Berbeda dengan guru pada umumnya, wali kelas di tingkat SD, SMP, maupun SMA memiliki peran yang lebih besar, terutama untuk menangkal radikalisme pada murid. Berdasarkan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018, wali kelas bertugas untuk mengelola kelas secara khusus, berkomunikasi dengan orang tua/wali murid, mengurus administrasi kelas, menyusun dan mencatat laporan siswa secara khusus, mengisi dan membagi buku rapor, dll.

Guru mata pelajaran tertentu biasanya hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan materi sesuai jadwal. Sedangkan, seorang wali kelas bertanggung jawab secara menyeluruh sekaligus secara personal terhadap satu kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang wali kelas yang baik seharusnya mengenal tiap murid di kelasnya satu per satu.

Pendekatan secara personal ini penting. Meskipun keluarga tetap menjadi lingkaran terdekat sang anak perihal pendidikannya, bukan berarti tanggung jawab seorang wali kelas terhadap siswanya berakhir seusai bel pulang sekolah.

Kerentanan murid terpapar radikalisme

Di usia sekolah, seorang anak sangat rentan terhadap persebaran informasi yang menyimpang. Tidak jarang anak justru terpapar informasi yang menyesatkan di luar sekolah ataupun di luar rumah. Ketika ini terjadi saat keluarga tidak ada, hanya wali kelas lah yang mampu menjadi sosok orang dewasa yang bisa diandalkan anak.

Kedekatan yang personal antara wali kelas dengan siswanya penting untuk dibangun. Wali kelas harus paham sifat dan karakter unik dari tiap murid dan membagi perhatiannya dengan adil dan spesifik. Meskipun guru agama juga bertanggung jawab dalam memberikan materi yang tepat, peran wali kelas tetap penting sebagai sosok pengawas dan pembimbing secara berkelanjutan.

Di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) anak cenderung menjadikan guru sebagai teladan. Oleh karena itu, wali kelas harus menjadi contoh dan panutan yang mencerminkan perilaku dan tindakan yang baik.

Saat ini, isu radikalisme yang menyusup ke murid di sekolah kian hangat dibicarakan. Paham agama yang ekstrim dan radikal masuk ke sekolah melalui berbagai cara seperti buku pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga doktrin oleh guru di ruang kelas.

Dilansir dari berita kompas.com, pada tahun 2017 ditemukan sebuah sekolah berbasis agama di Bogor. Sekolah tersebut dianggap menanamkan nilai-nilai kebencian dalam budayanya, bahkan hingga menolak nilai-nilai Pancasila maupun lagu Indonesia Raya.

Peran wali kelas menangkal radikalisme

Pada tahun 2016, berita dari news.okezone.com menguak mengenai ditemukannya buku sekolah yang berisikan ajaran radikal di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Buku yang berjudul ‘Anak Islam Suka Membaca’ itu menyertakan kalimat “…..karena suka cita rela mati bela agama”. Kalimat ini tentunya tidak sejalan dengan ajaran Islam, karena tidak ada ajaran membela Islam yang mengarahkan ke kematian.

Untungnya, Ririn Istikomah, salah seorang guru SD di Ponorogo cukup jeli dan bersama para guru lainnya mendesak agar buku ini direvisi atau ditarik dari peredaran. Dalam kasus lainnya, di banyak SMA maupun universitas di Indonesia sering terjadi kaderisasi melalui kegiatan mentoring agama maupun kegiatan rohani ke-Islam-an (rohis).

Meskipun keluarga juga harus punya peran dalam melindungi anak murid dari radikalisme, kali ini saya lebih ingin menekankan pada peran guru, khususnya wali kelas. Karena ada wujud peran yang lebih intim antara wali kelas dan murid daripada dengan guru pada umumnya. Berikut ini adalah 7 wujud peran yang baiknya dilakukan oleh seorang wali kelas:

  1. Menilai kebutuhan usia perkembangan siswa
  2. Memastikan tiap siswa merasa diperhatikan dan terpenuhi kebutuhannya
  3. Memperkenalkan anak terhadap budaya masyarakat maupun nilai agama yang baik dan yang benar
  4. Memulai dan menjaga komunikasi dengan orang tua murid mengenai perkembangan anaknya
  5. Mengawasi dan merekam pencapaian siswa secara akademis maupun non-akademis
  6. Menentukan budaya dan aturan di dalam kelas agar para murid bisa belajar berbagi dengan harmonis
  7. Menyediakan ruang belajar dan bermain yang aman dan nyaman

Peran wali kelas sebagai perpanjangan tangan orang tua

Wali kelas harus bisa menjadi pengganti orang tua serta pembawa amanat orang tua yang sudah rela menitipkan anaknya ke sekolah. Tanggung jawab ini bukanlah hal yang sepele. Wali kelas harus menjalin komunikasi yang intens dengan orang tua. Selain itu, wali kelas juga harus memperhitungkan kondisi di rumah si murid agar tidak terjadi perbenturan nilai antara ajaran di rumah dengan di kelas.

Namun di sisi lain, para fams selaku orang tua juga harus memastikan adanya ikatan kepercayaan dengan wali kelas agar anak tetap terjaga pendidikannya dan tidak terpapar nilai-nilai yang merusak. Pilihlah sekolah yang tepat dan percayakan anak Anda dengan guru yang berkualitas.

Referensi

Awak, U. (2014, April). Peranan Wali Kelas di Sekolah. Diambil kembali dari Matra Pendidikan

Mustawan, A. (2018, April 20). Guru Harus Peduli Meski di Luar Sekolah. Diambil kembali dari Kuningan Mass

Saint Ignatius College. (2015). Seven Dimension of the Homeroom Role. Diambil kembali dari Competence Conscience Compassion

Subekhi, A. (2016, February 17). Buku SD Mengandung Kalimat Radikalisme Beredar di Ponorogo. Diambil kembali dari OkeNews