Mengalami kejadian untuk pertama kali selalu membingungkan. Kebingungan ini cenderung mengarah kepada kepanikan dan kecemasan yang berlebihan, tidak terkecuali ketika mengurus anak yang sakit untuk pertama kali. Pengalaman tersebut baru saja saya alami 1 minggu terakhir ini. Awal mulanya anak saya yang baru 4 bulan ini terlihat lemas dan cukup hangat suhu tubuhnya. Saya sudah merasa tidak nyaman akan hal ini. Betul saja, keesokan harinya istri saya dengan wajah bingung menginformasikan kepada saya bahwa suhu tubuh anak saya 37,7 derajat celsius. Mendengar informasi terebut saya pun ikut bingung dan kepanikan mengurus anak sakit untuk pertama kali pun dimulai.

Kebetulan kejadian tersebut terjadi di hari minggu, saat saya dan istri sedang tidak bekerja. Istri saya langsung menghubungi mertua saya untuk mendapatkan masukan apa yang harus dilakukan. Setelah mendapatkan informasi dari mertua untuk memberikan obat penurun panas, seketika istri saya mengambil obat penurun panas yang memang sudah kami siapkan di rumah untuk antisipasi. Sebelum istri saya memberikan obat, saya langsung mengajak diskusi. Setahu saya bayi masih dikatakan belum demam jika panasnya belum lebih dari 38 derajat celcius. Atas dasar itu akhirnya istri saya mengurungkan niatnya untuk memberikan obat penurun panas kepada anak saya. Sembari menggendong anak saya yang rewel dan terus menangis, saya terus berfikir apa yang harus saya lakukan karena ini adalah pengalaman saya dan istri saya dalam mengurus anak sakit untuk pertama kalinya.

Berharap Anak pulih dengan sendirinya

Di tengah kebingungan saat mengurus anak sakit untuk pertama kalinya, saya tetap percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan sakitnya sendiri. Dan ternyata pendapat ini kurang tepat. Mengapa? Karena saya di hari pertama saya dan istri saya dengan sekuat tenaga bergantian menjaga anak saya yang rewelnya luar biasa karena badannya tidak enak. Sebetulnya yang membuat lelah adalah perasaan kita yang tau anak kita sedang merasa sakit dan berusaha mengatakannya lewat tangisannya yang berbeda dari biasanya. Tangisnya kali ini seolah berkata sakit ma, sakit pa… itu lah sebetulnya yang melelahkan.

Adzan magrib berkumandang dan panas anak saya pun tidak reda. Suhu tubuhnya pun masih berkisar diantara 37,7 – 37,4 derajat celcius. Kepanikan semakin menjadi karena anak saya yang sumber makanannya dari asi, hari ini sangat kurang sekali minumnya. Istri saya juga sudah tidak bisa diajak berdiskusi Karena mungkin sudah sangat bingung harus melakukan apa ketika mengurus anak sakit untuk pertama kali. Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberikan obat penurun panas dengan dosis ½ dari yang dianjurkan. Setelah memberikan obat penurun panas sebanyak 0,3 ml ada perubahan yang terjadi, anak saya lebih tenang dan akhirnya bisa tertidur, namun tidak lama. Akhirnya kamipun terjaga semalaman untuk mengurusi anak kami dan sudah mendaftar ke dokter untuk periksa besok harinya.

Akhirnya kamipun membawa anak kami ke dokter

Senin pagi, saya dan istri saya terpaksa ijin untuk tidak masuk kantor untuk membawa anak kami ke dokter. Akhirnya kamipun sampai kerumah sakit dan mengantri untuk periksa ke dokter anak. Pada cek pertama sebelum masuk ke dokter, panas anak saya masih 37,5 derajat. Tidak lama kemudian panggilan untuk masuk ke ruang periksa pun kami terima. Dokter pun menyapa kami dengan pertanyaan, gimana pak, bu? Anaknya kenapa?. Sayapun menjelaskan kondisi anak saya hingga akhirnya saya bawa ke dokter, dan mengatakan kepada dokter bahwa ini adalah Pengalaman mengurus anak sakit untuk pertama kali. Dan dokterpun tersenyum sambil memeriksa anak saya.

Setelah dokter selesai memeriksa, dokter mengatakan bahwa anak balita jika suhu tubuhnya belum sampai 38 derajat belum dikatakan demam. Dokter juga menambahkan kalau memberi obat pada anak jangan asal ngide untuk takarannya. Untuk obat penurun panas sudah ada ukurannya yang disesuaikan dengan berat badan bayi. Jadi apa yang saya lakukan dengan memberi anak saya obat ½ dari dosis yang disarankan merupakan tindakan yang salah dan jangan diulangi lagi karena dapat berbahaya. Dokter pun memaklumi tindakan saya yang sembrono itu karena hal ini adalah pengalaman mengurus anak sakit untuk pertama kali. Dokterpun menutup pembicaraan sembari meberikan resep obat dengan berkata, “besok lagi kalau bingung harus ngapain ketika anak sakit, langsung bawa ke dokter saja mas, kalaupun ternyata tidak ada masalah kesehatan yang berarti minimal anda akan nyaman karena tahu kalau tidak masalah dan ketika memang ada masalah bisa dapat langsung ditangani. Setelah pengamalan ini saya dan istri saya bersepakat ketika anak sakit, langsung daftar periksa ke dokter anak adalah hal yang langsung dilakukan.