Penulis: Hadafi Farisa

Editor: Bernadeta Diana

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan agama kepada anak. Penanaman nilai agama akan lebih efektif jika dilakukan sejak usia dini. Pada keluarga Islam, anak usia pra-sekolah sudah mulai dibiasakan pergi mengaji ke masjid-masjid. Selain berfungsi sebagai kegiatan penanaman nilai agama, kegiatan mengaji menjadi sarana sosialisasi anak dengan teman sebaya mereka. Rutinitas mengunjungi tempat ibadah semacam itu pada dasarnya membantu orang tua dalam implementasi penanaman nilai agama kepada anak.

Ketika bulan Ramadan, umat Islam berbondong-bodong ke masjid untuk menunaikan salat tarawih. Tak jarang, anak-anak yang belum aqil baligh pun diajak turut serta sehingga masjid menjadi ramai dan meriah. Namun demikian, ayah dan ibu terkadang keraguan untuk mengajak anak ke masjid lantaran kemungkinan menganggu ibadah orang lain. Lantas yang menjadi pertanyaan orang tua, kapan waktu yang sesuai mengajak buah hati untuk ikut tarawih ke masjid?

Mempertimbangkan Perkembangan Anak

Keraguan orang tua untuk mengajak anak tarawih di masjid berangkat dari pemahaman mengenai aturan tidak tertulis yang umumnya berlaku di tempat ibadah. Misalnya, tidak boleh berisik ketika ada yang beribadah dan tidak boleh membawa makanan di ruang ibadah utama. Sebelum memutuskan mengajak anak ke masjid, ada baiknya jika ayah dan ibu mengkomunikasikan aturan-aturan tersebut kepada anak. Ini berarti, mengajak anak ke masjid bukanlah tanpa persiapan, semua harus dilakukan tahap demi tahap. Mulai dari pemahaman akan aturan di tempat ibadah hingga praktik langsung mengajak anak ke masjid.

Orang tua perlu mengetahui fase perkembangan kognitif anak. Menurut Piaget, seorang ilmuwan Psikologi, anak usia 2-7 tahun sedang dalam fase Praoperasional. Pada masa itu, anak mulai mengenal kata, angka, dan gambar. Seiring bertambah pengalaman, dan usia, anak mulai memahami secara logis hal-hal yang berkaitan dengan objek-objek konkret. Namun, anak masih belum bisa menggunakan sudut pandang orang lain dalam menilai suatu kondisi. Selanjutnya pada usia 7-11 tahun, anak mulai paham terhadap suatu objek yang lebih komplek. Pengetahuan akan lingkungan sekitar juga bertambah seiring semakin matangnya pola pikir. Mereka juga telah mampu melihat kondisi dari sudut pandang orang lain. Saat usia 7-11 tahun, anak memasuki fase Operasional Konkret.

Sebetulnya tidak ada patokan khusus terkait usia anak yang siap diajak tarawih. Pertimbangan lain seperti kondisi lingkungan keluarga, kemampuan kognitif anak, dan pengalaman mereka bisa membuat anak matang lebih awal. Mereka menjadi tumbuh lebih cepat dari rata-rata anak seusianya. Ketika anak sudah mulai belajar kalimat, coba untuk memberi tahu aturan-aturan ketika seseorang berada di tempat ibadah. Saat usia 4 tahun misalnya, anak sudah bisa mengetahui informasi sederhana, meskipun mereka tidak peduli alasan dibalik informasi tersebut. Nanti, setelah anak bisa memposisikan diri sebagai orang lain, ia akan menjadi lebih memahami.

Membuat Anak Tidak Rewel

Tidak ada yang melarang untuk mengajak anak usia 4 tahun atau di bawah usia itu pergi ke masjid. Tapi, tak menampik juga jika orang tua perlu ekstra usaha untuk menjaga anak agar tidak rewel atau menangis. Inilah yang menjadi tanggung jawab atas keputusan orang tua mengajak anak mereka ke masjid untuk tarawih. Sering kali anak berteriak dengan teman, berlarian, atau justru menangis karena kepanasan. Hal-hal semacam itu tentu perlu diantisipasi oleh orang tua.

Melakukan kegiatan atau membawa barang yang disukai anak menjadi solusi untuk menyenangkan mereka ketika rewel saat diajak tarawih di masjid. Usahakan agar orang tua paham betul kebutuhan si kecil, misalnya dengan membawa salah satu mainan favoritnya. Namun demikian, usahakan mainan tersebut tidak menimbulkan bunyi berisik sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah.

Pada akhirnya, keputusan ada juga di orang tua. Siap atau tidak mengajak anak untuk tarawih di masjid merupakan tanggung jawab orang tua. Konsekuensi yang mungkin terjadi, anak merasa senang bertemu teman sebaya mereka. Bermain, berlarian, bahkan lompat-lompat sambil teriak-teriak bisa jadi wajar untuk anak-anak. Akan tetapi, kenyamanan dalam beribadah tentu juga perlu diwujudkan.

Referensi:

https://www.wyethnutrition.co.id/tahapan-perkembangan-kognitif-anak-usia-dini