Diversitas kebudayaan nusantara adalah nilai tambah untuk Indonesia. Artikel imaos tentang Tradisi Palang Pintu menjadi salah satu bacaan populer kalian semua. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas juga tentang tradisi perkawinan masyarakat Sasak yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Sejauh yang kita tahu, masyarakat Sasak hidup di wilayah kepulauan Lombok. Populasi mereka di pulau Lombok mencapai hampir 90% dari etnis-etnis lain di sampingnya, seperti etnis Sumbawa, Bali, China, Bugis, dan sebagainya. Namun secara kultural mereka tetap dekat dengan kebudayaan Jawa dan Bali karena dulunya Lombok adalah bagian dari kerajaan Majapahit.

Meskipun terdapat kemiripan dalam sosio-kultural dengan Jawa dan Bali, masyarakat Sasak memiliki kekhasan tersendiri untuk tradisi perkawinannya. Tradisi perkawinan masyarakat Sasak bisa dikatakan berbeda jauh dengan kebudayaan di Jawa dan Bali melalui praktik tradisi Merariq dan Selabar.

Ciri Khas Perkawinan Masyarakat Sasak

Jadi, ada hal yang mungkin akan membuat kalian semua tertarik dengan tradisi masyarakat Sasak ini. Tradisi Merariq dan Selabar ini merupakan kekhasan dari kebudayaan di masyarakat Sasak yang sampai saat ini masih dilestarikan.

Merariq sendiri adalah salah satu cara yang harus dilakukan dalam prosesi perkawinan di tengah masyarakat Sasak. Dalam konsep masyarakat Sasak, merariq adalah sebuah perjanjian antara wanita dan perjaka yang memiliki ikatan cinta untuk melanjutkannya ke jenjang pernikahan. Nah, tradisi merariq ini adalah bentuk dari janji lelaki untuk melarikan sang gadis dari rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua, kerabat, dan pihak-pihak lain.

Nah, dalam pelaksanaan tradisi ini, lelaki dibantu oleh orang yang dipercaya untuk membantunya menculik wanita idamannya dari rumah orang tua untuk disembunyikan ke tempat yang aman. Dengan begitu, orang tua dan kerabat dari wanita ini akan bingung dan mencari anak perempuannya itu.

Setelah itu, lelaki akan mengajak orang tuanya untuk menemui orang tua perempuan yang dilarikan tadi untuk negosiasi. Dalam hal ini, mereka menyebut negosiasi ini sebagai tradisi selabar. Negosiasi ini bertujuan untuk pihak lelaki mengutarakan niatnya menikahi anak perempuan yang dilarikan tadi.

Makna Adat Merariq dan Tradisi Selabar

Keunikan tradisi pernikahan di masyarakat Sasak ini menarik banyak perhatian para pakar kebudayaan. Salah satu publikasi yang berjudul Perkawinan Adat Merariq dan Tradisi Selabar ini menjelaskan secara mendalam konsep adat pernikahan yang mereka miliki.

Secara etimologi, merariq sendiri berasal dari bahasa Sasak yang berarti “berlari” sehingga konsep adat merariq ini memang sudah sewajarnya jika menculik perempuan yang ingin dinikahinya dan diajak berlari dari rumah. Dari bentuk tindakan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sasak, maka aktifitas ini menjadi sebuah kebudayaan atau tradisi dalam salah satu proses pernikahan di kalangan mereka.

Namun demikian, tradisi ini terjadi karena sejarah yang terjadi pada abad ke-17 saat pengaruh Hindu-Bali merambah luas di wilayah Lombok. Dahulu, para wanita Sasak sering dijadikan gundik dan disekap di dalam rumah sehingga jika seorang lelaki mencintainya maka ia harus menyelamatkan wanita itu dengan mengajaknya berlari menyelamatkan diri dari rumahnya lalu menikahinya.

Nah, tapi siapa yang tidak marah jika ada orang yang menculik wanitanya dari rumah. Maka dari itu, sering kali muncul kesalahpahaman di dalamnya. Oleh karena itu, adat Sasak memfasilitasi dengan selabar atau negosiasi untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi.

Tradisi selabar ini merupakan tradisi berkomunikasi dua arah antara kedua belah pihak. Dalam tradisi selabar, teknik negosiasi kompetitif dan negosiasi kooperatif sangat diperlukan. Hal ini untuk menemukan mufakat kenapa wanitanya diculik dari rumah dan kenapa pihak orang tua harus mengizinkan lelaki yang menculiknya itu menjadi menantunya.

Namun demikian, tetap saja negosiasi ini tidak akan berjalan mudah karena faktor-faktor yang mempengaruhi. Layaknya orang tua pada umumnya, mereka akan merestui pernikahan anaknya jika calon menantunya memiliki kualifikasi yang diinginkan, seperti status sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Kearifan Lokal Budaya Perkawinan Masyarakat Sasak

Sebagian orang mungkin menganggap tradisi ini terlalu sembrono, nekad, atau bahkan tidak sopan. Tapi, dalam konstruksi kebudayaan tidak ada namanya baik dan buruk karena semuanya memiliki landasan yang kuat kenapa itu dilakukan. Baik budaya perkawinan masyarakat Sasak maupun masyarakat lain.

Terlepas dari penilaian orang tentang kebudayaan pernikahan di masyarakat Sasak, tim imaos melihat bahwa lelaki Sasak adalah sosok yang sangat maskulin, berani, dan bertanggung jawab. Hal ini bisa dilihat dari keberanian seorang lelaki mengajak pergi anak gadis orang untuk disembunyikan dari orang tuanya.

Tapi, lelaki Sasak juga berani mengakui kepada orang tua gadis yang ia culik bahwa penculikan itu didasarkan pada rasa cinta. Lalu, ia kembali lagi ke orang tua si gadis untuk bernegosiasi untuk merestui cintanya. Sikap pemberani seperti ini yang perlu diteladani oleh seorang lelaki.

Berani mencintai, berani mengambil risiko!