiri.

Hanya saja, kecenderungan seseorang untuk menjadi kidal baru dapat diketahui di usia 2 tahun (Giagazoglou dkk., 2001).

Terhambatnya Keterampilan Motorik Anak Kidal

Terdapat perbedaan perkembangan motorik antara anak yang kidal dan yang tidak. Dalam penelitiannya, Giagazoglou dkk., mengamati sekelompok anak usia 4-6 tahun. Dari sekelompok anak ini, 4% di antaranya kidal.  Semua anak diminta untuk melakukan aktivitas yang melibatkan keterampilan motorik kasar (berlari, melompat, melempar dan menendang bola) dan motorik halus (menyusun balok, menggunakan gunting, menyalin pola geometrik, dan menggambar).

Berdasarkan pengamatan tersebut, tidak ada perbedaan yang menonjol antara anak-anak kidal dengan anak-anak yang tidak kidal pada keterampilan motorik kasar. Di sisi lain, anak yang kidal terpantau lebih sulit melakukan aktivitas motorik halus, daripada anak-anak yang tidak kidal.

Fasilitas dan alat bisa menjadi penyebab perkembangan motorik halus anak kidal tidak optimal. Pasalnya, banyak sekali fasilitas dan peralatan yang tidak memungkinkan untuk digunakan oleh anak kidal.

Contohnya adalah gunting serta bangku lipat. Penggunaan gunting, seperti memotong kertas, dapat melatih keterampilan motorik halus anak. Sayangnya, tidak semua gunting mudah untuk digunakan oleh anak kidal. Kebanyakan gunting memiliki dua ukuran lubang jari yang berbeda. Selain itu, bangku lipat dengan meja juga menyulitkan orang kidal. Dengan bagian meja yang berada di sisi kanan, tentu akan sangat merepotkan bagi anak kidal untuk menulis di sana. 

Nilai dan norma yang berlaku di masyarakat juga berpotensi menghambat perkembangan motorik halus anak kidal. Saat masih kecil dulu, pernahkah Anda ditegur orang tua karena menerima pemberian orang dengan tangan kiri, makan dengan tangan kiri, atau memegang sesuatu dengan tangan kiri?

Banyak orang tua menasihati anaknya untuk menggunakan tangan kanan. “Tangan bagusnya mana?” biasanya menjadi ungkapan yang sering diutarakan oleh orang tua guna mengingatkan kita. Sementara itu, penggunaan tangan kiri yang dianggap baik hanya pada saat cebok saja.

Membiasakan Anak Kidal Menggunakan Tangan Kanan

Lalu, mampukah anak kidal dibiasakan untuk lebih banyak menggunakan tangan kanan? Jawabannya adalah bisa. Pertanyaan berikutnya, perlukah?

Di Jepang, lebih dari 50% anak kidal berhasil membiasakan diri untuk menggunakan tangan kanannya (Koeda and Takeshita, 1988). Tentunya upaya membiasakan anak kidal menggunakan tangan kanan tidak berlaku untuk setiap kegiatan. Anak kidal yang dibiasakan untuk melakukan kegiatan dengan menggunakan tangan kanan masih kesulitan untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan gerakan yang lebih rumit, misalnya  menulis dan menggambar.

Upaya membiasakan anak kidal untuk melakukan kegiatan dengan tangan kanannya ternyata memiliki efek yang buruk. Lebih dari 80% anak kidal yang dipaksa menggunakan tangan kanan merasa tertekan (Hoosain, 1990). Selain itu, memaksa anak kidal untuk menggunakan tangan kanan bisa meninggalkan trauma, karena anak merasa bersalah setiap menggunakan tangan kiri.  Ditambah lagi, memaksa anak kidal untuk menggunakan tangan kanan akan membunuh bakat terpendamnya.

Anak kidal memang cenderung memiliki perkembangan motorik yang lebih lambat daripada anak yang tidak kidal, terutama pada perkembangan motorik halus. Alat dan fasilitas menjadi salah satu faktor yang membuat perkembangan motorik anak kidal terhambat. Selain itu, kebudayaan yang menilai menggunakan tangan kanan lebih baik juga turut menjadi faktor penghambat perkembangan motorik anak kidal.

Upaya untuk mengubah kebiasaan anak kidal untuk menggunakan tangan kanannya untuk sebagian besar kegiatan memang memungkinkan. Namun, ditakutkan upaya tersebut dapat membuat anak merasa tertekan dan mematikan bakat terpendamnya. 

Referensi:

Tan, L. E. (1985). Laterality and Motor Skills in Four-Year-Olds. Child Development, 56(1), (halaman 119-124)

Meng, L. (2007). The rate of handedness conversion and related factors in left-handed children. Laterality: Asymmetries of Body, Brain and Cognition 12(2) (halaman 131–138)

Giagazoglou, P., Fotiadou, E., Angelopoulou, N., Tsikoulas, J., & Tsimaras, V. (2001). Gross and Fine Motor Skills of Left-Handed Preschool Children. Perceptual and Motor Skills, 92(3_suppl), 1122–1128. doi:10.2466/pms.2001.92.3c.1122 

Andini, Widya Citra.______.Apa Sebenarnya Penyebab Orang Kidal?.

Wargadireja, Arzia Tivany. 19 Agustus 2017. Budaya ‘Tangan Bagus’ Di Negara Kita Merugikan Orang Kidal.