Senin 19 Oktober 2020 pukul 09.00 WIB. Pagi berjalan seperti biasa sampai istri selesai dari kamar mandi dan mengabarkan kalau air ketubannya sudah mulai rembes. Mendengar infomasi itu sayapun segera mandi dan memindah posisi mobil supaya lebih mudah untuk keluar. Pukul 11.00 WIB kami putuskan untuk segera ke rumah sakit karena kontraksi semakin sering dan konsisten dengan rentang waktu 10-5 menit sekali dan proses kelahiran anak pun dimulai.

Pukul 11.30 kami pun sampai di rumah sakit yang di tuju, dan istri pun di arahkan ke kamar transit untuk persiapan proses kelahiran. “pak, mohon bapak mengurus administratif dan rapid test di lab mengingat saat ini sedang pandemi” ujar perawat yang memecah keheningan pikiran saya yang cukup bingung menghadapi situasi menunggu proses kelahiran anak pertama. Segera saya mengiyakan arahan perawat dan tidak lupa pamit kepada istri dan berpesan kalau saya akan segera kembali. Sayapun melangkah keluar kamar transit, ditemani dengup jantung yang tak menentu sembari berdoa semoga proses kelahiran anak pertama ini berjalan lancar.

Pengurusan administratif proses kelahiran anak

Mengenal rumah sakit tempat melahirkan adalah hal yang sangat membantu dalam pengurusan proses kelahiran anak. Mengenal lokasi rumah sakit akan memudahkan anda untuk memilih rute yang efektif ataupun sesederhana tahu harus berjalan kemana tanpa harus bertanya. Hal ini sangat membantu mengefektifkan waktu yang sangat berharga saat pengurusan proses kelahiran anak.

Saya sudah cukup familiar dengan rumah sakit yang saya gunakan ini. Selama Sembilan bulan saya sering mondar-mandir atau sekedar berjalan-jalan di dalam rumah sakit. Hal itu sebetulnya saya lakukan untuk membunuh rasa jenuh ketika menemani istri menunggu antrian kontrol rutin. Ternyata tidak hanya membantu membunuh rasa jenuh tetapi juga memberikan saya pengetahuan terakit lokasi-lokasi atau posisi ruang-ruang yang ada di rumah sakit tersebut.

Oleh karena ini saya bisa cepat menyelesaikan pengurusan administratif dan cek rapid untuk keperluan proses kelahiran anak saya. Proses ini semakin cepat karena dalam tas yang saya selalu bawa sudah ada surat-surat seperti KTP istri saya, Kartu kontrol atau hal lain yang sering digunakan untuk pengurusan administrative pada umumnya. Saya pun kembali ke ruang transit setelah setengah jam mengurus semua hal yang diminta oleh perawat yang menangani istri saya. Setelah mengabari istri saya bahwa segala urusan administratif beres, kami pun menunggu sekitar 1 jam untuk pindah ke kamar rawat inap. Pukul 13.00 kami pun pindah ke kamar rawat inap dengan kondisi istri saya sudah bukaan 4.

Penantian proses kelahiran anak

Setelah sampai ke kamar rawat inap, kondisi istri baik tidak banyak mengeluh malah cenderung biasa saja. Sembari istri tiduran di kasur sesuai arahan dari perawat, saya pun mulai menata barang bawaan kami yang sudah kami siapkan 1 bulan sebelumnya. 1 koper dan 1 tas kecil adalah barang yang kami bawa dan sudah berada didalam mobil selama 1 bulan. Baju ganti, peralatan mandi dan kebutuhan bayi baru lahir yang mendominasi isi tas kami. Setelah semua tertata, saya pun menawari istri untuk makan. Kebetulan rumah sakit yang kami gunakan memiliki resto yang cukup enak dan istripun meminta untuk dipesankan makanan disana.

Pukul 16.00 WIB, istri mulai kontraksi yang lebih serius. Beberapa kali ia mengeluh sakit. Pada titik itu saya merasa tidak berguna sebagai sosok suami karena hanya bisa menenangkan istri tanpa bisa mengurangi rasa sakitnya. Sesekali perawat datang untuk melakukan cek bukaan istri saya, hingga pukul 18.00 WIB masih tetap di bukaan 4. Pukul 20.00 dokter kandungan kami pun datang dan melakukan cek dan ternyata sudah bukaan 8. Dokter menginstruksikan istri saya untuk dipindah ke ruang tindakan untuk mempersiapkan proses kelahiran anak kami.

Menemani proses kelahiran

Sekitar Pukul 20.00 WIB kami sudah berada di ruang tindakan. Perawat memberikan instruksi kepada saya terkait penggunaan fitur-fitur yang tersedia pada kasur khusus ibu melahirkan. Fitur seperti pijat, pengaturan posisi dan lain-lain harus saya pahami kurang dari 5 menit. Setelah itu kami pun ditinggal karena perawat masih mengurusi proses kelahiran anak yang lain.

Pukul 22.00 WIB, setelah 2 jam melihat istri menahan kontraksi. Saya pun merasakan kelelahan mental/batin. Kelelahan ini karena melihat orang yang paling saya cintai kesakitan. saya hanya bisa memberikan semangat berupa kata-kata dan usapan di punggung berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya. Ditengah kondisi seperti itu beberapa perawat datang bersama dokter sembari menutup tirai dan bersiap melakukan proses kelahiran anak.

“Sudah bukaan 10 bu” ujar dokter. Perawat pun dengan sigap memberikan instruksi kepada istri saya terkait tata cara “ngeden” untuk melahirkan. Pada titik itu saya baru tahu bahwa sebetulnya ketika wanita melahirkan justru tidak boleh bersuara. Mengapa? Karena ketika berusara malah tekanan dari “ngeden”nya saat proses kelahiran anak berkurang. Jadi apa yang saya lihat selama ini ternyata hanya dramatisir film atau televise untuk menggambarkan sakitnya orang melahirkan.

Pukul 23.00 WIB, ditengah tegangnya proses melahirkan anak. Dokter berbicara pada saya, pak ini sepertinya perlu alat bantu vakum karena bayinya sudah setengah jalan tapi tidak keluar. Sepersekian detik saya harus memahami apa itu vakum, dan apa dampaknya. Jelas otak saya tidak dapat memproses itu, saya pun hanya menjawab ya dok!. Seiring dengan jawaban saya selembar kertas diulungkan kepada saya dari salah satu perawat yang berisi pernyataan setuju menggunakan vakum dan menanggung segala konsekuensinya. Sayapun ditengah kebingungan menandatanganinya meskipun saya tidak tahu banyak tentang vakum. Sembari menandatangani sayapun berdoa semoga proses kelahiran anak ini lancar untuk istri saya dan anak saya.

Pukul 23.22 WIB, tangisan bayi memecah keheningan. Satu sisi diri saya merasa lega, namun proses kelahiran anak saya ternyata belum selesai sampai disini…