Patah hati sang buah hati untuk pertama kali harus dihadapi dengan serius oleh para orang tua.

“Pain is inevitable. Suffering is optional.”

– M. Kathleen Chasey

Rasa sakit memang sulit dihindari, namun kita bisa memilih untuk menderita atau tidak. Kira-kira begitulah penjelasan dari kutipan di atas. Tidak setiap hari kita akan dipertemukan oleh momen dimana anak kita tercinta pulang ke rumah, dengan mata yang sembab, hidung merah, dan pandangan kosong penuh rasa sedih dihiasi rasa benci. Tanpa bisa dikira, hari itu telah tiba—sang anak putus cinta.

Momen seperti inilah yang pasti membuat kita sebagai orangtua bertanya-tanya: ada apa gerangan; apa yang dia rasakan; apa yang harus kulakukan.

Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya, bukan berarti anda bisa menyepelekan hati yang terluka. Apalagi jika bagi anak anda patah hati itu adalah yang pertama. Rasa sakit memang bisa hilang, namun luka akan membekas. Alangkah baiknya jika Anda menyiapkan pertolongan terbaik agar sang anak bisa kembali seperti sedia kala.

Semakin tinggi ia terbang, maka semakin keras jatuhnya ke daratan. Maka dari itu, kali ini kami akan mencoba untuk sedikit menerangi jalan Anda, para orangtua, mengenai bagaimana menyikapi patah hati sang buah hati untuk pertama kali.

Apa yang perlu dilakukan orangtua ketika menghadapi kondisi anak yang kecewa, dilanda lara, terpagut nestapa, serta batinnya terluka?

Patah hati anak karena cinta

Hubungan cinta yang berakhir merupakan pengalaman yang dapat menguras energi, memicu perasaan bersalah, dan menurunkan kepercayaan diri. Peristiwa ini tidak hanya mampu membuat anak mempertanyakan identitasnya, tapi juga kemampuannya untuk berhubungan dengan orang lain.

Hal yang paling penting untuk orangtua lakukan dalam hal ini adalah mendengarkan. Anda boleh saja memberikan petuah maupun saran, namun tunggu dulu hingga sang anak selesai bercerita. Akan tetapi bersiaplah untuk berhenti menasihati ketika sang anak memberikan tanda lampu merah. Misalnya, ketika sang anak tidak bereaksi seperti yang anda inginkan, atau bila sang anak malah menentang petuah anda. Jika itu terjadi, berhentilah berbicara—ucapkan maaf, lalu lanjut mendengarkan.

Biasanya anak laki-laki dan perempuan akan menunjukkan respon yang berbeda terhadap patah hati. Bentuk kedekatan serta eratnya ikatan perasaan antara orangtua dan anak akan sangat berpengaruh terhadap proses maupun hasil penyembuhan hati ini. Berilah anak ruang dan biarkan ia memilih kepada siapa ia ingin bercerita.

Membuat anak nyaman dan percaya

Anak cenderung akan memilih orang yang paling membuatnya nyaman dan paling ia percaya. Akan tetapi tak hanya itu saja. Anda sebagai orangtua juga harus menunjukkan kepedulian yang total. Tunjukkan bahwa anda tidak menganggap patah hati anak ini sebagai hal yang sepele ataupun remeh-temeh. Dengan begitu, kepercayaan anak terhadap kepedulian orangtua akan meningkat karena dirinya dianggap penting dan berharga.

Apabila anak tidak ingin bercerita, bukan masalah. Anda tetap bisa menawarkan kehangatan dan distraksi lainnya. Anda bisa mencoba memberi anak pelukan erat tanpa perlu banyak berbicara, atau coba membawa anak anda membeli makanan yang ia sukai, atau jalan-jalan ke tempat favoritnya. Bawa anak untuk sejenak melupakan kepahitan yang terjadi hingga ia siap menata hati dan berbagi.

Namun terlepas dari segala usaha yang anda berikan, belum tentu anda akan selalu berhasil membuat sang anak tersenyum kembali. Itu adalah hal yang normal. Anda bukan manusia-segala-bisa yang bisa memperbaiki segala apapun. Mungkin memang Anda tidak bisa memperbaiki perasaan anak anda, tapi Anda bisa memastikan bahwa anda selalu ada bagi sang anak kapanpun ia membutuhkannya. Pastikan anda mengkomunikasikan hal tersebut. Selalu pastikan tangan dan telinga Anda terus terbuka lebar untuk ia mencari perlindungan, dekapan hangat, serta berbagi keluh kesah hingga ia kembali merasa baik-baik saja.

Referensi

Descôteaux, J. (2019, February 18). How to: Dealing with your child’s first heartbreak. Retrieved from Mother for Life

McFadden, J., & Whyman, M. (2018, October 20). The secret to mending your child’s first broken heart. Retrieved from The Guardian