Dalam parenting, mendidik rasa hormat merupakan satu dari sekian poin penting yang perlu dilakukan oleh orang tua pada anaknya. Mengapa ini penting? Sejatinya, anak merupakan cerminan orang tuanya. Tingkah laku anak sebagian besar merupakan hasil dari pola didik keluarga. Anak yang memiliki budi pekerti yang baik tentunya membuat orang tua bangga.

Namun demikian, berperilaku baik saja tidaklah cukup. Bagi kebanyakan orang tua dalam keluarga Jawa, menjadi sebuah kebanggaan ketika anak tahu bagaimana harus berperilaku di hadapan orang yang lebih tua dan semestinya dihormati. Banyak anak yang tahu bagaimana berperilaku sopan, namun tidak semua anak paham caranya memperlakukan orang yang lebih tua dengan rasa hormat yang sepatutnya.

Bagi Anda yang besar di keluarga Jawa, tentunya Anda pernah mendengar pentingnya unggah-ungguh, ataupun ngajeni wong liyo. Unggah-ungguh dapat diartikan sebagai sopan santun atau tata krama. Sedangkan ngajeni wong liyo dapat diartikan sebagai menghargai, menghormati, atau merasa segan terhadap orang lain. Dua konsep ini dan banyak konsep dalam parenting adat Jawa lainnya merupakan fondasi dalam membentuk sikap dan rasa hormat pada anak.

Bahasa Jawa dan rasa hormat dalam parenting

Bahkan bahasa pun dapat menjadi instrumen yang luar biasa efektif guna mengajarkan anak mengenai respek atau rasa hormat, terutama dalam parenting. Bahasan ini mengacu pada bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa, terdapat tatanan atau tingkatan dalam bahasa yang penggunaannya dibedakan berdasarkan situasi atau lawan bicaranya.

Ada bahasa Jawa kasar (ngoko), bahasa Jawa halus (kromo madya), dan bahasa Jawa yang sangat halus (kromo inggil). Dalam keluarga Jawa, anak diajarkan untuk menggunakan tatanan bahasa yang lebih halus ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.

Kesadaran akan penggunaan tatanan bahasa yang tepat secara tidak langsung akan melatih anak untuk pandai menempatkan diri. Dalam adat Jawa, penggunaan bahasa Jawa ngoko terhadap orang yang lebih tua kerap dianggap kurang sopan, bahkan kurang ajar. Sebaliknya, jika anak pandai berbahasa kromo ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, ia akan lebih mudah disukai dan dianggap mendapatkan pola asuh yang tepat.

Dengan mengajarkan tatanan bahasa Jawa yang lengkap kepada anak dalam parenting, anak akan menjadi pribadi yang dapat memiliki rasa hormat terhadap orang lain, berlaku santun, serta lebih mudah bergaul di masyarakat.

Perangai baik cerminan sikap hormat

Kebanyakan orang tua Jawa menekankan dalam pola parenting bahwa dengan menjadi orang Jawa artinya anak harus memiliki rasa hormat pada orang lain. Dengan kata lain, ngajeni wong liyo. Artinya, bagi orang Jawa, keberadaan orang lain itu penting dan harus dihormati agar hidup menjadi selaras dan anak lebih mudah diterima oleh lingkungannya.

Masih segar di ingatan saya tiap kali orang tua saya mengingatkan saya ketika masih kecil untuk tidak bertolak pinggang atau melipat tangan ketika berbicara di hadapan orang yang lebih sepuh. Juga untuk menutup mulut ketika mengunyah makanan.

Seiring saya tumbuh dewasa, saya baru menyadari pentingnya tata krama sederhana tersebut.  Waktu saya masih kecil dulu, tiap kali saya mudik ke rumah kakek saya di Baturetno, saya selalu diajak kakek untuk duduk santai di teras rumah di pagi hari dan menyapa tiap warga yang lewat dengan ucapan monggo atau pinarak. Meski terkesan seperti formalitas yang melelahkan (karena di pagi hari banyak sekali warga yang lewat untuk berangkat kerja), saya akhirnya memahami pentingnya membiasakan hal tersebut. Kini, saya terbiasa selalu menyapa orang lain kala berpapasan dengan sapaan sederhana yang berbalas dengan senyum yang penuh makna.

Dengan memberikan sapaan tersebut, secara tidak langsung saya menunjukkan rasa hormat saya terhadap keberadaan orang lain, tak peduli siapa orang itu. Orang yang disapa pun akan merasa dihormati dan diperlakukan dengan ramah.

Referensi

Bijak Jawa. (2016, November). URIP BARENG KUDU NGAJENI WONG LIYO | PITUTUR JAWI. Diambil kembali dari Erhaje

Bima, D. (2018, Mei 12). “Ngajeni” Media Belajar Sosial Suku Jawa Membangun Toleransi di Era Globalisasi. Diambil kembali dari Kompasiana

Rochayanti, C., Pujiastuti, E. E., & Warsiki, A. (2012, Agustus). Sosialisasi Budaya Lokal dalam Keluarga Jawa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(3), 308-320.