Proses lamaran menjadi salah satu agenda wajib dari seorang lelaki. Pada momen ini, para lelaki harus menundukkan kepala dan merendahkan diri untuk meminta izin orang tua perempuan yang akan dinikahinya. Rasa jumawa dan bangga menjadi lelaki mendadak sirna saat lelaki harus meminta izin ayah dari wanita yang dicintainya.

Oleh karena itu, tidak sedikit para lelaki yang merasa bingung dan khawatir menjelang acara proses lamaran. Hal ini karena proses lamaran tidak hanya melibatkan diri sendiri tetapi juga sanak saudara semuanya. Dengan kata lain, ada rasa tanggungjawab besar yang dipikul lelaki saat mengajak orang tua dan keluarganya melamar wanita yang dicintai.

Artikel ini akan membahas liku-liku proses lamaran yang pernah dialami oleh salah satu pembaca kami, yakni kisah Brilian Ilma. Lelaki yang dikenal dengan Billy ini mengisahkan hiruk pikuk dari prosesi lamaran yang dialaminya.

Ekspektasi dan Realita Proses Lamaran

Beberapa hari sebelum acara lamaran, pasti perasaan campur aduk. Perasaan memikirkan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana sambutan dari keluarga calon pasangan, hingga perasaan khawatir jika proses lamaran tidak berjalan sesuai rencana.

Sejak awal, aku berfikir bahwa nanti akan ada proses sambutan yang akan diberikan oleh keluarga pasangan. Tapi, aku tidak pernah bisa berekspektasi apapun tentang bagaimana sambutan itu akan diberikan pada keluargaku. Kekhawatiran yang kerap muncul di pikiranku adalah adanya salah persepsi.

Sepanjang perjalanan dari Cilacap (rumahku) ke Bandung (rumah calon istriku), pikiran yang terlintas adalah bagaimana nanti? Apakah sesuai rencana? Apakah keluarga mereka senang dengan keluargaku? Apakah ada tradisi lamaran tertentu nantinya?

Yap, Maklum saja karena memang keluargaku dan keluarga pasanganku belum pernah bertemu sama sekali. Selain itu, tradisi keluargaku dan pasanganku cukup berbeda sehingga menjadi pertimbanganku juga. Semua pikiran itu terlintas di kepalaku sepanjang perjalanan Cilacap-Bandung. Selain pikiran, perasaan gelisah, takut, dan senang bercampur menjadi satu hingga sulit untuk dideskripsikan. Perasaan yang sangat berbeda saat mendengar pacarku mau saya nikahi. Sungguh beda!

Sesampainya di sana, realita tidak seburuk ekspektasi. Sambutan dari keluarga pasangan sangatlah hangat. Meskipun kedua keluarga belum pernah bertemu, keluargaku dan keluarga calon istriku ternyata tidak canggung. Mereka saling memberikan tegur dan sapa yang membuat perasaanku senang.

Terlebih lagi, wali yang ditunjuk oleh keluargaku sangat piawai dalam menyampaikan kata-kata. Hal ini membuat perasaanku senang, percaya diri, dan bangga menjadi bagian dari keluargaku. Selain itu, Aku jadi semakin merasa yakin untuk segera menikahi wanitaku.

Aku menyadari bahwa ekspektasiku dan realita yang terjadi berjalan baik karena memang ketulusan yang aku miliki. Sebelumnya, aku memberanikan diri bertemu dengan keluarga pasanganku untuk meminta izin melamar anak gadisya. Selain itu, aku juga menceritakan seluruh hal yang kutahu kepada orang tuaku.

Oleh karena itu, akan lebih baiknya jika seorang lelaki yang ingin melamar pacarnya harus memberanikan diri terlebih dahulu untuk menemui orang tuanya. Baik untuk basa basi, obrolan ringan, hingga obrolan serius untuk menikahi anak gadisnya.

Bagaimanapun Juga, Jarak Selalu Menjadi Kendala

Jarak cukup menjadi kendala saat proses lamaranku. Hal ini karena rumahku di Cilacap dan rumah calon pasanganku di Bandung. Aku harus mengajak keluargaku untuk melamar pasanganku di Bandung. Oleh karena itu, aku harus menyiapkan moda transportasi yang nyaman untuk perjalananku dan keluarga ke Bandung.

Jika kamu orang yang berkecukupan dalam finansial, hal ini tidak akan menjadi kendala. Tapi, jika kamu orang dengan status ekonomi pas-pasan maka perlu adanya perencanaan yang matang. Ada pertimbangan biaya yang harus kamu keluarkan dalam prosesi lamaran.

Saat itu, alhamdulillah aku ada mobil sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya sewa kendaraan. Biaya yang harus kutanggung adalah bensin, makan, dan penginapan. Namun, jika kalian tidak ada kendaraan pribadi, maka harus menyiapkan anggaran untuk sewa kendaraan.

Setelah urusan transportasi dan akomodasi, pertimbangan memilih barang seserahan juga wajib dipikirkan. Hal ini karena jarak yang ditempuh cukup jauh, maka barang-barang seserahan untuk calon pasangan dan keluarganya harus bisa dibawa dengan kendaraan yang kalian gunakan.

Saat proses lamaranku, barang seserahan yang menjadi kendalaku adalah cake. Barang ini mudah dicari tapi sulit untuk dibawa dalam jarak yang jauh. Oleh karena itu, aku meminta pasanganku untuk membelikan cake di Bandung yang nantinya menjadi bagian dari barang seserahanku.

Kendala terakhir yang menjadi isu dalam proses lamaranku adalah kesehatan keluarga. Mengingat tidak semua keluargaku punya fisik yang baik, maka pertimbangan kesehatan keluarga ini perlu diperhatikan. Hal ini karena perjalanan jauh dapat membuat masuk angin, pusing, mual, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kalian harus peka untuk bisa memperhatikan kondisi kesehatan keluarga yang diajak lamaran. Dengan kata lain, jika keluarga yang dibawa saat lamaran sehat, barang seserahan semua masuk, dan transportasi yang digunakan nyaman, maka insyaallah proses lamaran akan berjalan sesuai harapan.