Tradisi sungkem telah menjadi sebuah momen penting guna penguat ikatan keluarga Jawa yang saya pahami sejak saya mampu berbicara. Saya masih ingat momen tiap hari lebaran di rumah kakek saya di Wonogiri, Jawa Tengah. Selepas sholat Ied, keluarga besar kami akan kembali pulang ke rumah, berfoto bersama, lalu melaksanakan sungkeman. Tangis haru dan air mata hampir selalu mewarnai rutinitas sungkeman keluarga besar saya.

Di keluarga saya, tradisi sungkeman ini dimulai dari yang tertua dan dilanjutkan hingga yang paling muda. Kakek dan nenek saya akan duduk di kursi, lalu anak tertua mereka akan sungkem di hadapan kakek nenek saya, dan dilanjutkan terus hingga anak paling muda, kemudian para cucu. Saat saya masih kecil, saya memandang budaya sungkem ini hanya sebagai formalitas belaka. Namun seiring saya bertambah dewasa, saya melihat tradisi sungkeman ini memiliki makna dan fungsi yang mendalam. Kini saya memandang sungkem sebagai sebuah penguat  ikatan batin antar anggota keluarga.

Makna sungkeman

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sungkem dapat diartikan sebagai sujud (tanda bakti dan hormat). Namun terlepas dari pengartian KBBI, sungkem tak hanya sebatas kata kerja maupun gestur. Sungkem merupakan bentuk permintaan maaf yang mendalam—bahkan sakral—terhadap orang yang lebih tua atau dihormati.

Sungkem mengandung nilai-nilai luhur yang memiliki esensi lebih dalam dari sekedar permintaan maaf. Tradisi sungkem sendiri merupakan hasil peleburan antara adat Jawa dan budaya Islam yang berkembang dan dilestarikan di nusantara. Selain gesturnya yang dilakukan dengan cara bersimpuh di hadapan orang yang lebih tua tadi, sungkem juga bicara soal batin. Berikut adalah beberapa makna dan nilai yang terkandung dalam tradisi sungkeman:

  • Bentuk kesadaran atau mawas diri. Orang yang melakukan sungkem meletakkan derajatnya serendah mungkin di hadapan orang yang lebih tua atau sosok yang dihormati, dengan pemahaman bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa adanya sosok tersebut.
  • Menunjukkan kerendahan hati. Sungkem dalam adat keluarga Jawa melatih anak/cucu untuk melepas egonya dan merendahkan dirinya dengan meminta maaf.
  • Wujud terima kasih. Tak hanya meminta maaf, dalam tradisi sungkem juga dilakukan penyampaian terima kasih terhadap orang tua yang telah berbuat banyak untuk kita.
  • Penuturan penyesalan dan permintaan maaf. Sungkem bertujuan untuk menjadi sarana penyelesaian konflik dan permintaan maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan dan disesali. Harapannya, dengan sungkeman, segala hubungan yang pernah retak dan hati yang pernah terlukai bisa sembuh dan utuh kembali.

Biasanya, tradisi sungkem ini diterapkan kala Idul Fitri. Namun sungkeman juga bisa ditemukan sebagai bentuk prosesi dalam pernikahan adat Jawa.

Sungkem di saat Lebaran sebagai penguat ikatan keluarga

Lebaran atau Idul Fitri adalah salah satu hari raya umat Islam yang dirayakan setahun sekali. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, hari raya Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan. Idul Fitri juga bisa dimaknai sebagai ‘kembali ke Fitrah’. Artinya, seseorang diharapkan dapat bebas dari dosa dan menjalani hidup yang lurus. Sungkeman menjadi salah satu tradisi guna mencapai kesucian tersebut.

Biasanya, sungkem dalam adat keluarga Jawa kala Lebaran dilakukan dengan mengucapkan kalimat yang dilafalkan dengan bahasa Jawa halus. Orang yang sungkem biasanya mengucap, “Kulo ngaturaken sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten dumatheng sedoyo kelepatanipun lan klenta klentinipun kulo.” Artinya, “Saya ucapkan selamat hari raya, dan minta maaf dari semua kesalahan dan kekeliruan saya.”

Budaya sungkem dalam prosesi pernikahan adat Jawa

Sedikit berbeda dengan sungkem di kala Lebaran, sungkem yang dilakukan dalam prosesi pernikahan adat Jawa merupakan bagian dari acara wajib pernikahan. Kedua mempelai pernikahan akan bersimpuh di hadapan kedua orang tua dari kedua mempelai untuk menyampaikan rasa hormat, terima kasih, serta memohon restu atas dimulainya kehidupan pernikahan mereka.

Kedua mempelai yang melakukan sungkeman biasanya akan bersimpuh dan mencium tangan pihak orang tua, dan pihak orang tua akan meletakkan tangan mereka di pundak atau punggung anak/menantu mereka. Tidak jarang prosesi ini menjadi momen yang penuh rasa haru dan dilanjutkan dengan pelukan atau ciuman antara anak dan orang tua/mertua.

Sungkem dalam adat keluarga Jawa, dimanapun dan kapanpun prosesi ini dilakukan, akan selalu menjadi momen sakral yang mendekatkan dan mempererat ikatan antar anggota keluarga. Tidak semua orang pandai menyusun kata untuk meminta maaf. Sungkeman memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin menebus rasa bersalah tanpa perlu banyak kata-kata. Sederhana namun hangat dan kaya akan makna. 

Di era milenial kala perkembangan teknologi dan komunikasi jarak jauh kian dimudahkan, tidak semestinya budaya sungkem lantas menjadi luntur dan lemah. Justru, generasi sekarang harus terus diajarkan mengenai pentingnya sungkem sebagai warisan budaya luhur yang penting untuk penguat ikatan keluarga. Bagaimana tradisi sungkem dalam keluarga Anda?

Referensi

Makna Tradisi Sungkem Di Adat Jawa Saat Lebaran. (2015, Maret). Diambil kembali dari Egindo.co

Qudus, A. Z. (2013). Kemanten Jadur (Studi Etnografi tentang Makna Simbol dalam Prosesi Perkawinan di Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik). AntroUnairDotNet, 134-143.

Redaksi FN. (2019, Juni 1). Sejarah dan Makna Tradisi Sungkeman Saat Idul Fitri. Diambil kembali dari FaktualNews.co

Suharyanto. (2017). Makna dari Sungkeman dan Penjelasannya. Diambil kembali dari Ilmu Seni