Penulis: Delfi Rismayeti

Editor: Bernadeta Diana

Prestasi anak yang cemerlang di sekolah sudah tentu jadi dambaan hampir seluruh orang tua di belahan dunia manapun. Terlepas dari prestasi tersebut berada pada ranah akademik maupun non-akademik, perihal prestasi anak sendiri kerap menjadi bahan perbincangan hangat sesama orang tua. Akan tetapi, seberapa jauh kita menyadari bila semangat anak untuk belajar tumbuh karena  peran penting kedua orang tuanya?

Berorientasi Pada Proses

Sebagai sekolah pertama sebelum anak memasuki jenjang sekolah formal, kehadiran orang tua dalam menemani setiap tahapan belajar anak di rumah, akan berdampak pada kegemaran anak dengan aktivitas belajar. Apalagi bila orang tua mampu membuat suasana belajar di rumah jadi menyenangkan. Mengapa demikian? Anak yang belajar ditemani orang tuanya akan merasa didukung dan diperhatikan. Anak pun tidak merasa sendirian ketika menghadapi pertanyaan maupun pernyataan sulit karena ada orang tua di sampingnya yang siap menjawab hal-hal yang belum ia mengerti dalam proses belajarnya.

Bila aktivitas belajar bersama anak dibiasakan orang tua sedari awal, belajar yang oleh sebagian besar anak digambarkan sebagai aktivitas membosankan bisa jadi tak berlaku lagi. Mereka akan bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru atau mengulang kembali hal yang sudah dipelajari di sekolah. Ketika guru di sekolah memberikan pekerjaan rumah, anak akan tidak sabar bertemu dengan orang tuanya untuk belajar bersama di rumah.

Yang harus para orang tua ingat, menemani anak belajar di rumah bukan berarti memproyeksikan anak untuk senantiasa menjadi sempurna di sekolah. Orang tua boleh membantu dalam proses pengerjaan tugas dari sekolah, namun sekadar memeriksa atau mendiskusikannya. Kecenderungan orang tua untuk mengerjakan tugas milik anak perlu dihindari agar si kecil mengenal tanggung jawab. Biarkan anak belajar kemandirian dari kewajiban yang diberikan kepadanya. Jika si anak salah dalam mengerjakan tugas, tetap beri apresiasi pada tindakan positif yang ia lakukan tanpa perlu menunjukkan kekesalan. Sadari bahwa belajar merupakan proses, bukan sekadar berorientasi pada hasil.

Memperkuat Ikatan antara Orang Tua dan Anak

Kesibukan orang tua menjalankan peran masing-masing terkadang membuat lupa bahwa anak juga butuh waktu bersama. Apalagi jika anak sudah bersekolah dan orang tua bekerja agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan demikian, waktu orang tua untuk bersama anak pun menjadi semakin terbatas.

Menemani anak belajar di rumah dapat menjadi momen yang tepat untuk menumbuhkan serta memperkuat bonding atau ikatan antara orang tua dan anak. Tak perlu menemani anak belajar selama berjam-jam, kehadiran orang tua meski hanya 15 menit tentu sangat berarti bagi si anak. Pada momen tersebut, orang tua perlu benar-benar memusatkan perhatian pada apa yang dipelajari anak, tanpa ponsel maupun urusan pekerjaan lainnya. Artinya, orang tua perlu hadir sepenuhnya bagi anak sehingga dapat akan meningkatkan keintiman komunikasi antar keduanya.

Agar suasana belajar mengalir santai, orang tua juga bisa mengawali dengan meminta anak untuk menceritakan kembali apa yang didapatnya hari itu di sekolah. Selain untuk meninjau aktivitas anak di sekolah, orang tua secara tidak langsung juga melatih memori anak untuk mengingat apa yang sudah ia dapatkan dari lingkungan di luar keluarganya.

Kesediaan orang tua untuk mendengarkan amat penting. Dengan mendengarkan, orang tua memberi anak izin untuk mengutarakan pendapat maupun keinginannya. Terkadang anak terpaksa berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya, misalnya saat mendapat nilai jelek karena takut dimarahi. Jika sudah begini, orang tua perlu mengajak si buah hati membicarakan kesulitan-kesulitan yang dialaminya secara lebih jauh tanpa perlu memberikan pelabelan tertentu.  

Referensi:

https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/20/20185171/5-tips-orangtua-menemani-anak-belajar
https://nakita.grid.id/read/029468/lakukan-ini-saat-menemani-anak-belajar-di-rumah?page=all