Lingkungan keluarga merupakan salah satu bentuk pola asuh yang membentuk kepribadian dan kecerdasan anak. Tak jarang kita mendengar pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana keadaan latar belakang lingkungan keluarga terhadap seorang anak, seperti pertanyaan “siapa orang tua anak ini” “dari mana anak ini berasal, siapa keluarganya,” dan tentunya masih banyak lagi.

Selain menjadi tempat berlindung bagi anak, keluarga juga menjadi tempat pendidikan pertama kali buat anak. seorang anak dapat dikatakan sebagai makhluk sosial dan mudah berinteraksi secara baik dengan kelompoknya, tentu itu diawali dari lingkungan keluarga dan pola asuh orang tua dalam menentukan kepribadian dan kecerdasan anak.

Setiap orang tua tentunya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, karena itu setiap orang tua memiliki cara pola asuh yang berbeda dalam menentukan kecerdasan anak mereka. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa pola asuh yang mereka terapkan kepada anak mereka itulah pola asuh yang terbaik, padahal belum tentu anak akan menerimanya dengan baik. Dalam pola asuh orang tua juga dapat menentukan hubungan orang tua dengan anak di masa depan.

Faktanya di masyarakat kita saat ini, sudah menjadi hal yang lumrah dalam menerapkan pola asuh dengan cara membentak atau memarahi anak ketika anak melakukan kesalahan, hal ini sudah menggurita dalam masyarakat kita.

Padahal menerapkan pola asuh yang demikian dapat menurunkan daya kecerdasan yang dimiliki anak. Lalu bagaimana sih cara menerapkan pola asuh orang tua kepada anak yang benar?

Gambaran pola asuh orang tua yang baik

Pola asuh orang tua yang baik, tentu dapat memberikan perkembangan yang baik kepada anak, baik itu dari perkembangan fikiran, mental, kepribadian, maupun perkembangan kecerdasan anak.

Menerapkan pola asuh dengan cara yang baik tentunya bukan menjadi hal yang mudah bagi orang tua, karena itu orang tua harus memiliki kesabaran yang tinggi dalam mendidik anak-anak mereka. Seorang anak tidak hanya memerlukan nasihat-nasihat yang baik, tetapi juga memerlukan contoh yang baik dari orang tuanya.  

Namun kebanyakan orang tua hanya memerikan nasihat saja tanpa diimbangi dengan contoh. Hal ini yang terkadang dapat memunculkan pemikiran kurang baik oleh anak, seperti pemikiran “ngapain aku melakukan itu, ayah ibu ku saja tidak melakukannya” atau sebagainya.

Seharusnya, selain memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada anak, orang tua juga harus memberikan contohnya karena anak-anak akan melakukan sesuatu sesuai apa yang ia lihat bukan apa yang ia dengar.

Dari pengamatan, untuk dapat meningkatkan daya kecerdasan anak, ada beberapa hal yang harus orang tua hindari dalam mengasuh anak, yaitu yang pertama, jangan langsung membentak, memarahi, atau mengukum anak ketika ia melakukan kesalahan tanpa bertanya terlebih dahulu.

Hal ini akan menyebabkan anak akan merasa takut untuk berbicara atau bercerita kepada orang tua, sehingga anak akan memilih untuk memendam atau berbohong ketika bercerita.

Seharusnya orang tua bertanya terlebih dahulu kepada anak sebelum memberikan hukuman atau sebelum memarahinya. Hal ini akan dapat memberikan rasa nyaman kepada anak, sehingga waktu anak bercerita ia tidak akan berbohong.

Kedua, jangan menyalahkan anak ataupun orang lain ketika anak lagi berada dalam suatu permasalahan. Tak sedikit orang tua lebih menyalahkan anak ketika anak meminta saran atau jalan keluar bagi suatu permasalahan yang tengah dihadapi.

Ketiga, jangan memaksakan prinsip kepada anak. Terkadang ada beberapa orang tua yang memilih untuk memaksakan prinsip yang telah mereka buat kepada anak, dengan dalih untuk kebaikkan anak dan untuk kesuksesan anak dimasa depan.

Padahal hal demikian justru akan membuat anak merasa tertekan sehingga anak tidak dapat berkembangan, dan tidak dapat mengembangkan bakat yang telah dimiliki akan. Bahkan, tidak sedikit dengan pola asuh yang seperti itu justru membuat anak merasa setres yang berujung pada bunuh diri.

Seharusnya, orang tua bisa memberikan anak kelonggaran dalam berprinsip dan menentukan jalan tujuan nya sendiri. Tapi, tentunya tak lupa dalam pengawasan orang tua. Hal ini akan memberikan dampak yang baik bagi perkembangan kecerdasan yang dimiliki.

Keempat, jangan membatasi pola pikir anak. Kebanyakan orang tua menilai anak tidak mengetahui apa, sehingga orang tua akan membatasi pola pikir anak dengan cara tidak mendengarkan pendapat anak.

Hal seperti ini akan menimbulkan turunnya daya kecerdasan anak, membuat anak kehilangan rasa percaya diri, dan tidak dapat berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar. Sebagai orang tua, kita tidak boleh membatasi pola pikir anak karena pola pikir yang baik, kritis akan meningkatkan kecerdasan anak dengan sangat baik.

Menerapkan pola asuh orang tua yang baik

Dalam lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran sebagai pendidik bagi anak, karena didikan orang tua anak dapat dikatakan sebagai makhluk sosial, dan dapat berinteraksi dengan baik atau tidak di dalam kelompoknya.

Namun dalam masyarat saat ini pendidikan yang keras maupun kasar, seperti memukul, membentak, memaki, dan lain sebaginya, menjadi hal yang lumrah. Padahal hal tersebut tidak baik diterapkan selama mendidik anak.

Sebagai orang tua, harusnya kita dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak dengan cara tidak membentak, tidak menyalahkan, tidak memaksakan prinsip, dan tidak membatasi pola anak. Hal ini dilakukan agar kecerdasan dapat berkembangan dengan baik.

Penulis: Firda A’inanil Asyrofah

Photo: peoplecreation