Peran ayah di era milenial yang membesarkan generasi alpha menjadi sebuah tantangan yang menarik. Menjadi Ayah merupakan pengalaman yang sangat menakjubkan bagi saya. Saya merupakan anak pertama dari keluarga saya, dan anak saya merupakan cucu pertama dari ayah saya. Perihal cucu pertama ini mulai menimbulkan kegelisahan bagi saya dan istri terkait merawat anak. Sebab, pola kami merawat di era modern ini sering bersinggungan dengan pola merawat orang tua zaman dahulu.

Setiap orang tua pada zamannya memiliki informasi yang berbeda-beda dan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Di zaman ayah dan ibu saya terdapat keyakinan dan aturan tersendiri mengenai perawatan dan perlakuan bayi. Walaupun pada akhirnya keyakinan ini mempunyai tujuan yang baik untuk tumbuh kembang si bayi.

Perbedaan orang tua zaman dahulu dan orang tua milenial

Berikut adalah beberapa contoh aturan dan keyakinan orang tua zaman dahulu vs. orang tua era milenial:

  • Ortu Jadul           : Anak harus dibedong (dililit kain) agar pertumbuhan kaki tidak bengkok (berbentuk O) serta cara berjalannya tidak mengangkang.
  • Ortu Milenial    : Anak tidak perlu dibedong (dililit kain) berdasarkan informasi dari dokter di RS karena anak sudah diberikan vaksinasi polio agar kakinya tidak bengkok atau mengalami lumpuh layu. Bayi cukup diselimuti agar tidak kedinginan.
  • Ortu Jadul           : Anak diberikan bangle di kasur maupun dijadikan kalung (Zingiber cassumunar Roxb.) agar ibu dan bayi tidak diganggu mahluk gaib.
  • Ortu Milenial    : Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) kegunaannya bukan untuk menangkal mahluk gaib, tetapi berguna untuk membantu anak agar tidak rewel/susah tidur dengan cara diparut lalu dibalurkan ke tubuh bayi agar mendapatkan rasa hangat.
  • Ortu Jadul           : Bayi dengan kondisi rambut yang sedikit/tipis dapat dibuat tumbuh dengan tebal bila dilakukan pemotongan yang sering dalam waktu 6 bulan pertama kelahiran.
  • Ortu Milenial    : Rambut anak yang tipis atau tebal merupakan genetik bawaan dari orang tua atau genetik dari generasi sebelumnya yang diturunkan ke gen bayi. Sehingga meski dipotong dengan sering, rambut tetap akan sama kondisinya.

Kehidupan memang serasa sempurna dengan hadirnya keturunan. Rasa ketika mengemban peran sebagai seorang ayah di era milenial seolah membuat kita merasa selalu siap dengan berbagai kondisi yang akan dihadapi nantinya. Akan tetapi, menjadi seorang ayah tidaklah mudah. Sebagai seorang ayah, kita harus mampu tegas dan bisa mengambil keputusan untuk setiap aktivitas atau kegiatan si bayi, baik di dalam keluarga sendiri maupun di dalam keluarga istri. Sebab, akan banyak suara-suara/masukan yang harus dilakukan sesuai dengan kemauan lingkaran keluarga besar.

Ketakutan dalam Peran Ayah di era Milenial

Adapun ketakutan ayah milenial adalah sebagai berikut terkait merawat/membesarkan generasi alpha:

  • Anak mudah terpapar informasi dari orang asing dan internet
  • Anak lebih tenang dan bisa diatur bila diberikan gadget
  • Kesibukan orang tua membuat waktu 24 jam terasa kurang dalam sehari untuk mengawasi pertumbuhan anak (hubungan interpersonal dangkal)
  • Ketakutan akan kesehatan anak (perubahan cuaca dan pola makan)
  • Biaya sekolah yang tinggi
  • Kesenjangan sosial di sekolah maupun di pergaulan yang membuat anak merasa minder atau timbul rasa iri yang memaksa harus bisa memiliki (mempunyai mental instan)
  • Aksi bullying

Perihal di atas menjadikan peran ayah di era milenial menjadi amat seru, menarik, serta menantang kita menjadi yang paling sempurna di antara ayah lainnya. Karena cara merawat anak saat ini berbeda-beda dari setiap ayah. Oleh karena itu, kita bisa berimprovisasi dengan menyesuaikan kebutuhan yang cocok bagi anak kita.

Penulis : Panji Prasetyo Putra / Penyunting : Vikra Alizanovic