Seberapa pentingnya rehat media sosial bagi kesehatan jiwa di tengah wabah virus Corona ini?

Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Ungkapan di atas barangkali sudah sering Anda dengar. Antara tubuh dan jiwa memang memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Jika keadaan jiwa sedang tidak baik, maka kondisi tubuh juga bisa memburuk. Begitu juga sebaliknya.

Itulah mengapa kebahagiaan pun kadang bisa menjadi obat yang manjur untuk menjaga kesehatan tubuh. Jika diri kita stres, sedih, atau depresi, besar kemungkinan tubuh juga akan jadi lemah. Tubuh yang lemah akan rentan terkena penyakit.

Poinnya, di kondisi wabah virus Corona ini penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental dan tetap bahagia. Tidak hanya tubuh saja yang harus dijaga, tapi juga jiwa kita. Kita harus berusaha agar tidak terlalu membebani diri dengan pikiran-pikiran negatif.

Di kala semua orang belajar dan bekerja dari rumah karena isolasi ini, tentunya aktivitas internet dan media sosial lebih banyak dilakukan. Itulah mengapa, mungkin rehat dari media sosial adalah solusi yang tepat demi jiwa yang sehat.

Media sosial penuh dengan konten negatif terkait Corona

Peredaran informasi di media sosial sangatlah cepat. Jika Anda mencari informasi terkini dan aktual, media sosial memang menjadi platform yang tepat untuk mendapatkannya. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, hingga grup Whatsapp.

Namun meski bersifat terkini dan aktual, tingkat keakuratan dan faktualnya informasi yang didapat dari media sosial masih harus diragukan. Bahkan banyak orang yang memanfaatkan masifnya peredaran informasi media sosial sebagai senjata untuk menebar kebencian maupun teror.

Alhasil, media sosial menjadi sarang akan hoax atau berita bohong, serta informasi negatif lainnya. Anonimitas menjadi senjata. Orang bisa seenaknya menyebar informasi di internet dan media sosial tanpa peduli akan tanggung jawabnya.

Contohnya saja, belum lama ini gunung berapi Merapi di wilayah Yogyakarta mengalami erupsi. Faktanya, erupsi kali ini tidak berdampak atau menghasilkan bencana yang merugikan atau membahayakan warga. Namun di Twitter banyak orang yang mengedarkan berita bohong yang melebih-lebihkan berita tersebut menggunakan foto dari erupsi gunung Sinabung yang terjadi bertahun-tahun lalu.

Apalagi di masa mewabahnya virus Corona seperti ini. Tiap harinya, warganet disuguhi berbagai berita mengenai bahaya dan ngerinya virus Corona yang membuat khawatir dan panik. Padahal faktanya mungkin tidak separah itu. Memang hoax bisa dilawan dengan melakukan klarifikasi dan cek ulang kebenaran. Namun tidak semua orang mau melakukannya. Kebanyakan orang—apalagi dalam keadaan panik—hanya menerima informasi mentah-mentah.

Tak hanya hoax. Ujaran kebencian hingga rasisme pun banyak juga beredar. Contohnya dalam wabah virus Corona ini, banyak orang yang justru melakukan ujaran kebencian pada etnis Tionghoa dan Cina karena dianggap sebagai penyebab tersebarnya virus Corona ini.

Tentunya hal negatif seperti ini bisa menyebabkan stres yang cukup besar. Itulah mengapa rehat sosial media kala Corona ini justru menjadi solusi yang cukup baik.

Tips melakukan rehat sosial media

Lantas bagaimana caranya melakukan rehat sosial media? Berikut adalah beberapa tipsnya:

  • Tentukan tujuan. Pertama-tama, tentukan apa tujuan Anda. Apakah Anda ingin stop media sosial secara menyeluruh? Atau hanya platform tertentu saja yang membuat Anda stres? Atau hanya mengurangi waktu yang Anda habiskan di media sosial? Dengan menentukan tujuan, Anda akan lebih mudah menjalani rehat media sosial ini.
  • Batasi akses. Setelah menentukan tujuan, sekarang Anda bisa membatasi akses Anda. Ada banyak pilihan. Misal, jika Anda hanya tidak ingin melihat satu topik, Anda bisa memilih mute beberapa kata kunci atau topik tertentu. Jika Anda tidak ingin menggunakan platform itu sama sekali, anda bisa melakukan deaktivasi akun. Atau Anda juga bisa mencoba uninstall aplikasi media sosial tersebut dari handphone Anda.
  • Perjelas maksud. Perjelas maksud Anda ketika hendak melakukan rehat media sosial. Sebelum Anda uninstall atau deactivate akun, Anda bisa memberitahu beberapa teman dekat. Perjelas apakah Anda sama sekali tidak ingin dihubungi atau berikan mereka opsi lain untuk menghubungi Anda selain melalui media sosial.
  • Lakukan bersama. Semuanya akan lebih mudah jika dilakukan bersama. Anda bisa mencoba mencari partner untuk melakukan rehat media sosial ini. Nantinya, partner ini bisa berfungsi sebagai pengingat Anda atau untuk menjadi tempat mencari hiburan selain media sosial.

Efek samping positif dari rehat media sosial di tengah wabah Corona

Tanpa diduga, rehat media sosial, terutama di tengah Corona ini, memiliki banyak efek positif lho. Anda akan lebih menghargai dan mencintai orang di sekeliling Anda, menemukan lebih banyak koneksi dengan banyak orang, ketenangan jiwa, kedamaian diri, lebih banyak istirahat, dan banyak hal lainnya. Selamat mencoba!

Referensi

Brewer, K. (2020, Maret 16). Coronavirus: How to protect your mental health. Diambil kembali dari BBC News

Tietjen, K. (2020, Januari 5). Want To Take A Social Media Break? Here Are Some Easy Ways To Do It. Diambil kembali dari The Zoe Report

Watson, B. (2017, Agustus 29). Tips to Help You Take the Social Media Break You’ve Been Talking About. Diambil kembali dari LightWorkers

Wong, Q. (2020, Maret 25). Coronavirus sparks a different kind of problem for social networks. Diambil kembali dari CNet