Belajar di luar rumah tidak hanya menyenangkan, tapi juga kaya akan pengalaman dan pelajaran yang penting untuk si bayi.

He who would learn to fly one day must first learn stand and walk and run and climb and dance…”

– Friedrich Nietzsche

Siapa pun yang hendak terbang tinggi ke angkasa, sebelumnya harus lebih dahulu belajar cara berdiri, berjalan, berlari, memanjat, hingga berdansa. Itulah kurang lebih makna dari kutipan di atas. Kalimat tersebut berlaku kepada banyak hal. Sayangnya, manusia tidak bisa terbang. Maka dari itu, mari kita bahas langkah-langkah sebelumnya. Untuk bisa menari, memanjat, atau berlari, manusia harus terlebih dulu belajar berdiri dan berjalan.

Belajar berjalan umumnya dilaksanakan di masa bayi, yakni di usia 10 hingga 18 bulan. Sebelum bisa berjalan dengan lancar, bayi harus mempelajari beberapa keterampilan pendukung terlebih dahulu, seperti menjaga keseimbangan tubuh, koordinasi anggota tubuh, serta meningkatkan kekuatan otot guna menyokong beban tubuhnya.

Belajar berjalan di lantai rumah yang rata dan aman merupakan pencapaian yang wajar. Seiring perkembangannya, cepat atau lambat sang anak harus merasakan bergerak di permukaan lain, seperti bebatuan pegunungan, rerumputan di ladang, hingga pasir pantai. Menurut Adolph dan Avolio (2000), selain masalah medan, anak juga memiliki tantangan lain dalam proses penyempurnaan cara berjalannya, seperti alas kaki, alat bantu, dan bentuk tubuhnya.

Lalu apakah jalan yang menurun atau menanjak mampu membuat bayi lebih lancar berjalan? Apakah kemampuan bayi berjalan akan terpengaruhi jika ia mengenakan sepatu? Apakah berat badan berlebih berpotensi menghambat proses belajar berjalan? Mari kita bahas!

Medan yang sulit mempengaruhi bayi belajar berjalan di luar rumah

Medan dengan kecuraman yang bervariasi dapat memberi tantangan bagi anak. Biasanya Anda bisa menemukan permainan yang menantang anak untuk berjalan/memanjat bidang miring tertentu di taman bermain atau taman kota.

Ketika menghadapi permukaan yang menurun, keseimbangan sangatlah penting agar anak tidak terpeleset atau terjatuh. Menurut Adolph dan Avolio (2000), biasanya, insting individu akan membuatnya menjaga kemiringan tubuhnya ke belakang agar tidak jatuh ke depan. Sebaliknya, ketika berjalan menanjak, kita biasanya akan memiringkan tubuh kita condong ke depan agar tidak jatuh ke belakang.

Untuk melakukan ini, dibutuhkan kontrol otot dan pergelangan kaki yang baik, serta kemampuan penglihatan, penalaran spasial, serta pengambilan keputusan yang baik. Orang dewasa biasanya menentukan tingkat keamanan sebuah medan melalui penglihatan dan pengalaman maupun indera lainnya. Sedangkan balita cenderung menakar kemampuannya sendiri dan memilih untuk menghindari medan yang terlalu curam, atau melewatinya dengan cara meluncur.

Melatih anak berjalan di medan dengan tingkat kecuraman yang berbeda dapat menghasilkan otot anak yang lebih luwes serta perhitungan spasial yang lebih akurat. Adolph dan Avolio menyatakan bahwa kemampuan perhitungan spasial ini dapat bermanfaat ketika sang anak belajar mengendarai sepeda, motor atau bahkan mobil kelak.

Menurut Charlotte Watts, seorang instruktur dan blogger di bidang kesehatan dan olahraga, beraktivitas atau berjalan di medan yang tidak rata mampu meningkatkan indera peraba, gerak refleks, kondisi fisik, kesehatan kaki, serta kebahagiaan seorang individu, termasuk anak.

Pentingnya alas kaki bagi bayi yang belajar berjalan di luar rumah

Berbagai medan yang bervariasi dapat menawarkan tantangan yang baru bagi sang anak. Namun bukan berarti medan yang curam atau bebatuan yang tajam tidak menawarkan risiko bagi anak. Kaki anak bisa terkilir atau terluka. Sebagai solusi, banyak orang tua yang mengharuskan anaknya untuk mengenakan sepatu ketika bermain di luar.

Sebagai pelindung kaki, sepatu memang terbukti efektif dalam melindungi kaki dari luka karena kayu atau bebatuan runcing yang berada di alam bebas. Kendati demikian, Lauren Knight, seorang pengamat perkembangan anak dari Washington Post, berpendapat lain.

Mengacu pada ajaran buku berjudul Revolutionary Parent yang ditulis oleh Kevin Geary, Lauren mengutarakan bahwa sepatu memiliki pengaruh buruk pada perkembangan kaki anak. Menurutnya, sepatu dianggap mencegah pergerakan jari kaki yang merata, serta menghambat berkembangnya pergerakan kaki anak.

Di sisi lain, Lauren mengemukakan keuntungan dari bermain dengan kaki telanjang, di antaranya ialah:

  • Memperkuat otot kaki dan betis
  • Membuat gerakan kaki lebih gesit dan lincah
  • Lebih jarang cedera kaki
  • Menghasilkan cara berjalan yang lebih sehat dan natural
  • Merangsang indera sentuh dengan sehat, terutama bagi anak yang baru pertama kali merasakan tekstur permukaan baru.

Menggunakan alas kaki atau tidak, yang penting adalah membiarkan anak belajar bergerak dengan cara yang paling membuatnya nyaman dan aman.

Bentuk tubuh bayi

Sederhananya, semakin gemuk bayi, maka semakin sulit baginya untuk menjaga stamina ketika bergerak. Selain itu anak juga semakin sulit untuk menjaga keseimbangan. Medan yang terjal maupun landai pastinya membutuhkan keseimbangan bagi seorang anak untuk melaluinya.

Anak yang memiliki berat badan berlebih dapat mengalami perkembangan merangkak atau berjalan yang terhambat. Bentuk tubuh anak yang tidak proporsional biasanya memiliki pusat massa atau pusat keseimbangan yang bergeser. Hal ini dapat menimbulkan masalah ketika si anak belajar berjalan, mau itu di lantai yang rata maupun bebatuan yang curam.

Berbagai tantangan ini patut diperhitungkan dalam tumbuh kembang anak yang sedang aktif-aktifnya bergerak. Belajar berjalan di luar rumah memang memberi manfaat yang banyak, namun bukan berarti kegiatan ini terbilang mudah dan sederhana. Kendati demikian, kebahagiaan dan kesehatan anak pastinya akan meningkat dengan belajar di luar rumah.

Referensi

Adolph, K. E., & Avolio, A. M. (2000). Walking Infants Adapt Locomotion to Changing Body Dimensions. Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance, 26(3), 1148-1166.

Hoecker, J. L. (2018, July 28). How can I tell if my baby’s weight is cause for concern? Diambil kembali dari Mayo Clinic

Knight, L. (2016, March 10). Why kids should go barefoot more. Diambil kembali dari Essential Kids

Watts, C. (2017, October 25). The Benefits of Walking on Uneven Ground. Diambil kembali dari Charlotte Watts Health