Anak pengidap kanker sangat rentan terhadap berbagai pemicu stres. Kanker bisa membebani pikiran penderita dan orang-orang terdekatnya, baik itu secara fisik atau mental. Dengan kata lain, dampak dari prosedur medis maupun proses pengobatan penyakit itu sendiri bisa menjadi pemicu stres bagi anak pengidap kanker.

Rasa sakit dari prosedur medis serta pengobatan merupakan salah satu pemicu stres berat yang dirasakan oleh anak pengidap kanker. Proses pengobatan penyakit secara umum memiliki efek samping berupa darah rendah, yang dapat menyebabkan anemia, mual-mual, muntah-muntah, nyeri pada mulut, berkurangnya nafsu makan, serta mudah lelah (Granowetter, 1994).

Selain itu, berubahnya penampilan fisik juga menjadi salah satu pemicu stres dan kegelisahan pada pasien kanker. Kehilangan rambut seringkali terjadi seiring dengan proses pengobatan penyakit ini. Kondisi ini kerap membuat para pasien kanker—khususnya yang masih muda—menjadi stres.

Stres ini bukan hanya dilatarbelakangi masalah estetika penampilan, melainkan pengaruhnya terhadap pergaulan dengan teman sebaya. Penampilan yang berbeda dari teman sebayanya dapat menimbulkan perasaan bahwa dirinya ‘berbeda’. Perasaan ini bisa berujung ke perilaku menyendiri dan menghindari teman-temannya.

Pemicu stres pada anak pengidap kanker yang ditemukan dalam penelitian

Pada tahun 1977, Enskar dkk. mewawancarai 5 orang anak pengidap kanker berusia 6-12 tahun mengenai isu masa pengobatan yang mereka hadapi. Hasilnya, ditemukan 5 masalah yang kerap muncul. Yakni masalah kecemasan, prosedur medis yang menyakitkan, ketakutan akan rasa sakit, ketakutan akan hal-hal yang tidak terduga, serta ketakutan akan dijauhi teman-temannya.

Pada tahun 2000, Collins dkk. mewawancarai 150 orang anak pengidap kanker berusia 10-18 tahun mengenai gejala yang mereka alami dan mereka rasa paling membuat tidak nyaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, gejala yang paling umum dipaparkan oleh para responden ialah kesulitan menelan, kesulitan tidur, nyeri pada mulut, kehilangan rambut, perubahan kulit, serta muntah-muntah.

Di tahun yang sama, Wolfe dkk. mewawancarai 103 orang responden mengenai isu yang sama. Namun alih-alih mewawancarai anak pengidap kanker secara langsung, Wolfe dkk. mengambil pendekatan yang berbeda. Dalam penelitiannya, Wolfe dkk. mewawancarai para 103 orang tua dari anak pengidap kanker.

Berdasarkan penjelasan para orang tua, anak-anak terpantau mengalami kelelahan fisik, nafsu makan yang rendah, konstipasi, hingga diare dalam proses pengobatannya. Menariknya, laporan semacam ini justru jarang ditemukan di laporan yang ditulis secara resmi oleh dokter. Dengan kata lain, orang tua justru memiliki informasi lebih mengenai keseharian anak pengidap kanker daripada pihak rumah sakit.

Di tahun 2003, Hedstrom dkk. melakukan penelitian serupa, namun dengan cakupan responden yang lebih luas. Hedstrom dkk. mewawancarai sejumlah 150 anak pengidap kanker beserta orang tua dan juga perawatnya mengenai aspek penyakit kanker serta proses pengobatannya yang berpotensi menjadi pemicu stres bagi anak.

Dalam hasil penelitiannya, Hedstrom dkk. membagi responden anak pengidap kanker menjadi 4 kategori usia. Yakni 0-3 tahun, 4-7 tahun, 8-12 tahun, dan 13-19 tahun. Beberapa pemicu stres yang paling sering dipaparkan oleh para responden ini dikelompokkan menjadi 2 aspek, yakni aspek fisik dan aspek emosi.

Anak pengidap kanker usia 0-3 tahun

Pada tahapan usia ini, kebanyakan pemicu stres anak hadir dalam bentuk masalah fisik. Hal ini dikarenakan bayi usia di bawah lima tahun (balita) lebih takut sakit dibandingkan dengan anak usia lain. Perkembangan kognitif yang belum maksimal menyebabkan anak di tahapan usia ini belum mampu menghadapi rasa takut atau rasa sakit dengan rasional dan optimal.

