Momen haru ayah adalah kejadian yang membuat perasaan seorang lelaki bisa luluh lantah bahkan hancur berkeping-keping. Kisah ini saya alami sebagai seorang ayah dari anak lelaki usia 1,5 tahun.

Anak di usia tersebut adalah masa lucu-lucunya. Tahap perkembangan anak di usia 1,5 tahun sudah bisa memproduksi silabe dan sedang belajar memproduksi kata. Bahkan, sejak anakku berusia 1,2 tahun ia sudah bisa memanggilku ayah.

Ya, aku mengajarkan anakku untuk memanggilku ayah dan memanggil istriku dengan sebutan ibun. Setiap malam, aku membacakan cerita binatang kepada anakku, sedangkan istriku menceritakan aktifitas keseharian kami. Itu adalah rutinitas di keluarga kami.

Ternyata, kebiasaan istri yang menceritakan aktifitas kami sehari-hari menstimulus anakku untuk mengucapkan kata ayah. Ia berhasil menguasai kata itu di usia 1,2 tahun tetapi ia sampai usia 1,5 tahun belum bisa mengungkapkan kata ibun.

Bagi sebagian orang, mereka menganggap ini adalah bentuk kedekatan yang berhasil dibangun oleh ayah kepada anaknya. Tapi jika dikaji dengan fonologi, penyebutan kata ayah lebih mudah daripada kata ibun karena kata ayah hanya melibatkan bunyi vokal dan semi-vokal, sedangkan kata ibun melibatkan artikulasi bilabial.

Bagiku, ada rasa bangga dan cemas saat anakku lebih sering memanggil ayah daripada ibu. Rasa bangga karena ada kedekatan antara ayah dan anak tetapi rasa cemas jika saya tidak bisa selalu ada saat ia butuhkan.

Momen Haru Saat Ayah Tidak Bisa Berbuat Banyak

Kisah ini bermula saat anakku selama seminggu sakit flu dan batuk. Setiap malam ia batuk kering yang berkepanjangan sehingga membuatnya sulit tidur. Hal itu membuatnya tidak nyaman sehingga membuatnya rewel berkepanjangan.

Tenggorokan yang gatal akibat batuk membuatnya tidak memiliki nafsu makan. Bahkan, anakku juga tidak mau untuk minum susu formula. Ia hanya mau mengkonsumsi ASI dari ibunya. Di satu sisi, memberikan asi terus menerus membuat tubuh istriku lemas dan tertidur.

Di sisi lain, saya hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan apapun. Ya, kodrat menyusui hanya dimiliki oleh perempuan. Sebagai suami, saya hanya bisa mensupportnya untuk terus bisa memberikan ASI ekslusif kepada anak kami. Di kondisi seperti itu, rasanya lelaki tidak berdaya karena kodrat yang sudah ditentukan.

Saya hanya bisa melihat anakku sakit tenggorokan, batuk, dan pilek. Saya juga hanya bisa melihat istri yang kelelahan karena menyusui terus-menerus. Saat saya coba buatkan susu formula untuk menggantikan ASI, anakku menangis meronta karena kenyamanan tenggorokannya hanya ada pada ASI ibunya.

Hal itu membuatku berharap, semoga waktu cepat berjalan sehingga anakku cepat tumbuh besar agar tidak tergantung lagi dengan ASI ibunya. Dengan harapan, jika anakku tidak tergantung dengan ASI ibunya maka saya bisa mengambil peran lebih untuk menjaga keluargaku.

Ayah, Sakit!

Seminggu sakit batuk, pilek, dan flu membuat anakku tidak memiliki nafsu makan. Berat badannya menjadi turun. Senyumnya seakan tidak bisa lepas karena rasa tidak nyaman dalam tubuhnya. Dan, ternyata hal itu mempengaruhi sistem pencernaannya.

Akibat sakit, selama seminggu anakku hanya mau minum ASI sehingga asupan serat dan gizinya kurang. Bahkan, saat ia sehat biasanya bisa menghabiskan satu liter air putih sehari. Tapi, sakit membuatnya tidak memiliki nafsu untuk minum air putih juga.

Akumulasi pola konsumsi seperti itu membuat pencernaannya terganggu. Anakku mengamali sembelit karena kurangnya serat dalam tubuhnya. Akhirnya, ia menangis meronta-ronta kesakitan saat ingin buang air besar.

Suatu malam, anakku mendadak bisa mengucapkan “ayah, sakit!” berulang kali. Ia mengucapkannya sembari menangis dengan kencang. Saat itulah aku merasakan sakit luar biasa. Sakit karena melihat anakku kesakitan. Ya, momen haru ayah!

Saat pertama kali aku mendengar anakku mengucapkan kata sakit dengan jelas. Kata yang sebelumnya tidak pernah ia ucapkan. Kata yang biasanya hanya ia dengar dari ibunya sebelum tidur. Kata yang hampir tidak pernah kami ajarkan untuk diucapkan.

Ia berhasil mengucapkannya dengan jelas. Ia berhasil menggunakan artikulasinya dengan pas untuk mengatakan ayah dan sakit sembari menangis kencang.

Pengalaman sembelit yang baru ia rasakan pertama kali. Pengalaman pertamaku dipanggil namanya saat ia menangis kesakitan. Itu adalah momen haru yang kurasakan sebagai ayah!