Selapanan bayi atau selapanan merupakan tradisi orang Jawa untuk mensyukuri nikmat dikaruniai seorang anak. Secara terminologi, makna selapanan sendiri berasal dari kata dasar ‘lapan’ yang berarti 35 hari.

Jadi, selapanan adalah hitungan kalender Jawa berdasarkan pasaran yang sudah ditentukan. Secara sederhana, selapanan itu adalah bertemunya senin legi dengan senin legi yang berikutnya. Kalau kalender yang biasa kita kenal sebulan adalah 30 atau 31 hari (terkecuali untuk bulan Februari), maka kalau dalam budaya Jawa itu dikenal dengan selapanan.

Tapi, sebenarnya tidak sesederhana itu saja. Ada perhitungan yang lebih spesifik dijelaskan di dalam buku Betaljemur Adammakna atau kitab primbon yang sangat dikenal oleh orang Jawa dahulu sebagai perhitungan pasaran.

Selapanan Bayi Adalah Wujud Syukur

Tim imaos melakukan beberapa mini riset tentang hubungan pasangan istri beberapa waktu lalu. Dari hal tersebut, ada beberapa pertanyaan tentang selapanan bayi yang masih banyak dipertanyakan oleh pasangan muda jaman sekarang.

Biasanya, para kakek dan nenek saat ini selalu mengingatkan anaknya yang baru memiliki anak untuk mengadakan acara selapanan bayi. Tapi, tidak sedikit dari pasangan suami istri saat ini tidak memahami apakah itu selapanan bayi, bagaimana cara mengadakannya, dan apa manfaatnya.

Oleh karena itu, artikel imaos kali ini ingin sedikit memberikan gambaran tentang selapanan bayi yang biasanya dilakukan oleh orang-orang pada masa dulu, bagaimana cara melakukannya, dan apa manfaatnya untuk bayi itu sendiri.

Seperti makna etimologisnya, selapanan berarti 35 hari dalam hitungan kalender Jawa. Tradisi ini adalah bentuk peringatan syukur suatu keluarga karena anaknya sudah bertambah usia sejak dilahirkan. Rasa syukur itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari seorang hambanya.

Tradisi bersyukur adalah suatu hal yang sering dilakukan dalam kebudayaan Jawa kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, banyak orang zaman dahulu (kakek dan nenek) yang memaksakan untuk mengadakan selapanan untuk cucunya, meskipun anaknya (orang tua si bayi) tidak memahami selapanan itu sendiri.

Biasanya dalam acara selapanan dilakukan pengguntingan rambut dan kuku bayi. Pemotongan rambut untuk pertama kali dilakukan oleh Ayah dan Ibunya, kemudian dilanjutkan oleh para sepuh atau anggota keluarga lain yang lebih senior.

Tujuan pemotongan rambut ini adalah agar rambut dan kuku jemari bayi yang tumbuh benar-benar bersih. Masyarakat Jawa percaya bahwa rambut bayi yang ada sejak lahir masih bawaan dari air ketuban. Itulah mengapa rambut bayi dipotong hingga gundul setidaknya 3 kali. Namun di zaman sekarang banyak orang tua yang tidak tega untuk menggunduli bayinya, sehingga dilakukan hanya untuk formalitas.