Dalam satu tongkrongan dari lingkar pertemanan yang itu-itu saja, tentu akan menjadikan satu dengan lainnya mengenal secara detail, sehingga jika terjadi perubahan kecil saja akan menjadi pertanyaan besar. “Koe wes ra udud o?” kira-kira begitu pertanyaan yang sering kali dilontarkan kepada saya dalam tiga bulan terakhir ini, saya tidak segera menjawab, selain tersenyum tipis, karena jika saya menjawab tentu jawabannya tidak akan menyenangkan.

Berbeda dengan kawan satu tongkrongan, yang menyadari perubahan kecil dari kebiasaan saya sebagai perokok aktif, di tempat kerja saya ketika rapat konten saya masih diberi ruang dan waktu untuk merokok yang cukup longgar, ini berarti tidak ada yang menyadari perubahan kecil dalam 6 bulan terakhir dalam kebiasaan saya menghisap rokok yang kian menurun.

Saya memang merasa cukup istimewa di tempat kerja, karena sejak awal membuat tim kerja, hanya saya yang tercatat mata sebagai seorang perokok aktif. Tim yang berjumlah 5 orang, 4 orang lainnya adalah mereka yang tidak pernah memiliki riwayat sebagai perokok. Saya sebagai satu satunya perokok selalu mendapat waktu cukup untuk “sebat dulu lah”.

Di tempat kerja, tidak ada pertanyaan “Mas apa sudah berhenti merokok?” yang sering kali muncul ketika rapat konten justru “Wayahe Mas Ari berpikir” yang bermakna saya sudah saatnya menghisap rokok sembari menikmati kopi agar ide segar muncul kembali, maklum saja bekerja di industri kreatif memang lumayan menguras pikiran, dan asumsinya pikiran itu bisa disirami dengan kebulan asap rokok beserta segelas kopi.

Barangkali memang gambaran rokok dan kopi seperti yang sering muncul di foto-foto pecinta buku, sastrawan, seniman dan sering pula muncul dalam adegan sebuah film, lekat sekali antara rokok-kopi dan kemampuan untuk menyegarkan atau mendapatkan ide kembali. Walau lebih sering ketika ritus itu saya lakukan, tidak kunjung juga ide baru saya temukan.

Berada dalam lingkungan kerja yang 80% bukan perokok juga membantu saya dalam upaya mengurangi aktivitas merokok, setidaknya 8 jam bersama mereka yang tidak merokok ada batasan-batasan yang secara sadar dibuat bersama walau tidak tertulis. Sederhananya saya tidak mungkin merokok dalam ruang kerja bersama, atau merokok ketika rapat walau rapat yang dilakukan di ruang terbuka. Seperti yang saya sebutkan, maka akan ada kalimat “Wayahe Mas Ari berpikir” untuk memberi ruang dan waktu buat saya merokok sembari ngopi.

Pada akhirnya, setelah berhasil mengurangi kebiasaan merokok dimulai sejak kali pertama bangun tidur dan istri tercinta menyodori test pack dua garis, hingga sampai pada Anak Perempuan saya kini berusia 3 bulan. Dalam ingatan saya, sudah tidak pernah lagi menikmati ritus rokok dan kopi di rumah.

Kembali pada pertanyaan “Koe wes ra udud o?” saya tidak dapat menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’ karena saya adalah pribadi yang sudah gagal berulang kali dalam upaya berhenti merokok. Saya sudah tidak menyimpan rokok di tas, saya sudah tidak merokok di rumah, tapi jujur saja dalam sekali waktu di luar rumah dalam tongkrongan yang panjang oleh sebab paparan perokok lain, sering kali saya menghisap satu dua batang.

Namun ketika kebiasaan untuk mengurangi aktivitas merokok, hingga pada akhirnya selama 3 bulan terakhir saya terlihat tidak lagi membarengi obrolan dengan sebatang rokok ketika nongkrong, adalah karena saya paham betul kepulangan saya dari tempat nongkrong akan memeluk Bayi Kecil saya di rumah.

Saya tidak ingin menjadi Ayah yang mewarisi kekeliruan Ayah saya, saya tidak ingin Anak saya merasakan bau asap rokok di setiap kepulangan Ayahnya, dan lebih dari itu seperti umum perokok tahu betapa nikmatnya merokok sehabis makan. Adegan saya pergi dari meja makan meninggalkan anak-anak dan istri saya untuk menyalakan sebatang rokok adalah adegan yang tidak ingin saya turunkan kepada anak dan istri saya, cukup saya yang merasakan tidak nyamannya obrolan meja makan berakhir begitu cepat karena Ayah saya sudah tidak sabar SEBAT DULU LAH!