Sedangkan untuk aspek emosi, beberapa pemicu stres yang muncul antara lain seperti merasa dikurung oleh orang tua, mudah gelisah, serta kekhawatiran yang muncul tiap menjelang prosedur pengobatan. Perasaan terkurung oleh orang tua merupakan pemicu stres emosional tertinggi untuk anak di tahapan usia ini.

Anak pengidap kanker usia 4-7 tahun

Sama halnya seperti anak usia 0-3 tahun, anak pada tahapan usia ini juga memiliki berbagai pemicu stres yang lebih banyak muncul dalam bentuk masalah fisik, seperti rasa sakit dari prosedur medis dan pengobatan, kelelahan fisik, serta mual-mual.

Untuk aspek emosi, pemicu stres bagi anak di tahapan usia ini antara lain seperti merasa terasingkan, merasa dikurung oleh orang tua, mudah gelisah, serta kekhawatiran yang muncul tiap menjelang suatu prosedur pengobatan. Perasaan terasingkan merupakan pemicu stres emosional tertinggi untuk anak di tahapan usia ini.

Hal ini disebabkan aktivitas sosial yang tinggi pada anak di tahapan usia ini. Anak yang tadinya bisa dengan bebas bermain di luar rumah dengan teman-temannya, karena penyakitnya kini tidak bisa lagi melakukan rutinitas tersebut. Hasilnya, anak akan merasa ditelantarkan oleh teman-temannya dan merasa dirinya dijauhi karena berbeda.

Anak pengidap kanker usia 8-12 tahun

Di tahapan usia ini, pemicu stres anak pengidap kanker mulai menyentuh ranah emosi. Pemicu stres emosional bagi anak di tahapan usia ini mencakup ketakutan akan kematian, merasa dikurung oleh orang tua, serta merasa terasingkan.

Ketakutan akan kematian merupakan pemicu stres emosional tertinggi untuk anak di tahapan usia ini. Hal ini disebabkan oleh kemampuan berpikir abstrak dan logis anak yang mulai berfungsi. Anak di tahapan usia ini mampu memahami kematian sebagai sesuatu yang bersifat permanen dan tak bisa diputarbalikkan. Anak paham bahwa kematian adalah salah satu implikasi dari penyakit mematikan, contohnya seperti kanker.

Itulah mengapa mulai tahapan usia ini, dukungan emosional menjadi hal yang penting dalam kiat merawat anak pengidap kanker.

Anak pengidap kanker usia 13-19 tahun

Pada tahapan usia ini, anak sudah bisa disebut remaja. Selayaknya remaja pada umumnya, anak rentan terhadap stres dikarenakan penampilan yang berubah, khawatir tiap menjelang prosedur perawatan, serta perasaan terasingkan. Perubahan penampilan merupakan pemicu stres emosional tertinggi pada tahapan usia ini. Karena bisa berujung ke trauma psikologis serta hubungan sosialnya dengan teman sebaya.

Pada aspek fisik, pemicu stres anak pengidap kanker di usia ini biasanya mencakup mual-mual dan rasa sakit akibat dari prosedur medis dan pengobatan. Mual-mual merupakan aspek fisik yang paling sering dipaparkan dari kategori usia ini. Remaja lebih stres ketika sering mual karena anak usia remaja lebih paham akan konsep biologis dari penyakit ini. Selain itu juga adanya perbedaan metabolisme tubuh terhadap kemoterapi, dibandingkan dengan anak di tahapan usia yang lebih muda.

Yang perlu diperhatikan pada anak di tahapan usia ini adalah kecenderungan anak remaja untuk menyembunyikan stres. Remaja cenderung menyembunyikan stres karena takut terlihat lemah. Perawat dan orang tua harus lebih peka dan lebih mendekatkan diri pada pribadi remaja, agar remaja mau bercerita mengenai kondisinya.

Terlepas dari tahapan usia anak, stres adalah ‘virus’ yang berbahaya dan bisa menyerang siapapun. Kesimpulannya, penderitaan yang dirasakan oleh para pengidap penyakit kanker seringkali tak hanya muncul dari penyakit itu sendiri. Orang tua dan perawat juga harus paham bahwa mental anak juga harus dirawat, bukan tubuhnya saja.

Referensi

Hedstrom, M., Haglund, K., Skolin, I., & von Essen, L. (2003). Distressing Events for Children and Adolescents With Cancer: Child, Parent, and Nurse Perceptions. Journal of Pediatric Oncology Nursing, 20(3), 120-132.