Pertanyaan kalau besar mau jadi apa seringkali muncul di obrolan orang tua dengan anaknya. Mengingat hal tersebut, saya jadi terpikirkan lirik sebuah lagu.

Susan susan susan

Cita-citamu apa lagi

Aku kepingin jujur

Biar jadi insinyur

Kalau kalau benar

Jadi insinyur mau apa

Mau bangun gedung bertingkat

Bagi Anda yang sempat menikmati masa kecil di era 90-an, besar kemungkinan Anda familiar dengan potongan lirik di atas. Lirik tersebut merupakan bagian dari lagu berjudul ‘Susan Punya Cita-cita’ yang populer dibawakan oleh seorang ventriloquist terkenal, Ria Enes, dan boneka Susan.

Lagu ini menjadi cerminan yang sempurna terhadap kebiasaan orang tua yang senang menanyakan anaknya jika besar nanti ingin jadi apa. Dalam lagu tersebut, boneka gadis kecil yang akrab disapa Susan itu menjawab kelak ingin menjadi dokter, insinyur, konglomerat, hingga presiden.

Cita-cita memang harus setinggi langit”, ujar Ria Enes dalam lagu tersebut. Tak hanya dari Ria Enes, kalimat tersebut juga pasti sering kita dengar di masa kanak-kanak dari mulut orang tua. Sejak kecil, anak diajak oleh orang tua untuk menentukan cita-citanya setinggi mungkin.

Ingin yang terbaik bagi sang anak

Pertama-tama, mari kita tilik mengapa pertanyaan ini kerap dilontarkan oleh para orang tua. Sekilas, bisa disimpulkan orang tua hanya ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh anaknya. Barangkali, orang tua bisa membantu mengarahkan anaknya untuk menggapai cita-cita tersebut. Lagipula, orang tua mana yang tidak senang bila anaknya sukses menggapai impiannya.

Sayangnya, terkadang pemenuhan cita-cita ini berpotensi berubah menjadi tuntutan hidup yang membebani pikiran orang tua dan anak. Tak hanya kerja keras dan komitmen, upaya memenuhi cita-cita juga seringkali menuntut kemampuan finansial. Misalnya saja, demi melancarkan keinginan anaknya menjadi seorang dokter, seorang ayah harus merelakan menjual mobilnya demi biaya pendidikan anaknya.

Terkadang pertanyaan ini pun hanya menjadi sebatas pertanyaan atau formalitas obrolan saja tanpa adanya respons, niat, atau upaya yang mendukung. Lantas bagaimana jika anak menjawab ingin jadi astronot, miliarder, atau presiden?

Mengapa kalau besar mau jadi apa baiknya tidak ditanyakan

Usut punya usut, saat ini ternyata banyak ahli perkembangan anak yang mengimbau para orang tua untuk tidak lagi bertanya kalau besar mau jadi apa? pada anaknya. Esai berjudul “Stop Asking Kids What They Want to Be When They Grow Up” yang ditulis oleh Adam Grant di The New York Times merangkum alasannya dalam 3 poin yang cukup lugas.

Pertama, pertanyaan semacam ini memaksa anak untuk mengidentifikasi dirinya sendiri dengan sebuah profesi pekerjaan. Seperti lagu Susan yang menyebut berbagai profesi seperti dokter dan insinyur. Ketika seorang individu terlalu melekatkan identitas dirinya dengan sebuah pekerjaan, orang tersebut bisa padam semangatnya atau kehilangan tujuan hidup.

Kedua, pertanyaan ini akan membuat anak berpikir bahwa semua orang harus punya satu cita-cita dalam hidupnya. Meski memiliki cita-cita atau tujuan hidup mampu memberi seseorang motivasi untuk mengejar mimpi, hal ini juga dapat menghasilkan kebingungan dan kekecewaan yang mendalam.

