Menjadi ayah yang tersayang di mata anak butuh usaha keras. Beberapa waktu lalu, salah satu konten Imaos.id mempublikasikan artikel ‘Tak Perlu Menjadi Ayah Terbaik Sedunia, Cukup Menjadi Ayah Tersayang Bagi Anak Saya’. Hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Memang menjalin ikatandengan anak dengan menghabiskan quality time itu penting. Namun ada beberapa hal yang mungkin dirasa sulit, yakni mengemban peran seorang ayah.

Belajar menjadi ayah adalah sebuah keharusan

Sejak hari pertama akad pernikahan, peran laki-laki terus bertambah dan mengubah hampir seluruh kebiasaan yang dilakukan. Kebiasaan nongkrong, golar-goler, beli barang-barang kesukaan, maupun sekadar berdiam diri sambil menonton serial di Netflix pun tidak lagi mudah dilakukan. Peran sebagai suami menghabiskan banyak waktu dan energi. Belum lagi peran sebagai menantu, peran sebagai anak, maupun peran-peran lainnya. Seperti di lingkungan pekerjaan dan lingkungan sosial.

Kehadiran anak dalam sebuah keluarga memang menjadi dambaan hampir semua pasangan. Akan tetapi, konsekuensinya adalah bertambahnya lagi peran sebagai seorang ayah yang bersifat mengikat dan seumur hidup di mata anak. Manajemen waktu dalam berbagi peran ini tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan tidak sedikit orang yang salah mengambil peran dalam menjalani kehidupannya karena kompleksitas peran yang dimiliki. Misalkan, peran sebagai seorang karyawan dengan tekanan kerja tinggi bisa jadi terbawa saat dia di rumah. Alhasil, masih banyak lelaki yang memiliki kerentanan dalam hubungan keluarga karena kurangnya kesadaran terhadap peran-peran yang dia ambil dalam hidupnya.

Anak tidak mau tahu!

Gamblangnya, anak belum mengerti pembagian peran yang dilakukan seorang ayah di luar rumahnya. Karena di mata anak, belum ada wawasan dan pengalaman yang cukup untuk memahami peran seorang ayah. Bahkan seorang istri yang notabene sudah menjalani hidup bersama pun terkadang bisa salah memahami pembagian peran yang dilakukan oleh suaminya. Persoalan ini memang terkesan sederhana, tetapi masih banyak pasangan keluarga yang tidak mengindahkannya.

Konstruksi Gender dan Dinamika Lingkungan Sosial

Seks adalah jenis kelamin bawaan secara biologis, sedangkan gender adalah konstruksi sosial yang dibangun. Masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat kerap menekan para lelaki untuk menjadi last man standing atau orang yang mampu menangani segala urusan, baik internal maupun eksternal. Seorang lelaki dituntut kuat, tak boleh menangis, atau mengeluh. Air mata seorang lelaki mahal harganya.

Di sisi lain, konstruksi yang terbangun untuk perempuan terkesan memojokkan. Perempuan dikaitkan dengan konsep lemah, sensitif, dan penyayang. Padahal, perempuan bisa lebih kuat dan tangguh daripada lelaki. Akan tetapi, konstruksi yang begitu kuat ini seolah menjerumuskan perempuan pada ketergantungan ke sosok lelaki. Meskipun sudah banyak perempuan saat ini yang sadar terhadap peran miliknya yang sangat besar.

Konstruksi gender seperti ini juga mempengaruhi pengambilan sikap dalam parenting. Tidak sedikit perempuan yang berani meninggalkan anaknya bersama ayahnya dalam jangka waktu lama. Entah karena kekhawatiran terhadap ayahnya yang tidak memberi makan tepat waktu, memandikannya sesuai jam, dan sebagainya. Bahkan, absennya sosok ibu kadang digantikan oleh sosok nenek yang dilanda banyak keraguan atas kompetensi sang ayah.

Fenomena ini sering sekali dijumpai dalam masyarakat Indonesia. Seorang ayah akan sulit untuk mengambil peran menjadi ayah terbaik karena kurangnya kepercayaan di mata lingkungan sekitar terhadap kepiawaiannya mengurus anak. Kecuali memberikannya ASI.

Masih banyak masyarakat—khususnya yang tradisional—yang menganggap lelaki yang mengasuh anak itu adalah pria yang lemah. Masyarakat juga menganggap seorang ibu yang pergi dalam waktu yang lama dan mempasrahkan anaknya pada ayah adalah ibu yang tidak bertanggungjawab. Dinamika sosial inilah yang sering mengatur parenting suatu keluarga sehingga rekonstruksi konsep parenting dalam penyamarataan peran ayah dan ibu menjadi sulit.

Bukan Soal Menjadi Ayah Baik atau Ayah Buruk di Mata Anak

Konsep ayah yang baik atau ayah tersayang terkesan mendikotomikan peran ayah dalam keluarga. Ada ayah baik dan ada ayah buruk. Saya lebih sepakat jika ayah itu adalah lelaki yang memiliki hubungan darah langsung dengan anak. Konsep baik dan buruk lebih condong pada persepsi kebudayaan yang diyakini oleh masyarakat. Di era 70an-90an, seorang ayah yang mendidik anaknya yang nakal dengan cara dipukul mungkin dianggap baik. Namun saat ini hal tersebut bisa dikatakan sebagai kekerasan terhadap anak.

Sebuah film dokumenter berjudul ‘The Babies’ melihat pola asuh orang tua di tiga wilayah berbeda (Jepang, Afrika, Amerika). Film ini menggambarkan bagaimana parenting itu dilakukan secara berbeda di masing-masing wilayah. Dari film tersebut, terlihat dalam kultur parenting Amerika, orang tua sering mengajak main anaknya; kultur parenting Jepang meletakkan anaknya di sebelah orang tua yang sedang sibuk bekerja; dan kultur parenting di Afrika membiarkan anaknya merangkak kesana kemari sembari orang tuanya beraktivitas sendiri.

Tidak ada penilaian baik dan buruk dalam parenting. Hal tersebut bergantung pada budaya yang membentuk masyarakatnya dalam mendidik anak. Di Jawa, banyak sekali orang tua yang mengajarkan anaknya dengan mitos-mitos seperti, “makannya dihabiskan, nanti ayamnya mati.” Bagi orang modern, hal tersebut dianggap kurang baik karena melatih anak untuk berbohong. Tetapi beberapa pihak menganggap hal tersebut bertujuan mengajari anak untuk menghargai alam dan hasil bumi.

Menjadi Ayah di Mata Anak

Ayah adalah sosok yang menjadi role model pertama di mata anak anaknya. Terlepas dari konstruksi gender dan dinamika sosial, menjadi ayah adalah suatu keharusan yang dilakukan oleh lelaki yang memiliki anak. Tidak ada tempat untuk belajar menjadi ayah. Ayah adalah sosok penting di mata seorang anak sehingga ayah harus memposisikan diri dalam mengambil peran bagi anak-anaknya.

Penulis : Ferdi Arifin / Penyunting : Vikra Alizanovic