Pelecehan seksual yang kerap terjadi terhadap penyandang autisme menjadi tanda bahwa masyarakat masih kurang mendapatkan pendidikan seksual yang cukup. Mendidik anak mengenai hak atas tubuhnya sendiri merupakan hal yang penting, apalagi bagi anak penyandang autisme. Keterbatasan dalam berpikir logis dan berpikir mandiri membuat anak penyandang autisme rentan menjadi korban pelecehan seksual.

Seorang perempuan penyandang autisme di Michigan, Amerika Serikat bercerita mengenai pengalamannya. Sejak ia kecil, ia selalu senang mengikuti aturan. Tiap ia melanggar sebuah aturan, ia akan merasa cemas dan sangat bersalah. Ia mengaku senang diperintah untuk melakukan sesuatu, terutama oleh seseorang yang lebih tua. Baginya, ada satu prinsip hidup yang selalu ia pegang, yakni orang dewasa selalu benar dan harus selalu didengarkan.

Sifat penurut ini membuat babysitter-nya dengan mudah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya ketika ia berusia 10 tahun. Kerelaan dirinya untuk mengikuti perintah, mencari pengakuan diri, serta ketidakmampuan diri dalam menentukan keinginan diri sendiri, membuatnya sering diperlakukan tidak semestinya dalam setiap hubungan romantis yang ia jalani.

Perempuan, khususnya penyandang autisme, memiliki angka sebagai korban pelecehan seksual yang sangat tinggi. Tanpa terkecuali di Indonesia.

Kasus pelecehan seksual pada penyandang autisme

Pada tahun 2016, seorang bocah perempuan penyandang autisme berusia 13 tahun di Sukabumi menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual di salah satu rumah sakit di kota tersebut. Ibu korban menemukan anaknya dalam keadaan tanpa busana di ruangan khusus pasien penyakit jiwa laki-laki, dengan luka lebam di wajah dan luka cakar di pergelangan tangan.

Pada tahun 2018, seorang bocah perempuan penyandang autisme berusia 9 tahun di Jembrana, diduga dilecehkan secara seksual oleh seorang pria berusia 65 tahun di sebuah lahan perkebunan. Ibu korban menemukan anaknya dalam posisi setengah menungging, sementara si pria dalam keadaan berdiri dan memasukkan tangan ke dalam celana bagian kemaluannya. Sang ibu sontak membawa anaknya pulang ke rumah dan mendapati luka lecet di bagian kemaluan anaknya.

Pada tahun 2019, seorang perempuan penyandang autisme yang duduk di bangku kelas 1 SMP di Surabaya menjadi korban pencabulan oleh tetangga kamar indekosnya yang berusia 53 tahun. Pelaku menganggap bahwa korban tidak akan memberontak atau melaporkan sehingga ia berani melakukan pelecehan seksual tersebut.

Berkaca pada sejumlah kasus yang terjadi, sudah bisa dipastikan bahwa baik perempuan maupun laki-laki penyandang autisme atau disabilitas lainnya perlu diberi kesadaran mengenai perilaku seksual yang sehat serta sikap asertif, khususnya kemampuan untuk berkata “tidak.”

Mengajarkan nilai-nilai

Untuk mengajarkan sikap asertif, orang tua perlu berhenti mengajarkan anak untuk menjadi penurut. Anak harus diajarkan konsep negosiasi, kompromi, dll—namun tidak untuk menjadi orang yang penurut.

Pada tahun 2017, Safe Kids Thriving Families—sebuah yayasan perlindungan anak—menggalakkan kampanye agar para orang tua tidak memaksa anak mereka untuk memeluk atau mencium orang dewasa lain dengan alasan mengakrabkan diri maupun lucu-lucuan.

Bagi seorang anak penyandang autisme, seringkali konsep consent, atau persetujuan, diabaikan oleh orang lain. Batasan pribadi seorang penyandang autisme dianggap remeh dan terkesan blur. Oleh karena itu, ketika orang tua hendak mengajarkan anak penyandang autisme untuk berkata “tidak” terhadap kontak seksual yang tidak diinginkan, orang tua harus paham terlebih dahulu bahwa mengucapkan “tidak” itu tidak salah ataupun buruk.

Ajari anak bahwa ketika seseorang meminta anak untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan, maka kata “tidak” harus menjadi pilihan pertama untuk diucapkan anak. Anda bisa mengajarkan ini dengan cara role play atau bermain peran.

Semua perempuan seharusnya bisa aman dari para predator seksual. Kendati demikian, penting untuk mengakui bahwa perempuan penyandang autisme lebih rentan menjadi target pelecehan seksual dan lebih mudah dipengaruhi.

Para penyandang autisme membutuhkan intervensi, dukungan, edukasi, dan petunjuk yang efektif dari orang-orang yang menyayangi dan peduli pada mereka. Autis atau tidak, semua memerlukan dan berhak mendapatkan perlindungan.

Referensi

Alamsyah, S. (2016, October 26). Bocah Penyandang Autis Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sukabumi. Diambil kembali dari Detik News

Anonymous. (2018, January 23). How My Autism Made Me Vulnerable to Sexual Assault. Diambil kembali dari The Mighty

Billiocta, Y. (2018, April 13). Sendirian di rumah, perempuan autis di Jambi diperkosa tukang ojek. Diambil kembali dari Merdeka.com

Newton, G. (2019, April 15). Social/Sexual Awareness. Diambil kembali dari Autism Research Institute

NV. (2018, November 25). Pekak Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Anak Autis. Diambil kembali dari Nusa Bali

Phoenix, L. (2017, September 21). When You’re On The Autistic Spectrum, Consent Is Complicated. Diambil kembali dari The Establishment

Salman, G. (2019, January 29). Siswi Berkebutuhan Khusus Dicabuli Tetangganya di Sebuah Indekos di Surabaya. Diambil kembali dari Kompas.com