Ijinkan saya memperkenalkan diri kepada bung-bung pembaca Imaos.id. Aranius, begitu biasanya saya memperkenalkan nama saya. Tahun 1992 saya lahir di Prabumulih Sumatra Selatan, namun saya lebih banyak menjalani hidup di Banyumas. Tahun 2021, setelah 5 tahun lamanya saya menjaga asa mencari kerja, impian saya tercapai yaitu mendapatkan pekerjaan sebagai abdi negara. Bung-bung Imaos yang budiman, Ijinkan saya membagi sedikit pengalaman hidup saya yang mungkin saja dapat memberikan hal-hal yang positif bagi anda yang hingga saat ini masih menjaga asa mencari kerja demi keluarga.

Menjaga Asa Mencari Kerja Demi Keluarga: Langkah Awal

Lulus di tahun 2016 setelah 6 tahun berkuliah bukan lah modal yang baik untuk mendapat pekerjaan. Meski secara nilai akademik saya terbilang baik namun lamanya waktu yang saya habiskan untuk menyelesaikan kuliah adalah hal yang selalu menjadi batu sandungan dalam mencari kerja. “ selama kuliah ngapaian aja mas, kok lama lulusnya?” sebuah pertanyaan yang selalu menjadi momok ketika saya menjalani wawancara kerja. Sayangnya momok itu tidak pernah bisa saya lewati dan memang menjadi tembok yang tidak pernah saya runtuhkan.

Belajar dari pengalaman itu untuk tetap menjaga asa mencari kerja demi keluarga saya, sayapun harus mencoba cara lain, salah satunya dengan mencari pekerjaan yang tidak banyak menggunakan wawancara sebagai tahapan seleksinya. Selama perjalanan hampir 2 tahun setelah lulus akhirnya saya mendapatkan pekerjaan. Betul rupanya akhirnya saya mendapatkan pekerjaan yang tes perkejaannya tidak mengeksploitasi kelemahan saya di tahap wawancara, paling tidak pertanyaan tentang selama kuliah ngapain aja kok lama lulusnya tidak terlontar dari pewawancara. Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di salah satu Instansi Pemerintah Daerah di kota saya tinggal.

Menjaga Asa Mencari Kerja Demi Keluarga: Mulai berfikir ulang

Bekerja di Instansi Pemerintah Daerah sebagai pegawai kontrak ternyata tidak serta merta meredakan kecemasan saya akan masa depan saya. Pemberian kontrak yang diperbarui setiap tahun, ternyata ampuh menumbuhkan kecemasan baru bagi saya. “Kalau tahun depan ndak diperpanjang gimana ya?”, Pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya. Oleh karena itu akhirnya saya kembali aktif mencari kerja demi keluarga, sembari tetap menjalankan tugas-tugas saya sebagai pegawai kontrak.

Mengikuti test CPNS adalah opsi yang ideal bagi orang-orang seperti saya yang tidak pernah beruntung di tes wawancara. Hal ini dikarenakan cukup banya instansi pemerintah yang tidak menggunakan test wawancara ketika melakukan seleksi. Atas dasar itu setiap ada pengumuman seleksi CPNS, saya selalu ikut mendaftar namun hasilnya sama seperti kebanyakan orang yaitu gagal. Kegagalan yang berulang membuat saya down namun ketika melihat kembali bahwa ada keluarga yang harus saya hidupi mau tidak mau saya harus bangkit kembali.

Menjaga Asa Mencari Kerja Demi Keluarga: Tak pernah salah menjaga asa

Tahun 2019, tahun yang tidak pernah saya lupakan. Tahun dimana semua perjuangan saya akhirnya terbayarkan. Tanggal 30 Oktober 2019 sebuah file PDF dari salah satu Kementerian di Indonesia, tertera nama saya sebagai calon abdi negara yang terpilih untuk mengabdi. Memang menjaga asa mencari kerja demi keluarga tidak pernah salah. Memang betul kata orang-orang terdahulu yang mengatakan usaha tidak pernah mengingkari hasil.

 Hal yang saya pelajari betul khususnya untuk test CPNS adalah, Musuh kita bukanlah peserta lain, namun musuh kita adalah diri sendiri. Mengapa? Karena test PNS saat ini menggunakan metode passing grade untuk kelulusannya baik di SKD maupun SKB. Ketika berbicara masalah Passing grade berarti itu adalah masalah kemampuan diri kita untuk melampaui standar yang sudah ditetapkan oleh instansi yang akan kita tuju. Untuk bung-bung yang membaca ini dan mengalami nasib mirip dengan saya, tetaplah menjaga asa mencari kerja demi keluarga. Jangan biarkan api asa membahagiakan keluarga padam dengan alasan apapun.