Imaos.id adalah portal yang memfasilitasi para ayah untuk sharing ceritanya. Jika ada yang ingin berbagi kisahnya menjadi ayah, bisa langsung mengirimkan kisahnya pada kami. Kisah ini adalah kiriman seorang ayah seorang princess berumur 3 tahun yang berjuang agar bisa beradaptasi di Perancis. Perjuangannya belajar menjadi ayah yang baik bisa kita ambil hikmahnya.

Namaku Mochamad Pandu Wira MS. MS bukanlah gelar, tapi singkatan dari nama orang tua. Tapi kalian bisa memanggilku dengan Pandu atau Wira. Aku lahir di kota penghasil Presiden terbanyak, Blitar. Aku lahir awal tahun 1990 sehingga sekarang aku berumur 30 tahun. 

Aku tumbuh dan berkembang di Jogja. Hal ini karena aku dulu kuliah di kota itu. Bahkan, aku pun mendapatkan jodoh (istriku) di Jogja, namanya Eka Ningtyas. Kami memutuskan menikah di usia 26 tahun. Ya, aku dan istriku memiliki tahun kelahiran yang sama.

Setahun setelah pernikahan dengan Eka, aku menjadi sosok lelaki yang baru. Aku memiliki peran tambahan dalam kehidupanku. Aku menjadi seorang ayah dari anak perempuanku yang cantik. Anak dari hasil cintaku kepada istriku.

Pengalaman 3 Tahun Ayah Seorang Princess Bernama Cinta

Sekarang tahun 2020, berarti baru 3 tahun aku belajar menjadi seorang Ayah. Ada beberapa momen yang membuat aku bersyukur dan sadar telah diberi hadiah dari Allah SWT. Aku juga merasa tertantang untuk lebih belajar lagi menjadi sesosok ayah yang berusaha menjadi baik untuk princesku.

Momen menjadi ayah dari putriku sangat panjang. Saat putriku lahir ke dunia hingga ia bisa makan sendiri meninggalkan banyak momen berharga. Aku merasa selalu tertantang untuk kerja sama dengan istri dalam mengasuh putriku demi perkembangan Cinta kami.

Aku aktif dalam urusan memandikan, membersihkan tinja, menyiapkan makan, mengajak main main, hingga memeluknya hingga Cintaku tertidur. Dari itu semua, menemani tidur putriku menjadi bagian terfavorit saat menjadi ayah.

Dulu, pertama kali menjadi ayah adalah hal yang sangat memberatkan, membosankan, dan mengekang kebebasan. Tapi, saat ini aku menikmati menjadi ayah seorang princess bernama Cinta. Karena terlalu nikmatnya, tubuhku seakan bisa bergerak sendiri untuk memenuhi kebutuhan putriku.

Beradaptasi di Negara Napoleon Bersama Istri dan Putriku

Istriku menempuh studi S3 di Prancis dan kami memutuskan untuk bersama-sama tinggal di sana. Perbedaan budaya dan lingkungan sosial membuat rasa syukur dari pengalaman yang kami dapatkan. Aku mendapatkan beberapa rasa syukur tentang Cintaku. Salah satunya pas Jumatan.

Sholat jumat pertamaku di Perancis mengajak putriku. Ada kekhawatiran dia akan rewel saat khotbah karena suasana yang asing untuknya. Sebelum berangkat ke masjid aku mengajak bicara Cinta dan memintannya untuk kooperatif meskipun dengan sidikit pesimis dia tidak paham yang kami obrolkan.

Kami berangkat ke masjid dengan naik bis satu kali, lalu jalan 750-an meter. Aku langsung cari tempat yang dekat dengan tembok dan meyakinkan Cinta untuk tenang selama Jumatan. Alhamdulilah, ternyata dia bisa tenang.

Sejak saat itu, aku yakin bahwa sebenarnya bayi meskipun terkesan seolah-olah tidak paham dan masa bodoh dengan kita, tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura. Dia memahami dan mengerti situasi dan bisa bekerjasama.

Saat putriku pertama kali sekolah di Perancis, itu adalah momen berharga buatku. Rasa syukur dan terharu bergejolak dalam hatiku. Aku semakin yakin tentang sikap anak bahwa sebenarnya mereka pura-pura lemah dalam bentuk lucunya.

Namun, aku juga khawatir karena sekolahan Cinta menggunakan bahasa Perancis, sedangkan ia berbahasa Indonesia saja belum lancar. Aku juga khawatir jika ia tidak punya teman nantinya, tidak bisa menyampaikan keinginan saat di kelasnya.

Di sisi lain, aku senang TK di Perancis sudah bisa mulai dari usia 3 tahun. Kelas reguler juga mulai pukul 08.30 sampai 16.10 waktu setempat. Bahkan, ada fasilitas dari TK untuk memperpanjang durasi anak di sekolah hingga pukul 19.30 jika orang tuanya bekerja hingga malam.

Hal yang mengejutkanku, rasa khawatirku lenyap dan berubah menjadi rasa syukur setelah 2 minggu Cinta sekolah. Anakku senang ke sekolah. Bahkan, terkadang Cinta membawa pulang kosakata-kosakata bahasa Perancis yang membingungkanku. Hingga aku harus berdiskusi dengan Istriku untuk mengetahui maknanya.

Itu adalah sedikit proses belajarku sebagai ayah. Aku akan tetap terus belajar.