Faktanya, ada banyak orang yang tidak berhasil menggapai cita-citanya, namun tetap mampu hidup berkecukupan dan bahagia. Fakta lainnya, ada banyak cita-cita yang tercapak tidak diiringi penghasilan yang cukup, dan banyak yang tidak cukup berbakat untuk mengejar mimpinya. Mengutip kata-kata Chris Rock, “kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau—selama ada lowongan yang mau menerimamu.

Terakhir, banyak karier yang tidak selalu mampu memenuhi mimpi sang anak. Tidak ada untungnya mendorong anak untuk mengejar mimpinya menjadi dokter atau presiden hanya untuk mendapati kekecewaan yang mendalam di ujung jalan. Apalagi jika si anak ternyata takut melihat darah atau tidak nyaman berbicara di depan umum.

Stigma membentuk pekerja

Tidak hanya orang tua, pemerintah dan banyak instansi pendidikan pun turut membentuk anak untuk ‘mencetak SDM’ atau ‘mencetak tenaga kerja yang unggul’. Hal ini turut mendukung fakta bahwa profesi pekerjaan dan karier kini menjadi tolok ukur kesuksesan dan kesejahteraan seorang individu.

Sistem yang ada pada akhirnya mendorong munculnya banyak eksekutor, namun minim adanya konseptor. Sebuah profesi dikejar mati-matian, namun tidak dijalani dengan semestinya. Bagi masyarakat, titel pekerjaan adalah segalanya.

Jabatan dielu-elukan, sedangkan manfaat dan dampak positif dari pekerjaan itu sendiri jadi kurang diperhatikan. Istilah pekerjaan yang ‘terhormat’ kini turut disandingkan dengan derajat seseorang. Faktanya, banyak orang tua yang lebih bangga dengan anak yang ‘sukses’ menjadi dokter daripada anak yang menjadi sukarelawan yang menolong banyak orang.

Bagaimana baiknya bertanya kalau besar mau jadi apa

Bagaimana respons Anda ketika alih-alih menjawab pertanyaan kalau besar mau jadi apa dengan menyebutkan profesi-profesi keren seperti Susan, anak malah menjawab ingin menjadi “ibu rumah tangga”, “anak yang berbakti”, atau sesederhana ingin menjadi “orang yang baik”?

Seorang anak yang masih lugu memiliki imajinasi yang luas. Jangan persempit pandangan anak terhadap dunia dengan menentukan jalan hidupnya sejak dini.

Alih-alih bertanya mengenai cita-cita anak, mengapa tidak menanyakan hal-hal seperti:

“Apa yang membuatmu bahagia?”

“Apa kira-kira kegiatan yang kamu senang lakukan berjam-jam?”

“Masalah apa yang ingin kamu cari solusinya?”

“Menurutmu, apa bakatmu yang bisa berguna untuk orang lain?

Anda juga bisa mencoba mengarahkan anak dengan mencari tahu lewat pertanyaan-pertanyaan di atas. Misal anak Anda menjawab “tidak tahu” ketika ditanya mengenai cita-citanya. Kemudian Anda bertanya pada anak, “masalah apa yang menurutmu perlu diselesaikan?” lalu anak menjawab, “kemiskinan.” Kemudian, Anda bisa menjelaskan pada Anak mengenai berbagai cara agar si anak bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut, entah sebagai seorang peneliti, pekerja sosial, pedagang, atau presiden.

Dengan begitu, pertanyaan kalau besar mau jadi apa sudah tidak relevan lagi untuk ditanyakan.

Referensi

Annisa, K. (2018, Mei 4). 10 Kebiasaan Orang Tua Indonesia yang Dianggap Unik oleh Orang Asing. Diambil kembali dari IDN Times.

Grant, A. (2019, April 1). Stop Asking Kids What They Want to Be When They Grow Up. Diambil kembali dari The New York Times.

Rasudi, A. M. (2017, Oktober 21). ‘Susan Punya Cita-Cita’ adalah Lagu Anak Paling Seram Sepanjang Masa. Diambil kembali dari Vice.com.

Todd, S. (2019, April 5). The question we should ask kids instead of “What do you want to be when you grow up?”. Diambil kembali dari Quartz at Work.