Melalui rubrik lelananging jagad ini, kami ingin memunculkan esensi terhadap konsep ‘Ayah’ dalam sebuah keluarga. Manifestasi akan sebuah konsep sering terlupakan. Di sisi lain, menyatukan antara eksistensi dan esensi pun menjadi masalah tersendiri. Hal inilah yang dirasa manifestasi sering terlupakan, karena eksistensi sering mendahului esensi. Konsep tentang sosok ayah pun tidak imun terhadap hal ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa peran ayah dianggap sebagai second layer dalam proses parenting. Ayah dinobatkan sebagai sosok berwibawa dalam konsep keluarga. Peran ayah masih sempit diartikan oleh kebanyakan orang, yakni mencari nafkah dan mengambil keputusan. Mungkin, ada juga yang memposisikan peran ayah sebagai supporting system untuk ibu dalam parenting. Ya, memang tidak bisa dipungkiri jika ayah faktanya tidak bisa menggantikan peran ibu, seperti melahirkan dan menyusui.

Ayah sebagai tulang punggung, ibu sebagai tulang rusuk.”

Begitulah sekiranya pandangan kebanyakan masyarakat dalam menempatkan peran ayah dan ibu dalam keluarga. Konsep tulang punggung dan tulang rusuk tersebut seperti dianggap final oleh banyak orang. Seorang ibu yang bekerja lebih keras sebagai tulang punggung dianggap berpikiran liberal, sedangkan ayah yang memilih di rumah untuk merawat anaknya dianggap tak berdaya.

Anggapan peran ayah dan ibu yang tak boleh ditukar terkesan melegitimasi konsep gender. Hal ini membawakan kesan bahwa faktor biologis sama halnya dengan faktor sosial, yaitu ibu dianggap berperan penting dalam parenting karena melahirkan dan menyusui. Tidak seperti ayah yang hanya bisa menentukan tempat melahirkan dan menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit setelah persalinan.

Benar adanya jika ayah tidak bisa melahirkan dan menyusui tetapi ibu masih mungkin untuk memgambil keputusan memilih tempat persalinan sekaligus mengurus administrasinya. Lalu, apakah faktor biologis itu disematkan juga dalam proses parenting?

Konsep umum bahwa istri yang menanggung beban berat sebagai ibu mendeskriditkan peran suami sebagai ayah. Saat istri hamil seakan semua dunia memperhatikan dan mengasihinya. Semua orang menananyakan kabar dan keadaanya. Tidak pernah ada yang menanyakan kabar seorang suami yang istrinya sedang hamil. Bahkan, saat persalinan pun semua orang seakan-akan menekan suami untuk menguatkan istrinya yang akan melahirkan.

Kepala Keluarga pun Butuh Dikuatkan

Lalu, siapa yang menanyakan kabar seorang suami saat istrinya sedang hamil? Siapa yang menguatkan suami saat melihat istrinya kesakitan dalam proses persalinan? Apakah konsep lelananging jagad lantas membuat sosok pria menjadi sosok Arjuna yang kebal akan segala terpaan kehidupan?

Pernahkah kalian dengar ‘fitnah lebih kejam dari pembunuhan‘? Apakah fitnah melukai secara fisik? Apakah korban fitnah harus dirawat inap di rumah sakit? Tidak. Kejamnya fitnah itu menyerang psikologi dan sosial, bukan luka yang tampak di mata.

Sama halnya yang dirasakan seorang suami yang istrinya sedang hamil atau melahirkan. Memang suami itu tidak sakit secara fisik tetapi sakit secara psikologi dan sosialnya itu mungkin terjadi. Peran cinta lah faktor penyebabnya. Rasa sakit psikologis dan sosial itu muncul akibat dari expresi emosional terhadap apa yang sedang dialami oleh orang tersayang. Sama-sama sakitnya tapi berbeda perlakuannya.

Suami ataupun ayah masih saja selalu dianggap second layer dan diberikan kesan tidak mengerti apa-apa dalam parenting. Tidak pernah ada yang mengajari bagaimana menjadi orang tua, apalagi menjadi ayah. Semua orang tua diberi pendidikan oleh lingkungan yang terbentuk melalui berbagai stigma. Ini bukan persoalan seorang ayah mencari perhatian pada dunia untuk dimengerti. Para ayah tidak butuh perhatian dunia karena mereka tahu bahwa pahlawan tidak pernah bicara tentang siapa saja yang sudah ditolongnya.

Nama lelananging jagad pun kami pilih, karena kosep lenanganing jagad merupakan simbol dari kedewasaan seorang laki-laki dalam mengambil peran di kehidupan. Nafas-nafas konsep lelananging jagad itulah yang mendasari setiap artikel yang ada pada rubrik ini.