Sudah Hampir 2 bulan sejak tulisan saya pertama terkait persiapan kelahiran anak terunggah, dan benar kata orang bahwa waktu berjalan sangat cepat. Saat ini usia kandungan istri sudah sekitar 34 minggu, artinya 4 minggu-6 minggu lagi akan lahiran. Hingga saat ini pun persiapan untuk menyambut kelahiran bayi kami pun belum selesai.

Setelah mempersipakan hal-hal terkait dengan pakaian, perlengkapan mandi, popok, perlak dan sebagainya, ternyata masih saja terasa ada yang kurang. Mungkin bisa dikatakan kami gagap sehingga belum bisa memetakan sebenarnya apa saja sih yang benar-benar harus disediakan hingga kami tahu kapan untuk berkata “yak ini sudah cukup untuk persiapan kelahiran anak”.

Persiapan kelahiran anak (yang tidak siap-siap)

Teringat perkatakaan kawan dekat saya yang selalu hadir ketika saya menghadapi situasi yang belum pernah saya alami,”siap itu tidak pernah ada”. Ketika saya refleksikan pada beberapa kondisi yang pernah saya hadapi memang begitu, sesiap apapun kita untuk menghadapi sesuatu yang baru masih saja terasa belum siap, kenapa? Karena kita tidak pernah tahu batasan persiapan yang harus kita siapkan.

Kondisi ini semakin terasa ketika penghujung kelahiran. Saya dan istri malah semakin bingung menyiapkan hal-hal kelahiran. Padahal dalam list RKPKA (Rencana Kerja Persiapan Kelahiran Anak) kegiatan-kegiatan ataupun pengadaan yang sifatnya prioritas sudah kami selesaikan hampir 80%. Namun tetap saja masih terasa belum cukup.

Ketenangan dalam persiapan kelahiran anak

Satu hal yang membuat saya cukup tenang adalah, jika ada kekurangan nanti bisa ditambahkan ketika bayi sudah lahir. Ya, logis, relaistis  dan terukur untuk dilakukan. Namun ketenangan yang dihadirkan oleh pandangan ini tidak pernah bertahan lama ketika pembahasan terkait dengan Persiapan kelahiran anak terpapar dalam pembicaraan dengan istri saya.

Psikis Persiapakan kelahiran anak

Memang persiapan yang sifatnya fisik bisa dilakukan secara cepat ketika bayi sudah lahir. Selama persiapan keuangan matang dan alokasinya sudah ditetapkan maka pembelian adalah kegiatan yang mudah dilakukan. Sayangnya persiapan kelahiran anak tidak hanya belanja fisik, persiapan psikis pun merupakan aspek yang perlu diperhatikan. Persiapan psikis ini bukanlah hal yang bisa dibeli dan langsung dapat digunakan.

Perasaan apakah saya sudah siap untuk menjadi Ayah, apakah saya siap menjadi sosok lelaki yang mampu mendidik anak saya kelak, apakah saya mampu mengoptimalkan peran saya sebagai suami bagi istri saya sekaligus menjadi ayah bagi anak saya, dan pertanyaan-pertanyaan lain itu lah yang selalu membuat saya merasa perisapan kelahiran anak saya ini belum cukup.

Pilar Utama Persiapakan kelahiran anak

Di lain sisi saya harus siap untuk menguatkan istri yang juga memikirkan hal serupa. Sebagai suami saya merasa tidak bisa mempertunjukan kebingungan saya, ketidakyakinan saya serta ketidaksiapan untuk menyambut buah hati yang akan lahir.Pada titik ini saya menyadari mengapa sosok ayah jarang bisa menunjukan atau mengekspresikan perasaannya. Mengapa? Karena suami secara tidak langsung terlatih untuk memendam emosinya untuk menguatkan anggota keluarganya.

Pada titik ini saya menyadari mengapa sosok ayah jarang bisa menunjukan atau mengekspresikan perasaannya. Mengapa? Karena suami secara tidak langsung terlatih untuk memendam emosinya untuk menguatkan anggota keluarganya.

Seorang suami merupakan pilar utama yang harus kuat baik sisi psikisnya untuk memberikan ketengangan, solusi dan mengambil keputusan saat anggota keluarga lain sedang dalam posisi tertekan ataupun down. Dan hal tersebut dimulai dan harus dilatih pada masa persiapan kelahiran anak.

Menguatkan Psikis Suami Persiapan Kelahiran Anak

Panjang lebar sudah saya bercerita tentang persiapan kelahiran anak khususnya terkait hal-hal yang merupakan masalah. Rasanya tidak adil jika saya hanya membagi permasalahan saja. Toh menanti kelahiran adalah pengalaman yang menarik. Ada hal-hal yang sering saya lakukan untuk meringankan beban atau tekana akan persiapan kelahiran anak. Salah satunya yang paling membantu adalah dengan ngobrol dengan teman. Bagi pria ngobrol, nongkrong ataupun kongkow merupakan “rekreasi” untuk menghilangkan tekanan psikis yang ada.

Jadi bagi para Istri yang kebetulan mampir ke Imaos.id, berikan sedikit ruang nongkrong bagi suami ya paling tidak 1-2 hari dalam seminggu untuk suami nongkrong. Namun perlu diingat juga bagi para suami kalau sudah diberi ijin nongkrong ya nongkrongnya jangan sampai larut malam, ingat di rumah ada istri yang sudah hamil tua.

Nongkrong menyokong persiapan kelahiran anak

Tidak ada salahnya juga jika suami meminta ijin kepada istri untuk nongkrong dengan mengutarakan alasan nongkrongnya. Seorang istri pun pasti memahami kok kondisi suaminya yang cukup stress dengan tekanan yang dialami. Komunikasi suami istri adalah kunci utama untuk penguatan psikis kedua belah pihak dalam upaya penguatan psikis persiapan kelahiran anak.

Kiranya sekian dulu, saya mau pulang dulu ya om, mas, lik. Tadi ijinnya ke istri untuk nongkrong tapi jadinya malah membuat artikel. Semoga artikel ini membantu om-om, mas-mas dan lik-lik sekalian yang sedang melakukan persiapan kelahiran anaknya, semoga lancar dan keluarga selalu diberikan kesehatan.. ciao…