Imaos.id adalah portal yang memfasilitas para ayah untuk sharing ceritanya. Jika ada ingin yang berbagi kisahnya menjadi ayah bisa langsung mengirimkan kisahnya pada kami. Kisah ini adalah kiriman seorang ayah dari anak prematur. Perjuangannya belajar menjadi ayah yang baik bisa kita ambil hikmahnya.

Kisah ayah (Rizky Yuniharto) dimulai di sini. Menjadi seorang ayah saat pertama kali memang agak deg-degan, ya. Terlebih menjadi ayah dari anak yang terlahir prematur. Jadi gini, anak gue terlahir prematur, dengan usia kelahiran 34 minggu, yang harusnya normalnya adalah 38 minggu.

Singkat cerita, waktu anak gue lahir tepat jam 10.45 malem, gue bersyukur karena terlahir normal. Minggu pertama kelahiran jadi jarang tidur karena ASI istri gue belum keluar. Makin stress lah!

Perjuangan gue dimulai dari mencari donor ASI. Nah, kebetulan ada dokter yang visit ke istri gue, tepatnya 4 bulan lalu abis lahiran. Karena produksi ASI yang berlebih, akhirnya ia mendonorkannya ke anak gue.

Kirain udah bisa nyantai setelah itu, ternyata, gue diribetin sama pindahan rumah. Minggu itu terasa sangat berat. Gue beneran jadi kurang tidur dan kerjaan kantor juga agak berantakan. Belum lagi anak gue sempet dirawat di RS gara gara bilirubin tinggi. Panik lah gue! Pusing juga kepala jadinya.

Perjuangan Ayah dari Anak Prematur

Tadi adalah pengantar dari cerita perjuangan gue punya anak. Inget banget, mulai dari umur 3 bulan sampe sekarang, gue kebagian jagain anak kalau malem. Mulai dari ganti popok, nyusuin, dan kalau bangun gue harus ngajak dia keliling kamar agar dia tenang.

Gue adalah penjaganya setiap malam sampai jam 7 pagi. Jadi, anak gue lengketnya tiap malam. Tapi, setelah jam 7 pagi dia berubah jadi deket sama nenek atau ibunya. Maklum lah, ada jadwal antara gue dan istri.

Point gue sebenarnya adalah peran ayah dalam mengasuh dan mendidik anak bukan cuma tunjuk ini dan itu aja. Ada beberapa pengalaman yang mungkin bisa gue sharing biar bonding sama anak makin lengket, kayak nasi anget baru mateng. Layaknya gue dan anak saat ini.

Gue ini tipe yang gak mau nolak kalau harus memandikan anak. Gue merasa senang karena bisa ngajak dia main. Itu juga wujud sanyang gue ke anak. Mungkin sebagian ayah males memandikan anak karena sibuk kerja atau malah main game. Hal ini baiknya jangan deh, memandikan anak itu jadi momen yang bisa bikin kalian makin deket sama anak, lho.

Bagaimana ayah mengganti popok? Hayo, pasti sebagai ayah paling males ganti popok anak. Gue tipe yang tidak masalah untuk gantiin popok anak. Gue selalu memijat anak pakai lotion dan minyak telon setelah mengganti popoknya. Biar bondingnya makin kuat!

Ini jujur, untuk hal satu ini mungkin gue jarang lakukan. Gue paling males nyuapin anak. Usia anak yang sudah setahun lebih ini, anak gue lagi males dan pilih-pilih makanan. Gue sering banget ngomel-ngomel sendiri pas nyuapin. Sempet gue berantem sama istri gara-gara ngomelin anak. Tapi, tolong yang ini jangan ditiru, ya. Memarahi anak itu tidak bagus buat perkembangan anak.

Dalam mendidik anak, gue selalu mengajarkan dia sabar. Ajak dia ngomong dan kasih contoh sikap sabar itu. Fase 1 tahun ini jadi masa perkembangan motorik anak gue. Setiap harinya gue selalu memberi atau mengajarkan sesuatu pada anak menggunakan benda yang bisa dia pegang, seperti daun, batu, dan pasir. 

Pokoknya, sebagai ayah baru, gue excited banget dan anak gue menjadi motivasi buat selalu kerja keras. Dan, gue juga selalu berharap nantinya anak gue bisa lebih sukses daripada ayahnya.