Kecerdasan spasial bayi, atau keterampilan visual-spasial, merupakan kemampuan anak untuk mengingat gambaran dan detil dari berbagai benda serta kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Kemampuan spasial sendiri didefinisikan sebagai kapasitas individu untuk memahami, mengingat dan menjelaskan hubungan antara benda atau ruang yang berbeda.

Sederhananya, kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang dalam membayangkan atau memvisualisasikan posisi, bentuk, serta gerakan sebuah benda dalam pikirannya. Pada bayi, kecerdasan spasial ini berkembang melalui aktivitas fisik. Bergerak secara mandiri maupun digerakkan oleh orang lain membuat bayi perlahan mengingat bentuk, lokasi, hingga sifat dari objek-objek di sekitarnya.

Bergerak secara mandiri merupakan kemampuan yang harus dicapai oleh seorang anak. Bergerak secara mandiri biasanya dilakukan oleh bayi dengan cara merangkak atau berjalan. Umumnya, bayi mampu merangkak di usia 7 sampai 12 bulan, dan mampu berjalan di usia sekitar 9 hingga 17 bulan.

Kecerdasan spasial bayi awalnya mengacu pada naluri binatang

Kecerdasan spasial seseorang biasanya bergantung pada kemampuannya dalam mengingat, yang disebut sebagai spatial memory, atau ingatan spasial. Konsep ingatan spasial ini dapat dijelaskan dengan mudah dari cara binatang bertahan hidup.

Bagi banyak spesies binatang, kunci dari bertahan hidup selain insting, ialah kemampuannya dalam mengingat lokasi tertentu. Clearfield (2004) menjelaskan bahwa binatang menggunakan ingatan spasial untuk mengingat lokasi predator, makanan, dan sarang mereka. Ingatan spasial ini juga membuat binatang mampu mengingat jejak perjalanan yang mereka tempuh agar bisa kembali ke tempat awal mereka. Selain itu, binatang juga mampu menemukan kembali lokasi mereka mencari makanan atau menghindari tempat yang memungkinkan mereka bertemu pemangsa.

Mengacu kepada cara binatang mengingat lokasi, bayi juga menggunakan cara yang sama yang terdiri atas 2 kategori, yakni internal dan eksternal.

Ingatan internal dan eksternal

Ingatan internal merupakan cara mengingat yang melibatkan posisi diri sendiri. Pada bayi, kemampuan ini didasari oleh posisi, arah menghadap, serta kondisi tubuh (duduk, berdiri, tengkurap, dll).

Biasanya bayi mengingat lokasi sebuah objek dengan cara mengingat urutan gerakan yang ia lakukan guna mencapai objek tersebut. Contohnya bisa kita lihat pada tikus yang diletakkan dalam labirin. Ia akan mengingat posisi sebuah lokasi dengan mengingat berapa kali ia belok kiri dan berapa kali ia belok kanan. Ingatan internal ini efektif apabila posisi bayi dan posisi objek yang hendak dicapai tidak berubah.

Selain urutan gerakan, ingatan internal juga memanfaatkan kemampuan bayi dalam mengira-ngira jarak serta arah sebuah objek dari tempat asalnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Clearfield (2004), dengan mengetahui jarak atau arah sebuah objek atau lokasi yang hendak ia capai, seorang bayi mampu menemukan objek/lokasi yang tidak terlihat sekalipun.

Sedangkan, ingatan eksternal adalah cara mengingat yang melibatkan ancar-ancar atau penanda tertentu yang menonjol dan mudah ditemui sehingga mampu dijadikan alat bantu dalam mengingat sebuah lokasi. Contohnya seperti saat kita mencari alamat, biasanya kita menggunakan ancar-ancar tertentu untuk memudahkan mencari sebuah lokasi, seperti masjid, sekolah, dsb.

Ingatan eksternal sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yakni:

  • Metode ancar-ancar, yakni mengasosiasikan antara lokasi subjek dengan sebuah penanda atau ancar-ancar guna mencapai objek/lokasi tertentu.
  • Metode tempat, yakni metode yang memperhitungkan jarak dan posisi antara 2 ancar-ancar, guna menentukan posisi ketiga, yakni posisi sebuah lokasi/objek.

Pengaruh kecerdasan spasial bayi pada kemampuan merangkak dan berjalan

Seperti dikatakan di atas, merangkak dan berjalan dapat meningkatkan kecerdasan spasial bayi. Merangkak dan berjalan merupakan bentuk dari kemampuan bergerak secara mandiri. Bayi yang dapat bergerak secara mandiri mampu mengeksplorasi lingkungannya sesuka hati.

Melalui eksplorasi dan gerak kesana-kemari ini, bayi mulai membentuk ingatan atas posisi-posisi dari lokasi/objek tertentu. Perlahan, bayi akan mampu mengingat di mana letak mainan maupun posisi orang tuanya biasa berada. Sebagian besar bayi mempelajari ruang dan lingkungannya melalui ancar-ancar atau tanda yang menonjol.

Berdasarkan penelitian Clearfield (2004), bayi berusia di bawah 8 bulan cenderung menggunakan ingatan internal, sedangkan bayi berusia di atas 8 bulan lebih cenderung menggunakan ingatan eksternal. Pernyataan ini didasari pada kemampuan bayi bergerak secara mandiri. Pasalnya, bayi berusia di bawah 8 bulan umumnya belum mampu merangkak maupun berjalan, sedangkan bayi berusia di atas 8 bulan umumnya setidaknya sudah mampu merangkak.

Tahapan usia sekitar 8 bulan ini disebut sebagai tahap transisi. Di usia 8 hingga 11 bulan, bayi mulai mengembangkan keterampilan motorik serta otot kaki dan lengannya, dan mulai belajar merangkak. Dengan keterampilan motorik yang mulai berkembang, bayi juga turut melatih kemampuan visual serta indera sentuhnya.

Seiring bayi mulai merangkak dan berjalan, ia akan memiliki jarak dan luas pandang yang lebih baik dari sebelumnya. Ketika hanya bisa sekedar tengkurap atau duduk, bayi tidak mampu melihat apa yang ada di atas meja atau apa yang ada di balik pintu. Namun, ketika bayi sudah bisa bergerak, ia akan mampu memenuhi rasa penasarannya dan mampu melihat benda-benda yang tadinya berada di luar jangkauan pandangannya.

Dengan jangkauan pandangan yang lebih luas, bayi kini mampu mengenal benda-benda dan ancar-ancar baru yang akan ia ingat. Dengan informasi yang bertambah dan ingatan yang menguat, bayi akan lebih mudah membayangkan posisi, bentuk, dan karakteristik dari lokasi/objek tertentu tanpa perlu melihat atau menyentuhnya secara langsung.

Bayi yang tidak mampu bergerak secara mandiri tentunya tidak mampu untuk mengeksplorasi sekitarnya sesuka hati. Hasilnya, ia cenderung hanya mengingat lokasi di mana ia diletakkan oleh orang tuanya.

Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk melatih bayi untuk bergerak agar bayi mampu melatih kecerdasan ingatan spasial, visual, serta kecerdasannya dalam mencari benda/lokasi yang tersembunyi.

Referensi

Clearfield, M. W. (2004). The role of crawling and walking experience in infant spatial memory. Experimental Child Psychology, 89, 214-241.

Dewar, G. (2018, December 8). Spatial intelligence: What is it, and how can we enhance it? Diambil kembali dari Parenting Science

Hudson, J. (2015, December). When will my baby start remembering things? Diambil kembali dari babycenter