Saat ini saya sedang menanti kelahiran anak pertama setelah menunggu sekitar 2 tahun. 21 minggu istri sudah mengandung dan kebingungan pun dimulai. Sudah separuh masa kandungan terlawati, tinggal setengahnya lagi dan ternyata saya belum menyiapkan apapun. Sebuah pesan singkat yang membuat saya sadar saya belum menyiapkan apapun untuk kelahiran adalah pesan dari istri, pesannya singkat jelas “lemari sudah tak kosongin, sudah siap untuk di isi” ditutup dengan emoticon senyum kemenangan.

Euphoria, yap euphoria akan memiliki anak  membuat saya lupa untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan ketika anak saya nanti lahir. Selain itu fokus pada kesehatan janin dan ibu juga menyilapkan saya menyiapakan hal-hal itu.  Sementara itu waktu terus berjalan dan waktu kelahiran semakin mendekat.

Jadi mulai dari mana ya?, pertanyaan yang muncul di benak saya ketika menyadari sudah saatnya untuk mulai menyiapkan hal-hal untuk anak nantinya. Pertanyaan ini membawa saya menemui teman-teman saya yang sudah memiliki anak tentunya untuk bertanya, “bro untuk persiapan lahiran, apa dulu ya yang perlu disiapin? Beli apa dulu gitu? Setelah mendapatkan jawaban dari beberapa kawan, sayapun semakin bingung. Pusing saya ini fams…

Tidak ada rumus pasti dalam persiapan kelahiran anak

Dari Socrates sampai decrates, sedari marx sampai Chomsky pun tidak membahas dari mana sebaiknya memulai persiapan kebutuhan ketika anak akan lahir. Bertanya pada teman pun ternyata tidak memberikan jawaban yang instan, Karena memang kebutuhan yang harus disiapkan ketika anak lahir sifatnya sangat personal. Semua tergantung dari cara konsumsi keluarga, kekuatan financial, luas rumah, kapasitas listrik tempat tinggal, jenis kelamin anak yang akan lahir, bahkan hal sekecil jumlah kran di rumah pun menjadi faktor yang memoderasi perilaku atau keputusan sebuah keluarga untuk menentukan langkah awal pemenuhan persiapan kelahiran anak. Hingga titik ini pun saya masih belum tahu saya harus mulai dari mana.

Tunggu sebentar, ada faktor-faktor yang mempengaruhi ? seperti cara konsumsi, financial dst?. Hmmm menarik, mungkin saya bisa berangkat dari faktor-faktor tersebut untuk memulai memetakan posisi keluarga dulu baru kemudian menentukan mulai dari mana.

Memetakan Sumberdaya Keluarga Dalam Persiapan kelahiran Anak

Ada beberapa hal yang akhirnya saya tarik sebagai dasar bergerak guna memulai pemenuhan persiapan kelahiran anak.

Kapasitas Listrik Rumah Dalam Persiapan Kelahiran Anak

kapasitas listrik saya yang hanya 900 Watt membuat saya berfikir bahwa saya tidak mungkin menambah AC supaya anak saya tidak kepanasan nanti, saya juga tidak berfikir membeli mesin cuci untuk memudahkan saya dan istri dalam mencuci pakaian anak saya nantinya. Maklum fams keluarga saya tidak punya mesin cuci karena laundry kiloan di dekat rumah menawarkan ke praktisan yang lebih di banding punya mesin cuci, sayangnya mereka tidak menerima laundry pakaian bayi. Jadi besok ketika anak saya lahir sepertinya saya akan bersahabat dengan ember dan rinso. Kapasitas listrik 900 Watt juga tidak cukup untuk menambah water heater di rumah, untungnya ada kompor jadi tinggal sangu thermometer dan godok air untuk mandi anak besok.

Kekuatan Financial Dalam Persiapan Kelahiran Anak

Kekuatan financial sebenarnya dapat terlihat dari kapasitas listrik yang digunakan. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kapasitas listrik rumah saya Cuma 900 Watt berarti kekuatan financial biasa saja. Hal ini mempersempit pilihan saya untuk memulai pembelian persiapan kelahiran anak saya nanti. Saya tidak bisa membeli banyak hal, dan saya syukuri itu karena saya tidak perlu mengisi banyak list barang yang akan dibeli karena pada akhirnya saya hanya bisa membeli barang yang itu,itu dan itu.

Luas Tempat Tinggal Dalam Persiapan Kelahiran Anak

Dari dua faktor di atas semestinya fams dapat mengetahui luas tempat tinggal saya. Yaps, tidak besar dan tidak luas fams, jadi saya tidak punya ruang luas untuk menyimpan barang. Lagi-lagi keterbatasan ini membuat saya mudah untuk berfikir mulai darimana. Mengapa? Karena lagi-lagi saya tidak bisa membeli barang dengan ukuran yang besar, dan banyak karena keterbatasan ruang ini.

Akhirnya Saya Tahu Mulai Dari Mana

Setelah melakukan analisis berdasarkan faktor-faktor tadi, akhirnya saya menemukan titik terang untuk memulai perencanaan belanja persiapan kelahiran anak.  Begitu banyak pertimbangan yang menuntut analisis yang tidak mudah fams!. setelah menyingkirkan beberapa buku-buku filosof, menutup buku-buku ekonomi mikro, dan membuka kembali handphone saya. Saya putuskan untuk memulainya dari hal yang di instruksikan istri saya yaitu mengisi lemari. Karena sejatinya menuruti arahan istri adalah solusi yang paling tepat.

Menuruti arahan istri tidak hanya memudahkan arah gerak karena clue-cluenya sudah ada, tetapi juga dapat membahagiakan istri karena istri merasa arahannya ditindak lanjuti. Jadi saya memulai persiapan kelahiran dengan menindak lajuti pesan singkat istri saya yaitu memulainya dari mengisi lemari yang sudah disiapkan untuk anak saya nanti. Mengisi lemari adalah solusi.