“Kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda adalah ideologi.” Kutipan dari Tan Malaka ini menggugah saya untuk menulis di Imaos.id. Namun apakah benar ketika sudah tua segala hal yang berkaitan dengan ideologi itu memudar? Apakah ketika sudah berkeluarga seorang pria seketika berubah menjadi pragmatis? Mari kita bedah pertanyaan-pertanyaan seputar anggapan pria yang semakin tua ideologi semakin memudar. Kita mulai dari hal yang sederhana, lelaki yang sudah berkeluarga sulit untuk nongkrong. Pada awalnya saya menolak hingga pada akhirnya sayapun memasuki jenjang kehidupan pernikahan dan memiliki anak, dan saya akui ya, kami yang sudah menikah dan memiliki anak sebagian besar memang sudah sulit untuk nongkrong dan membahasa hal-hal yang dulunya sering kami diskusikan ketika nongkrong. Kadang kurangnya waktu untuk nongkrong dan berkumpul dengan kawan membuat persepsi bahwa pria semakin tua ideologinya semakin memudar.

Semakin tua ideologi semakin memudar

                Kehidupan berkeluarga memiliki magisnya tersendiri, mengapa? Karena secara disadari atau tidak seorang pria akan lebih memikirkan keluarganya dibanding dirinya sendiri. Paling tidak hal itu lah yang saya rasakan. Istri sebetulnya tidak melarang saya untuk nongkrong atau sekedar bertemu dengan teman. Namun dalam diri saya terkadang muncul pemikiran yang sederhananya berkata seperti ini “ wah nggak enak juga sih kalau nongkrong sampe malam” atau sekedar “hmm kasian istri sudah capek seharian masa ditinggal nongkrong’. Mungkin ini yang sering dipersepsikan orang lain sebagai suami takut istri. Padahal di sisi istri mungkin dia tidak mempermasalahan jika suaminya mau nongkrong atau tidak. Anggapan suami takut istri ini adalah salah satu hal yang mendasari pandangan pria semakin tua ideologinya semakin memudar, kenapa? Karena api pemberontakannya sudah padam, dipadamkan oleh istrinya.

                Selain itu mereka yang sudah menikah baik yang sudah memiliki anak atau tidak sering dianggap berbeda dengan dirinya yang dulu. Hal ini mungkin didasari ketika ikut nongkrong pembicaraan yang diangkat oleh orang tersebut berbeda dengan dia yang dulu. Obrolannya tidak lagi kritis, atau sesederhana bercandaannya pun sudah berbeda. Mereka yang sudah menikah sering dianggap tidak asik karena kedua hal ini. Menurut saya hal ini wajar, mengapa? Karena mereka yang sudah berkeluarga  memiliki daya jelajah atau lingkar pergaulan yang sempit. Kedua hal ini membuat mereka tidak lagi memiliki bahan pembicaraan sebanyak ketika mereka dulu lajang. Mereka yang sudah menikah sudah lebih banyak disibukan dengan pikiran-pikiran tentang bagaimana memenuhi tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga dan itu bukanlah hal yang ringan. Semakin tua ideologi semakin memudar mungkin benar namun yang memudar tidak berarti hilang.

Memudar tidak berarti hilang

                Persepsi tentang pria semakin tua ideologi semakin memudar, sedikit banyak sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Sedikit banyak pula saya sepakat dengan hal tersebut. Namun, tidak sepenuhnya. Mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak tidak serta merta melupakan ideologinya atau melupakan semua bacaan-bacaan yang telah mereka baca sebelumnya. Tidak sedikit pula bapak-bapak yang masih mencari bacaan-bacaan yang serupa dengan bacaan mereka terdahulu. Jika luang cobalah bung-bung datang ke toko buku paling tidak anda akan menemukan minimal 1 bapak-bapak yang mencari buku bacaan. Ya memudar mungkin iya, kalau hilang jelas tidak.

                Semakin tua ideologi semakin memudar, namun saya yakini bapak-bapak yang dulunya suka ke kiri-kirian masih mengenal marx dan angels. Bapak-bapak yang mudanya suka berstatement bahwa dirinya nihilis pun masih memahami tentang zarthustra yang ditulis oleh Nietzsche. Dan saya sampai kapanpun masih tidak sepakat denga F. Fukuyama yang mengatakan Sejarah telah usai kapitalisme menang. Socrates pernah berkata “ beruntunglah mereka yang menikah, jika mereka mendapatkan istri yang baik dan mengerti maka mereka akan menjadi manusia yang bahagia, dan jika tidak mereka akan menjadi seorang filusuf.