Kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan seksualitas pada anak? Kasus kekerasan seksual, pelecehan, dan kejahatan-kejahatan yang menjadikan anak sebagai objek seksualitas cukup marak terjadi di Indonesia. Misalnya saja, kasus pencabulan yang dilakukan oleh salah seorang guru mengaji yang terjadi di Aceh pada bulan Februari lalu. Kasus tersebut melibatkan lima orang anak yang seluruhnya berusia di bawah 11 tahun.

Contoh tadi tentu hanyalah satu dari sekian banyak kasus kejahatan seksual yang dapat dengan mudah kita temukan dalam portal berita atau mesin pencari. Sayangnya, ada kalanya anak tidak selalu ada dalam posisi aman atau terlindungi. Pasalnya, pelaku kejahatan seksual terkadang bisa jadi orang yang dekat dengan anak itu sendiri. Untuk itu, orang tua tentu perlu memberikan pendidikan seksual sejak dini.

Masyarakat Indonesia sendiri kerap menganggap pendidikan seksual dalam rangka mengenalkan seksualitas pada anak sebagai sesuatu yang tabu. Hal ini terlihat dari keengganan orang tua untuk menyebut alat kelamin secara tepat tanpa penggunaan istilah lain seperti “burung” atau “anu”. Belum lagi kebingungan orang tua ketika anaknya mulai bertanya, “Dari mana bayi berasal?”.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan seksualitas pada anak agar kasus kekerasan seksual bisa dicegah sedini mungkin?

Mengenalkan Seksualitas bagi Anak

Langkah pertama yang perlu ditempuh orang tua untuk memperkenalkan seksualitas pada anak adalah dengan memahami waktu paling tepat untuk mengedukasi anak tentang hal tersebut.

Mungkin tidak ada waktu persis yang bisa dijadikan patokan dalam memberikan edukasi seksual bagi anak. Intinya, pendidikan seksual seharusnya diberikan sejak dini. Kata “dini” bisa dipahami menjadi momen ketika anak mulai mengetahui dirinya sendiri.

Artinya setelah anak bisa bicara, mengenal papa mama, belajar kata pertama, lalu mengenal beberapa macam kata, kalimat, hingga paham maksud sebuah kata merujuk pada objek yang mana.

Orang tua bisa jadi tidak selalu sepaham terhadap kata “dini” sebagai fase yang tepat untuk mengedukasi anak mengenai seksualitas. Kata tersebut pada dasarnya dapat diartikan sesegera mungkin, yakni ketika anak dianggap telah siap menerima pengetahuan-pengetahuan mengenai seksualitas.

Mulai Dari Pengenalan Bagian Tubuh

Setelah anak bisa memahami sebuah kata merujuk pada objek tertentu, orang tua bisa mulai mengenalkan seksualitas kepada anak. Kenalkan berbagai macam bagian tubuhnya sendiri, misalnya mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dll. Perkenalkanlah juga nama organ kelamin anak dengan kata penis atau vagina.

Perdengarkanlah kedua kata tersebut sebagai alat kelamin pada manusia. Tujuannya agar anak terbiasa mendengar kata penis atau vagina sejak dini, dan dia tidak mencari-cari tahu lagi kata tersebut di gawai mereka nantinya.

Usai anak paham nama-nama bagian tubuh manusia, mulailah untuk memperkenalkan fungsi bagian tubuh tersebut. Pastinya, kita harus menggunakan kata sesederhana mungkin untuk menjabarkan fungsi-fungsi tiap bagian tubuh.

Jangan dulu menyebutkan fungsi penis sebagai alat reproduksi laki-laki, namun kenalkanlah penis sebagai bagian tubuh untuk pipis. Penyederhanaan kalimat yang disampaikan kepada anak disesuaikan juga dengan pemahaman mereka. Sisipkan juga informasi mengenai perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan.

Bagian Tubuh yang Tidak Boleh Sembarangan Disentuh

Mengantisipasi anak terhadap perilaku pelecehan seksual dilakukan dengan cara menyampaikan batasan-batasan terhadap apa yang anak miliki. Bagian tubuh tertentu milik anak menjadi hal yang privat dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, terlebih orang asing. Mengenalkan seksualitas pada anak adalah agar anak memahami bagian tubuh yang boleh orang lain sentuh dan bagian tubuh lainnya yang hanya boleh disentuh oleh diri mereka sendiri atau oleh orang tua. Hal ini bertujuan agar anak bisa mengerti diri dan tubuh mereka sendiri.

Batasan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh antara laki-laki dan perempuan berbeda. Sebagai contoh, orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh sekitar area penis anak laki-laki. Bagian tersebut hanya boleh disentuh oleh anak itu sendiri, orang tua, atau tenaga medis pada kondisi tertentu. Sementara untuk anak perempuan, bagian dada dan area vagina juga tidak boleh disentuh oleh orang lain. Hanya diri mereka sendiri dan ibunya atau tenaga medis yang boleh menyentuh. Batasan-batasan tersebut benar-benar perlu dipahami oleh anak sehingga ia paham begitu betapa berharga diri dan tubuhnya.

Tak kalah penting, dengarkanlah setiap curahan hati anak. Sebagai orang tua, kita tidak boleh membentak anak ketika dia terlihat pada situasi salah. Pastikan anak tetap merasa nyaman kala mengadu mengenai orang asing yang telah menyentuh anggota tubuh pribadinya tanpa izin. Dalam hal ini, ketidakterbukaan anak justru akan menjadi kendala dalam upaya orang tua untuk melakukan edukasi seksualitas sejak dini. Untuk itu, orang tua idealnya senantiasa berupaya untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Penulis: Hadafi Farisa \ Editor: Bernadeta Diana