Halo para lelaki yang careless di luar sana! Kali ini artikel yang akan kita sajikan adalah seputar bahaya telemarketer asuransi. Ada banyak kasus merugikan konsumen yang diakibatkan oleh telemarketer asuransi. Sudah ada banyak korban yang merasa telemarketer asuransi ini tidak fair dan jujur dalam strategi marketingnya.

Tulisan ini saya berikan kepada kalian yang pernah mengalami maupun yang belum pernah mengalami bahayanya telemarketer asuransi. Saya juga adalah salah satu orang yang menjadi target dari telemarketer asuransi yang membuat jengkel. Jengkel karena saya tidak aware sekaligus jengkel karena cara yang dilakukan telemarketer asuransi itu tidak jujur.

Awal Kisah Bahaya Telemarketer Asuransi

Saya adalah salah satu nasabah dari bank BRI sejak tahun 2017. Saya menggunakan bank BRI karena faktor pekerjaan yang membayarkan gaji pegawainya melalui BRI. Selain itu, BRI juga memberikan layanan mudah dan murah untuk nasabah sehingga saya merasa cukup hanya dengan memiliki rekening BRI saja.

Di suatu siang, saya sedang akan conference call dengan kolega yang penting melalui aplikasi Zoom. Di tengah percakapan melalui aplikasi Zoom, mendadak ada nomor dari Jakarta yang menelpon. Telpon itu cukup mengganggu Zoom meeting saya karena pop-up dan membuat Zoom saya tidak berjalan baik.

Lalu, saya mengangkat telpon itu dan bertanya dengan siapa saya bicara. Ia mengaku bahwa ia berasal dari pihak BRI yang menawarkan asuransi kesehatan. Ia mengatakan saya adalah salah satu nasabah pilihan yang dapat penawaran layanan tersebut. Ia juga mengatakan bahwa layanan asuransi ini gratis.

Saya menanyakan balik bahwa tidak mungkin sebuah asuransi itu gratis. Saya mengatakan bahwa nanti BRI bisa rugi jika nasabah tidak membayar iuran asuransinya. Ia mengatakan bahwa program layanan ini adalah bentuk kepedulian kepada nasabah BRI di masa pandemi sehingga nasabah tidak perlu iuran.

Lalu, saya mengatakan paham dan setuju di setiap pertanyaannya. Tanpa pikir panjang, saya hanya ingin segera mengakhiri telpon dari telemarketer asuransi itu dan kembali ke Zoom meeting tadi. Tanpa mendengarkan dengan seksama, akhirnya saya terdaftar di asuransi tersebut.

Esok harinya, saya masih merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh telemarketer asuransi kemarin. Saya konfirmasi ke BRI langsung untuk memastikan program layanan itu. Ternyata, BRI tidak pernah memberikan layanan gratis kepada nasabah meskipun di masa pandemi. Pihak BRI juga mengatakan bahwa pihak asuransi tersebut juga nantinya akan melakukan autodebit ke rekening saya. Sial!!!

Mungkinkah Telemarketer Asuransi Dikasuskan?

Setelah saya terdaftar di asuransi yang mengatasnamakan BRI tersebut, saya berusaha untuk segera membatalkan proses registrasinya melalui call center BRI. Tapi, pihak BRI tidak bisa melakukannya karena perjanjian yang saya lakukan bukan dengan BRI tetapi dengan pihak Asuransi.

Kemudian saya diarahkan untuk menghubungi langsung pihak asuransi untuk di call center mereka. Ketika saya hubungi mereka untuk pembatalan pendaftaran, mereka mengatakan bahwa pendaftaran tidak bisa dibatalkan begitu saja. Harus ada proses yang dijalani beberapa hari terlebih dahulu.

Brengsek banget kataku, mereka bisa membuat pendaftaran hanya dengan 5 menit telpon tetapi saya harus membatalkan pembatalan pendaftaran dengan beberapa hari. Hal ini lah yang membuat saya jengkel dan banyak orang merasakannya juga.

Lalu, saya mencoba menghubungi pihak-pihak yang punya cukup wawasan hukum untuk menanyakan apakah ini bisa dikasuskan ke pengadilan. Faktanya, sisi hukum melihat proses yang dijalani oleh itu adalah legal karena ada rekaman telpon yang menunjukkan saya paham dan setuju.

Saat melapor ke pihak BRI, OJK, hingga Kepolisian, mereka mengatakan bahwa kejadian itu tidak bisa diproses hukum dan bukan termasuk sebuah tindak pidana. Hal ini adalah murni kelalaian dari seorang nasabah yang mudah percaya dan tidak fokus.

Bahkan, saya juga dapat kisah bahwa seorang bankir pun pernah mengalami hal yang sama. Bankir ini niatnya ingin mengerjai telemarketer agar pulsanya habis dengan mengangkat telponnya. Di sepanjang telpon, bankir ini hanya mengatakan ya, paham. Endingnya, bankir ini terdaftar sebagai nasabah asuransi secra tidak sengaja. Si bankir ini juga tidak bisa membatalkan pendaftaran tersebut sampai akhirnya ia menguras rekeningnya melalui autodebit yang tidak ia sadari.

Oleh karena itu, pelajaran yang bisa kita ambil bersama adalah untuk tetap waspada dengan segala bentuk ucapan di telpon. Satu kata yang kita ucapkan bisa mengubah realita yang ada. Jangan pernah angkat telepon dari telemarketer manapun!