Sebagai media parenting dan finansial untuk pria, imaos.id memfasilitasi para lelaki untuk sharing tentang pengalaman luar biasanya. Kisah dari Abraham Zakky Zulhazmi (penulis sekaligus dosen) ini menginspirasi kita menjadi ayah yang baik untuk anak.

Hari hampir gelap. Saya berada di kamar menemani anak saya yang sedang bermain. Sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Biasanya, setelah sembahyang, saya akan menjemput istri di jalan raya tak jauh dari rumah, tentu bersama anak saya. Istri saya bekerja di Jogja, sementara rumah kami di Solo. Justru istri saya yang memilih “pulang pergi” naik kereta atau bus. Rumah kami dekat dengan tempat saya bekerja.

Momen ketika menemani anak bermain hari itu membuat saya merenung. Betapa beruntungnya saya dapat bekerja dekat dengan rumah. Meski bekerja di luar kota, istri saya merasa Jogja-Solo bukan jarak yang terlampau jauh. Ketika saya sedang bekerja dan istri juga bekerja, anak saya diasuh seorang ART yang masuk pukul tujuh dan pulang pukul empat sore.

Menjadi Ayah Seperti Ayahku

Saat sedang berdua dengan anak laki-laki saya yang saat itu berusia dua tahun, pikiran saya tiba-tiba mengembara ke masa ketika saya kecil dulu. Ketika saya masih usia tujuh bulan, ibu saya harus bekerja di Pontianak, Kalimantan Barat. Saya tinggal bersama ayah saya di Ponorogo. Ibu baru “kembali” dan ditempatkan di Ponorogo ketika saya kelas satu SD. Praktis, masa kecil saya lebih banyak bersama ayah saya. Setiap lebaran, ibu memang pulang kampung ke Ponorogo, tapi tidak lama, karena liburnya terbatas.

Ketika sudah punya anak, dan sedang berada di momen hanya berdua dengan anak seperti sore itu, saya teringat ayah saya. Betapa dulu tidak mudah mengasuh saya; anak pertama, jauh dari istri. Memang ada kakek-nenek dan paman-bibi yang ikut membantu mengasuh saya, tapi tanggung jawab utama tetap ada pada orang tua.

Saya masih ingat saat ayah mengantar saya ke TK setelah sebelumnya sarapan soto bersama. Saya juga masih ingat diajak ayah mengirim telegram untuk ibu. Juga masih terkenang perjalanan naik kapal laut ke Kalimantan menjenguk ibu saat libur sekolah.

Tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri kebersamaan bersama anak. Bisa menemaninya bermain dan melihatnya tumbuh. Mendengar cerita teman dosen yang harus LDR saat menjadi ayah dari dua anaknya yang masih kecil menambah rasa syukur. Ketika dua anak dan istrinya bisa berkumpul di Solo, saya termasuk yang merasa paling gembira. Ini mungkin terdengar sentimentil dan terlalu berlebihan. Tapi jika bisa memilih, saya kira, tak ada orang tua yang mau berjauhan dengan anaknya, apalagi anak yang masih balita. 

Ini juga mungkin terdengar belebihan: yang membuat saya “berat” untuk berangkat Latsar selama satu bulan meninggalkan rumah adalah harus berjauhan dengan anak. Namun, setelah sadar bahwa itu adalah “tugas negara” dan merupakan tahapan yang wajib dilalui CPNS, saya pun menguatkan diri. Terpujilah penemu teknologi video call, nyatanya bisa jadi wahana penghapus rindu. 

Saat anak saya sudah tidur, kerap saya memandangi wajahnya lekat-lekat. Melihat anak saya rasanya seperti melihat saya kecil dulu, yang orang tuanya sama-sama bekerja kantoran, dari pagi sampai sore, yang kadang lembur. Sering juga Sabtu Minggunya masih untuk kantor.

Bayang-bayang masa kecil acapkali melintas. Sering kali saya terkenang ketika kecil dulu diantar nenek saya berangkat sekolah TK. Pulang sekolah saya berbisik ke nenek untuk dibelikan sekadar jajan di toko tak jauh dari sekolah.

Saya juga tidak lupa bulik-bulik yang ketika kecil mengasuh saya. Tentu saya tidak menyalahkan ibu saya yang harus bekerja di Kalimatan saat saya berusia tujuh bulan, sebab itupun adalah “tugas negara”. Saya hanya berharap, saya dan istri bisa menemani anak tumbuh dan berkembang semaksimal mungkin. 

Cerita yang sering saya dengar: dulu saya tak mengenali wajah ibu saya tiap kali ia pulang kampung jelang lebaran. Saya mengira ia adalah tamu yang bertandang ke rumah. Ibu saya tentu menangis, mendapati anaknya tidak mengenalinya.

Nenek saya pun ikut pecah tangisnya demi melihat adegan itu. Lucunya peristiwa itu terulang di sejumlah lebaran. Maklum, saat itu saya masih kecil, masih terlalu polos. Wajar “tidak kenal ibu”, karena sejak tujuh bulan sudah “ditinggal merantau”.

Boleh jadi kini saya telah sampai pada satu kesimpulan: (meski berat) selalu sediakan waktu untuk anak. Sebab, waktu berlari begitu cepat. Seorang anak bisa begitu lekas jadi dewasa, dan akan “berjarak” dengan orang tuanya.

Maka, ketika anak saya keranjingan kereta dan hampir setiap sore minta nonton kereta di stasiun kecil dekat rumah, berusaha saya turuti. Termasuk ketika berkali meminta mainan kereta. Malam hari, sebelum tidur, sebisa mungkin saya juga bercerita atau membacakan cerita untuknya, sesutu yang anak saya suka.

Menanamkan Nilai Kebaikan dan Selalu Mendoakan Anak

Gus Baha, dai yang otoritas keilmuannya tidak kita ragukan, pernah menyampaikan: bersikap longgarlah kepada anak. Jangan sampai anak kecewa dengan ayahnya (orang tuanya). Apa yang anak sukai, jika bisa kita turuti maka dituruti saja. Itu dalam rangka menjaga dan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Orang tua lah yang seharusnya berkewajiban mengajarkan dan mentransfer nilai-nilai itu. 

Kita tahu, di antara yang anak sukai adalah waktu dan perhatian dari orang tua. Sesuatu yang mungkin kini jadi mahal haganya namun terus kita upayakan. Kalau kita belum punya cukup waktu untuk anak? Saya teringat pesan seorang kawan: kita saat menjadi ayah memang tidak bisa 24 jam membersamai dan menemani anak, karena pekerjaan dll, maka luangkan sedikit waktu untuk mendoakan anak kita agar selalu dalam lindungan Tuhan, sebab Ia sebaik-baik pelindung.