Baru 4-5 bulan saya menjadi ayah dan hingga sekarang masih bingung terkait masalah memilih popok anak. Mari kita mulai dari awal, Sejak anak saya lahir anak saya langsung menggunakan popok dengan mamipoko dengan tipe royal soft. Ketika pulang ke rumah setelah menyelesaikan segala administratif rumah sakit kebingungan pun dimulai. Kebingungan pertama adalah saran orang tua untuk menggunakan popok kain dibanding popok yang biasa disebut “pampers” meski mereknya bukan Pampers. Alasannya adalah agar kulit anak saya tidak ruam-ruam. Akhirnya saya coba mengunakan popok kain dan hanya bertahan 3 hari.

Popok kain memang lebih bersahabat dengan kulit anak. Mungkin karena sirkulasi udara lebih baik, namun repotnya luar biasa. Bayi yang baru lahir bisa buang air sehari 6-7 kali berarti sebanyak itu juga kita yang menggunakan popok kain mengganti popoknya. Selain tumpukan cucian yang menggunang karena seringnya mengganti popok, anak sayapun tidurnya tidak nyenyak karena sering terbangun karena popoknya basah. Ternyata bayi pun bisa rishi bung kalau popoknya basah. Atas dasar itulah saya mengambil sikap untuk menggunakan popok “pampers” supaya anak saya bisa tidur nyenyak, tentu saja dengan persetujuan istri saya. Namun ternyata porblematika memilih popok anak baru dimulai.

Memilih popok anak Berdasarkan pertimbangan ekonomi

Setelah memutuskan untuk menggunakan popok “pampers” langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan kalkulasi. Dasar kalkulasi saya cukup sederhana yaitu menghitung jumlah keperluaan popok anak saya selama 1 bulan. Katakanlah satu hari butuh 7 popok, berarti selama 1 bulan kebutuhan popok adalah 7 dikalika 30 yaitu sekitar 210 popok perbulan. Fantastis bukan jumlahnya, inilah titik krusial memilik popok anak, yaitu popok yang harga berapa?. Untuk menyesuaikan kemampuan ekonomi saya dan jumlah kebutuhan popok saya yaitu sebanyak 210 buah, pada waktu itu anggaran saya adalah dikisaran Rp 2.500 per pcs. Popok yang masuk di range harga ini adalah merek sweety, dan akhirnya sweety kami gunakan selama sebulan hingga akhirnya pilihan popok ini harus kami revisi karena muncul ruam-ruam pada pantat anak.

Melihat dampak ruam-ruam tersebut maka saya dan istri saya memutuskan untuk mengganti popok yang kami gunakan. Setelah berdiskusi dengan istri saya akhirnya kami putuskan untuk kembali kepada merek awal yang digunakan yaitu mamipoko royal soft yang harga per pcs nya sekitar Rp 3000- RP 3500 . Harga yang cukup mahal namun kami tetap paksakan karena mengutamakan kesehatan kulit anak saya dalam memilih popok anak.

Memilih popok anak Berdasarkan pertimbangan Ketersediaan

Penggunaan popok mamipoko royal soft selama 3 bulan aman, sampai masalah baru dalam memilih popok anak muncul yaitu ketersediaan popok. Ternyata, popok pun sering mengalami kelangkaan. Terlebih lagi popok yang ukuran s dan tipe perekat. Hal ini kemungkinan dikarenakan rage berat bayi yang disarankan untuk menggunaka ukuran s cukup panjang yaitu berat 3kg-8Kg. Rentang berat yang panjang ini membuat pengguna popok ini semakin banyak dibanding ukuran lain. Oleh karena itu ukuran popok S sering habis di toko bayi. Pencarian secara online pun sempat menjadi solusi namun ongkos kirim menjadi kendala tersendiri Karena popok bayi yang 1 pakage isi 80 pcs ukuranya besar dan memakan volume yang besar dalam pengiriman. Atas dasar itu saya dan istri tetap mengutamakan ketersediaan di toko offline dalam memilih popok anak.              

Kembali lagi ke permasalahan awal, akhirnya kami dengan terpaksa membeli popok merek pampers dengan harga Rp 4.300-Rp 4.800 per PCS. Kami terpaksa karena popok di rumah sudah habis sehingga benar-benar harus membeli popok dan akhirnya kami membeli popok pempers. Setelah kami coba memang harga tidak bohong bung. Popok pempers ini lebih ringan dibanding popok lainnya. Selain itu kemerataan serapannya jauh lebih baik dibanding popok yang saya coba sebelumnya. Kalau popok- popok lain kadang indikator bagian depan sudah penuh, tapi yang belakang tidak. Sedangkan untuk pampers bisa rata. Jumlah daya tampungnya pun jauh berbeda, popok pempers semalaman dipakai tidak bocor padahal jika popok lain saya harus mengganti di tengah malam agar tidak bocor. Kembali lagi kemasalah harga dan kualitas, karena harganya cukup mahal, pempers ini mudah didapatkan di toko-toko perlengkapan bayi karena peminatnya tidak banyak.

Setelah menghadapi problematika memilih popok anak, akhirnya saya dan istri saya menggunakan pertimbangan ketersedian popok di toko perlengkapan bayi dibandingkan pertimbangan harga (diluar pertimbangan kesehatan kulit anak yang jelas adalah pertimbangan pertama). Meski konsekuensi melakukan penghematan di pos pengeluaran lain dalam keuangan keluarga kami harus kami lakukan.