Apa saja kira-kira pertimbangan dalam menjalani LDM? Mau bagaimana juga, ketidakmampuan bertemu dengan pasangan setiap saat terdengar tidak menyenangkan. Kendati demikian, penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang memilih menempuh kehidupan LDM dengan alasan yang cukup rasional.

Salah satu alasannya adalah kombinasi pentingnya pekerjaan dan keluarga. Dengan menempuh LDM, kedua orang dalam pasangan mampu fokus kepada dua hal tanpa mengkhawatirkan adanya konflik kepentingan antara karier dalam pekerjaan dan hubungan berkeluarga.

Langkanya pekerjaan serta pencapaian karier

Selain itu, langkanya pekerjaan atau pendidikan yang spesifik pada bidang tertentu juga turut menjadi pertimbangan dalam menjalani LDM. Dengan kata lain, kesesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan merupakan sesuatu yang langka. Maka dari itu, ketika ada kesempatan pekerjaan seperti itu, seseorang yang memiliki aspirasi karier yang tinggi pasti akan mengambil kesempatan itu meski berujung pada LDM.

Bagi wanita, terpisah secara geografis berpotensi menjaga dirinya agar tidak ‘tertinggal’ secara pencapaian hidup dan karier dari suaminya. Pernyataan ini mengacu pada pertimbangan menjalani LDM berikutnya. Jika seorang wanita tengah berada dalam kondisi karier yang melejit, berpindah tempat tinggal bukanlah pilihan. Dalam kondisi tersebut, ia dan suaminya akan cenderung memilih untuk tetap berada pada posisi karier masing-masing. Dengan memilih jalan ini, sang istri akan meningkatkan kariernya, begitu juga dengan karier sang suami.

Menurut Winfield (1985), banyak wanita yang menyatakan bahwa terkait karier, pentingnya pekerjaan lebih dipertimbangkan daripada jabatannya sendiri. Dengan kata lain, mereka akan lebih betah dan menyukai sebuah pekerjaan apabila mereka mendapatkan sesuatu dari pekerjaan itu yang tidak bisa didapatkan dari pekerjaan lainnya, terlepas dari jabatan apa yang mereka pegang.

Pertimbangan menjalani LDM bagi pasangan yang sudah menikah lama

Alasan berikutnya berlaku bagi pasangan yang sudah menikah dalam waktu yang lebih lama. Menurut pasangan yang sudah menikah dalam waktu lama, mereka memilih menjalani LDM guna memberi kesempatan bagi sang istri untuk mengambil giliran.

Biasanya, di awal pernikahan, para istri harus mengorbankan keinginan pribadi mereka untuk mendukung suami mereka mengejar kariernya. Maka dari itu, dengan adanya LDM, para suami sepakat bahwa inilah saatnya bagi para istri untuk meningkatkan karier dan kehidupan pribadi mereka. Keputusan ini diambil untuk memastikan adanya keseimbangan dalam pernikahan.

Terakhir adalah kebiasaan menjalin hubungan jarak jauh. Apabila sebuah pasangan sebelumnya sudah pernah menjalin hubungan jarak jauh sebelum menikah, besar kemungkinan mereka akan lebih siap menghadapi LDM. Hubungan pacaran jarak jauh berpotensi membentuk sebuah skema hubungan jarak jauh, dan mereka mampu melihat jarak sekadar salah satu faktor dalam hubungan.

Pertimbangan dan keuntungan menjalani LDM

Banyak pertimbangan seseorang menjalani LDM, dan beberapa pertimbangan tersebut juga membicarakan mengenai keuntungan dari LDM.

Pertama adalah hadirnya kesempatan untuk berfokus pada karier dan pernikahan serta membentuk kesetaraan peran dalam hubungan pernikahan.

Kedua adalah memperkuat pernikahan. Banyak pasangan yang percaya bahwa perpisahan dapat memperkuat pernikahan mereka berkat adanya perasaan telah mencapai sesuatu bersama-sama.

