Pekerjaan yang kian padat membuat saya berusaha memaksimalkan waktu sebaik mungkin. Sebelumnya, saya baru akan beranjak dari rumah pukul 09:00 setelah menghabiskan waktu bersama Nala (anak perempuan saya). Karena biasanya menuju jam 09:00 Nala akan mengantuk dan tidur. Baru setelah itu saya berangkat.

Tapi tidak pada hari Jumat, 21 Februari 2020. Hari itu saya berangkat 2 jam lebih awal dari biasanya. Hari Jumat itu adalah hari yang begitu melelahkan dari puncak minggu ini. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, banyak acara yang harus saya hadiri, juga berbagai program yang sedang saya rancang dengan tim akan diluncurkan di minggu selanjutnya—sesuatu yang saya harus benar-benar terlibat penuh.

Hari itu saya meninggalkan kebiasaan untuk bercengkerama dengan Nala, yang kini sudah bisa membalas obrolan ‘bahasa bayi’ saya. Ia juga sudah mampu tengkurap dengan sempurna serta memberi senyum dan gelak tawa terbaik untuk saya. Itu adalah satu hal yang begitu mahal sebenarnya. Namun ada pilihan-pilihan yang kadang benar-benar tidak adil untuk dipilih.

BCL dan khotbah Jumat

Jumat kemarin, jika saya baca dan ingat kembali, saya menghabiskan waktu membaca perihal kehilangan, di sela waktu rehat koordinasi pekerjaan dengan tim. Pagi-pagi sekali sudah ada bisik-bisik perihal kehilangan yang dialami Bunga Citra Lestari. Sesuatu yang memang muncul di berbagai media dengan berbagai berita yang ‘dibumbui’ sedemikian rupa dengan judul yang alah embuh kui opo.

Berlanjut ketika Shalat Jumat, khatib mengangkat materi khotbah perihal kendaraan badan. Bahwa setiap dari kita yang masih hidup hari ini tidak pernah tahu seberapa jauh kendaraan badan kita akan menempuh perjalanan di dunia. Ada yang bahkan dalam kandungan sudah harus kembali, ada yang sempat melihat dunia pun dipanggil kembali, lalu ada yang di usia balita ketika kedua orang tuanya sedang begitu senang-senangnya lantas diminta kembali.

Kita benar-benar tidak tahu, akan sejauh mana perjalanan kita di dunia ini. Di persimpangan ke berapa kita akan diminta untuk kembali. Apakah setelah mampu melewati masa remaja, atau setelah menikah, setelah memiliki anak, atau setelah memiliki cucu?

Perihal kembali yang tidak seorang manusia tahu kapan dan di mana, khatib menekankan kalimat, “apakah kita akan lebih dahulu dari anak kita? Atau anak kita yang justru akan kembali lebih dulu? Apakah kita lebih dahulu dari istri kita, atau sebaliknya? Tidak ada yang tahu.

Mendengarkan khotbah Jumat kali ini, saya menangis.

Khotib benar-benar merogoh isi dada saya. Kalimat “apakah kita akan lebih dahulu dari anak kita? Atau anak kita yang justru akan kembali lebih dulu?” terngiang-ngiang selepas pulang Jumatan dan terbawa serta di jam makan siang. Saya kangen Nala. Saya memejamkan mata berkali-kali untuk meyakinkan bahwa semua akan berjalan ideal sesuai yang ada di kepala saya.

Perihal kehilangan dari berita Merapi News

Salah satu akun Twitter yang saya nyalakan lonceng notifikasinya adalah Merapi News. Tepat pukul 15:52 muncul tweet dari @merapi_news dan seketika saya tidak dapat bergerak. Kemudian menit-menit selanjutnya perkembangan informasi yang disampaikan oleh @merapi_news kian membuat saya tidak dapat menahan perasaan emosional saya.

Usai melihat foto, cuplikan video, serta membaca perkembangan peristiwa kegiatan pramuka susur sungai siswa SMPN 1 Turi Sleman yang berujung duka, seketika muncul dalam benak saya bayangan-bayangan bagaimana perasaan orang tua siswa siswi ketika mendapatkan kabar ini. Saya lemah. Saya tidak sanggup membayangkan.

Jam 16:30 saya memutuskan meninggalkan tim yang sedang bekerja keras untuk acara tanggal 22 dan 24. Bayangan saya sudah sampai pada Nala. Saya ingin bertemu Nala.

Pukul 17:10 di rumah saya pandangi Nala yang sedang tertidur. Saya perhatikan bagaimana senyumnya, cara tidurnya, yang adalah cermin diri saya juga cerminan istri saya. Saya tidak dapat membayangkan kehilangan senyum itu.

Ketika mertua saya menyalakan TV dan reporter menyampaikan informasi perihal korban meninggal dari kegiatan Susur Sungai Pramuka SMP di Sleman, saya menangis lagi di hadapan Nala yang tertidur. Diam-diam saya berdoa, jika suatu saat nanti ketika tiba waktunya untuk kembali, saya ingin dipanggil lebih dahulu daripada anak-anak saya. Ini pahit, tapi itu selemah-lemahnya kemampuan merasakan kehilangan seorang Ayah atas anaknya.

Berkomentar perihal kehilangan

Sebelum saya menikah dan dikaruniai seorang anak, peristiwa kehilangan tetap terasa pahit dan gelap, namun tidak sepahit dan segelap saat ini. Bagaimana pun kehilangan orang terdekat, kehilangan orang tua, kehilangan sahabat, kehilangan kekasih, adalah hal yang menyakitkan. Namun membayangkan kehilangan seorang anak adalah sakit yang bahkan tidak mampu saya bayangkan.

Perihal terseret arus, saya pun punya pengalaman menyaksikan bagaimana sahabat saya terseret arus di Sungai Progo. Alhamdulillah sahabat saya masih menjalani kehidupan sampai hari ini. Sahabat saya saat itu sudah kehilangan kekasih, dan karena itu ia kehilangan semangat hidup. Maka ketika ia terseret arus di Sungai Progo, pikiran saya adalah, “apakah dia berusaha untuk bunuh diri? Apakah semenyakitkan itu kehilangan kekasih?

Pertanyaan itu terjawab ketika akhirnya saya mengalami hal yang sama. Saya pun pernah kehilangan kekasih.

Kemudian, baru saja di sebuah grup WhatsApp ada yang begitu tidak dapat saya pahami dalam komentar orang lain atas kehilangan berkaitan pada peristiwa kegiatan Pramuka di SMP 1 Turi.

Untuk seseorang yang belum berkeluarga, belum memiliki anak, dan belum pernah jatuh cinta juga patah hati, maka seharusnya saya paham. “Jika kehilangan kekasih saja dia belum pernah, lantas ia hendak berkomentar tentang bagaimana merasakan kehilangan seorang anak? GBLK.

Ditulis oleh Ryan Ari Rap | Disunting oleh Vikra Alizanovic