….Pukul 23.22 WIB, tangisan bayi memecah keheningan. Satu sisi diri saya merasa lega, namun proses kelahiran anak saya ternyata belum selesai sampai di sini…

Pukul 23.30 WIB, Bayi saya sudah berhasil lahir ke dunia ini, namun kecemasan masih berlanjut karena setelah lahir bayi saya langsung dibawa oleh perawat untuk diobservasi. Sebetulnya banyak kecemasan yang muncul karena saya tidak memahami prosedur kelahiran anak dalam persiapan kelahiran anak. 23.45 WIB, “pak monggo kalau mau dilihat bayinya” suara suster memecah keheningan saya dan isteri saya yang masih terbaring sembari menerima jaitan untuk menyelesaikan proses melahirkannya. Melangkah dengan pikiran yang masih kalut “ternyata masih belum selesai proses kelahiran anak ini ya..” dalam hati saya bertanya entah ditujukan kepada siapa.

“Bapak muslim? Tanya suster, iya saya muslim saya jawab singkat saja. Silahkan pak untuk di Adzani pak anaknya perintah suster. 23.48 WIB sebuah momen sakral saya lakukan dengan mendengungkan adzan di telinga anak perempuan saya untuk pertama kalinya. Setelah selesai mengadzani anak saya, kembali suster datang menyodorkan surat persetujuan vaksin pertama anak saya. Saya baru tahu bahwa ada vaksin yang harus diberikan kepada bayi yang baru lahir 0 Hari. Vaksin Hepatitis B, vaksin tersebut harus diberikan kepada bayi setelah proses kelahiran anak tersebut selesai.

23.57 WIB, anak saya kembali dibawa oleh suster untuk diberikan vaksin dan kemudian disinggahkan ke ruangan bayi untuk di observasi kembali. Sementara itu saya kembali menemani istri saya yang masih kelelahan dan proses penjaitannya belum juga selesai…

Menemani Istri pasca proses kelahiran anak

Selasa 20 Oktober 2020, 00:15 WIB. Tidak terasa hari sudah berganti namun proses kelahiran anak ini belum juga selesai. Dokter akhirnya selesai menjait istri saya, proses penjaitan yang terbilang sangat lama karena menghabiskan waktu 1 jam. Hal itu disebabkan karena ukuran anak saya terbilang besar dengan bobot 3,6 Kg dan panjang 49,5 cm. setelah selesai suster mengingatkan pada saya dan istri untuk tetap berada dirunga tindakan minimal 2 jam setelah proses kelahiran anak. Itu dilakukan untuk menjaga isteri saya karena banyak kasus kematian ibu melahirkan setelah proses kelahiran. Selama minimal 2 jam pula saya diminta untuk menjaga isteri saya agar tidak tertidur.

Pukul 01.15, seorang suster membawa bayi saya dan untuk pertama kalinya isteri saya melihat anaknya yang telah dikandung 9 bulan ini. “silahkan bu bayinya di susui supaya dia mengenal dan belajar minum asi bu”, istri saya yang kelelahan pun mendadak mendapat tenaga yang luar biasa setelah melihat bayinya. Proses menyusui pertama ini tidak lah lama hanya sekitar 15 menit kemudian bayi saya kembali dibawa ke ruangan bayi. Sementara istri saya menyusui anak saya, sayapun mengisi form surat keterangan lahir anak saya yang diberikan oleh rumah sakit. Form tersebut berisikan nama anak, nama orang tua dan data-data administratif lain yang diperlukan untuk penyelesaian berkas proses kelahiran anak.

Proses perpindahan Isteri dari ruang tindakan pasca proses kelahiran anak

Waktu sudah menunjukan pukul 02.30, saya berhasil membuat isteri saya untuk tidak tidur sesuai dengan instruksi perawat. Seketika kejadian paling menakutkan bagi saya terjadi. Isteri saya hendak bangun dari posisi rebahannya dan tiba-tiba dia kejang disertai matanya yang putih semua pupil matanya entah bersembunyi dimana. Saya langsung berteriak memanggil suster sembari memanggil nama isteri saya dengan harapan dia tidak kehilangan kesadaran. Takut sebuah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian ini pada proses kelahiran anak saya. Untungnya suster bertindak cepat dan isteri saya kembali sadar setelah sempat kejang sekitar 3 menit. Sebuah kelegaan yang luar biasa ketika melihat isteri saya kembali sadar dan tidak lagi kejang. Kejadian tersebut membuat kami tetap tertahan hingga pukul 04.30 WIB dan baru diperbolehkan pindah ke kamar rawat inap yang sudah kami tinggalkan sekitar 7 jam itu.

Berkumpul dengan anak untuk pertama kalinya

Pukul 07.00 WIB, suster mengetuk kamar kami dengan membawa anak kami. Momen yang paling kami nantikan selama proses kelahiran anak kami. Akhirnya saya, isteri dan anak saya bisa berkumpul bersama dengan kondisi tidak kurang satu apapun.

Memang betul kata orang, melihat anak membuat kita lupa kalau kita sedang lelah. Isteri saya pun seolah energinya kembali penuh dan kuat untuk mengendong anak kami untuk kedua kalinya. Saya hanya tersenyum melihatnya. Di tengah kebahagian tetiba saya merasa sangat bersalah kepada kedua orang tua saya. Sebagai anak kita sering sengaja atau tidak menyakiti hati orang tua terutama ibu. Setelah saya menemani isteri saya dalam proses melahirkan saya menyadari bahwa perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh ibu saya ketika melahirkan saya sangatlah besar. Setelah mengabari ibu saya bahwa proses kelahiran anak saya sudah selesai, saya pun langsung meminta maaf kepada ibu saya atas segala kesalahan yang saya lakukan. Setelah hari itu saya berjanji untuk tidak lagi membantah orang tua saya yang akan membahagiakan mereka dengan kemampuan yang saya miliki.