Keuntungan ketiga adalah kelonggaran kesibukan ketika pasangan sedang berjauhan. Ketika pasangan sedang jauh, mereka dapat mengatur ulang kesibukan mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Jika seseorang ingin kerja hingga larut, tidak ada yang bisa dikecewakan; jika seseorang ingin makan malam, tidak perlu menunggu makanan selesai disiapkan. Seseorang tersebut bisa bekerja sebanyak yang ia inginkan.

Keuntungan keempat adalah adanya kesempatan untuk mendedikasikan waktu lebih banyak pada pekerjaan. Kendati demikian, keuntungan satu ini lebih banyak dimanfaatkan oleh para wanita. Bagi para lelaki justru waktu pekerjaan yang semakin sedikit membuat mereka lebih bisa mendedikasikan waktu mereka untuk mengerjakan urusan rumah ketika istri tidak ada.

Waktu luang yang lebih banyak ini berujung ke satu pertimbangan menjalani LDM: kemajuan karier sebagai prioritas pribadi.

Keuntungan kelima adalah waktu dan prioritas. Pemisahan jarak dapat memfasilitasi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan berkeluarga. Dengan kata lain, selagi bekerja, seseorang dapat fokus meniti kariernya. Selagi mengunjungi pasangannya, satu sama lain dapat fokus mempererat hubungan mereka. Selagi terpisah, ‘kencan’ dapat diatur menggunakan media komunikasi dan teknologi yang kian canggih guna mempertahankan hubungan. Kesimpulannya, masing-masing dapat fokus ke prioritas masing-masing di waktunya masing-masing dan sukses di keduanya.

Keuntungan terakhir adalah hadirnya kesempatan untuk mempelajari banyak keterampilan baru dan meningkatkan kepercayaan diri. Ketika seseorang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk melakukan apapun, kemampuan dirinya terasah perlahan.

Peningkatan kepercayaan diri dan keterampilan

Dalam beberapa penelitian dan pertimbangan, banyak wanita yang mengaku sejak menjalani LDM, kini mereka tahu caranya mengganti ban yang bocor, memperbaiki keran yang bocor, memangkas rumput, hingga memperbaiki kabel listrik yang putus. Di sisi lain, para pria juga merasa diuntungkan. Berkat LDM, kini mereka tahu bagaimana caranya memasak, menjahit, hingga mencuci pakaian.

Berdasarkan keterampilan yang dipelajari, banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa kondisi ini banyak menguntungkan kaum wanita. Dengan kata lain, para wanita mendapatkan rasa kemandirian, kekuatan, dan kepercayaan diri berkat mempelajari keterampilan-keterampilan baru ini. Mereka mulai bisa melihat bahwa mereka bisa hidup mandiri dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain untuk melakukan hal-hal yang biasa suaminya kerjakan. Alih-alih masalah ‘membutuhkan’, mereka memilih untuk bersama seseorang karena mereka ‘menginginkan’-nya.

Di sisi lain, para pria mempelajari hal-hal baru yang kurang dianggap signifikan oleh masyarakat. Meskipun mereka merasa bahagia karena mampu melakukan hal-hal baru tanpa bantuan sang istri, para suami tidak merasakan rasa kemandirian dan kekuatan yang sama dengan yang dirasakan para istri (Scott, 2002).

Kendati demikian, kedua belah pihak tetap merasakan dan menyerap segala pertimbangan, keuntungan, dan manfaat yang ada selagi menjalani LDM, ketimbang menyesali dan mengutuk keadaan.

Referensi

Advice For Those In A Long Distance Relationship When One (Or Both) Of You Have Kids. (2017). Diambil kembali dari Overcomingthedistance.com.

Scott, A. T. (2002). Communication characterizing successful long distance marriages. LSU Doctoral Dissertations, 3840.