Saya tidak tahu caranya menjadi ayah terbaik sedunia, namun saya selalu bisa untuk merawat dan menyayangi anak saya. Banyak teman kantor yang bercerita bahwa fase melahirkan adalah hal yang paling mengerikan untuk sang ayah.

Ada yang dicakar oleh sang istri saat lahiran, ada yang pingsan dan kabur dari ruang persalinan karena tidak kuat. Tapi hal itu tidak berlaku untuk saya. Saya cukup tenang dan santai melihat proses melahirkan untuk memastikan anak dan ibu selamat melewati perjuangan berjam-jam itu. Hingga detik-detik lahiran tiba, saya menjadi sangat tegang.

Kala itu saya terus memberikan support untuk istri yang mulai kesulitan napas dan mengejan, hingga para suster semakin datang berbondong-bondong memenuhi ruangan. Saya  melihat seisi ruang yang semakin ramai. 11 suster dan 2 dokter membantu proses persalinan ini. Ruangan yang penuh menjadi sangat ramai.

Ayo ibu, satu... dua... tiga... ngeden!

Tarik napas ibu!

“Ayo ibu lebih kuat, baby-nya udah mulai keliatan

Kondisi saat itu benar-benar tegang. Hingga 30 menit kemudian, si kecil lahir dan seisi ruangan menjadi lega, tenang, dan penuh dengan senyuman seakan melakukan selebrasi untuk si kecil. Hari itu anak pertama saya lahir dan dimulai lah kisah saya menjadi seorang ayah yang terbaik bagi si kecil.

Permisi, anak arkana,” saut suster.

Iya bu, anak saya,” saut saya

Menjadi seorang ayah terbaik dan menggendong anak pertama kali

Hingga akhirnya muncul sebuah tantangan dari sang istri untuk menggendong si kecil. Saya baru menyadari sesuatu. Ternyata hanya saya yang belum menggendong si kecil dari tadi. Rasa takut muncul, saya takut kenapa-kenapa saat menggendong anak saya sendiri.

Sepertinya banyak yang mengalami hal ini. Saya akhirnya memaksakan diri untuk menggendong si kecil. Alhasil seluruh tubuh saya kaku. Saya berusaha diam di tempat karena takut bergerak. Saat difoto, saya lebih terlihat seperti robot yang tegang dibandingkan menjadi seorang ayah terbaik yang bahagia.

Peran ayah berlaku tak hanya sehari dua hari, namun untuk selamanya

Kedatangan keluarga baru di kehidupan saya cukup membuat kebiasaan saya berubah drastis, sadar atau tidak sadar. Saran saya, persiapkan mental dan kesehatan Anda menjelang kelahiran karena akan banyak kebutuhan yang akan Ayah urus dari sebelum dan sesudah lahiran. Ada baiknya seluruh kelengkapan ibu dan anak sudah dicicil jauh-jauh hari.

Sebelum saya punya anak, saya bekerja sebagai seorang marketing, freelancer desain dan voice over, pegiat kreatif sebagai penyedia konten di instagram, Youtube, podcast dan casual gamer.

Berkompromi agar menjadi ayah terbaik bagi anak

Saat anak saya lahir, saya langsung menghentikan sementara kegiatan freelancer desain dan voice over serta produksi konten Youtube dan podcast. Saya juga mulai mengurangi frekuensi bermain game namun tidak berhenti total. Kenapa? Karena hanya ini hiburan ayah di awal kala si kecil lahir.

Saya sudah tidak sempat nonton di bioskop atau nongkrong di luar. Saya memberikan alternatif untuk mengajak teman-teman saya nongkrong di rumah saya. Kenapa banyak hal yang harus saya hentikan sementara? Karena menjadi ayah terbaik itu tidak serta-merta memastikan anak aman dan sehat. Ibarat sebuah game, kalian adalah player baru yang harus mulai farming dan berpetualang untuk mendapatkan skill baru sehingga menjadi overpowered.

Urusan anak adalah urusan senang-senang berdua

Jujur saja, saya bukan orang yang melakukan metode pengasuhan beragam dan unik seperti yang ada di dunia maya. Yang saya inginkan hanya terbangunnya chemistry antara ayah dan anak.

Saya mulai melatih gendongan saya supaya enak, saya belajar cara mengganti popok anak, dan juga memandikan anak. Saya juga harus menjaga kebahagiaan sang ibu agar aliran ASI-nya tetap sehat dan banyak. Karena, sekalinya sang ibu stres, wah, bisa-bisa ASI-nya mampet. Saya terus memperhatikan kesehatan fisik dan mental anak dan ibu agar tidak terjadi hal-hal seperti baby blues.

Urusan anak itu bukan urusan ibu saja, namun urusan kedua orang tuanya. Apabila kalian adalah seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore, maka pada malam hari bermain lah bersama anak agar ibu punya kesempatan untuk istirahat sejenak. Jangan sampai malah saling lempar tanggung jawab. Anak ini hasil dari tindakan senang-senang kalian berdua, jadi merawatnya juga harus dilakukan berdua secara senang.

Saya tak hanya ingin menjadi sosok ayah di mata anak, namun sebagai sahabat terbaik

Salah satu hal yang terjadi dalam generasi saya adalah hubungan ayah dan anak yang terlalu memiliki banyak gap. Mungkin hal ini tidak terjadi pada banyak orang. Maka dari itu, dari awal si kecil lahir saya selalu membangun komunikasi dan mengajak dia bermain. Jangan sampai kita lupa hal itu dan hanya memberikan dia ASI lalu menidurkannya kembali.

Si kecil tumbuh besar setiap hari. Dia berusaha melihat dan mendengarkan kita. Layaknya kamera, ia merekam setiap gerakan, tutur kata dan wajah kita. Hal itu rupanya nyata adanya. Terbukti saat si kecil menginjak usia 1 bulan. Si kecil menangis terbangun di tengah malam dan saya bergegas menggendongnya.

Dalam kedaan gelap dan si kecil dalam dekapan, muncul sebuah suara tawa kecil yang membuat saya merinding! Saya melihat sekitar untuk mencari asal suara namun tidak ada apa-apa. Situasi menjadi horor. Tiba-tiba suara tawa kecil muncul lagi, saya mulai panik dan memanggil istri saya.

Ketika tawa itu muncul lagi, saya dan istri baru sadar, rupanya tawa kecil itu muncul dari si kecil yang baru saja bisa tertawa. Perasaan lega, senang dan excited pun langsung menghilangkan nuansa horror yang terjadi malam itu.

Penulis : Faris Jauh / Penyunting : Vikra Alizanovic