Penulis: Vindiasari Yunizha

Editor : Bernadeta Diana

Internet dan  media sosial menjadi hal yang familiar dengan kehidupan para orang tua milenial. Dalam pencarian informasi seputar parenting, orang tua milenial juga kerap mengandalkan gawai sehingga menjadi lebih terbuka terhadap informasi terkini. Salah satu karakter yang melekat dari pola pengasuhan generasi milenial antara lain mulai mengandalkan kolaborasi dan mengesampingkan pembagian tugas secara gender. Tidak heran jika belakangan banyak laki-laki ikut berperan dalam pengasuhan anak.

Permasalahan yang Sering Muncul.

Dalam proses pengasuhan anak, orang tua tak lepas dari masalah-masalah. Permasalahan yang dihadapi oleh orang tua cukup variatif. Beberapa masalah yang muncul dalam keseharian di antaranya ketidakpatuhan anak, bermain tak kenal waktu, dan sebagainya.  Merujuk pada Jurnal Ilmu Komunikasi, permasalahan orang tua dalam mendidik anak disebabkan pada satu sumber, yakni komunikasi.

Selain komunikasi, permasalahan yang kerap dialami orang tua di Indonesia adalah  ketidaksiapan mental dalam memiliki anak. Sebagai individu, ada pula orang tua yang  ‘belum selesai’ dengan dirinya. Mereka cenderung mementingkan keinginan pribadi dengan mengutamakan egonya. Status dan peran boleh berubah menjadi ayah atau ibu, namun mereka cenderung ingin memenuhi keinginan, harapan, hingga ekspektasi sebagai individu. Dengan demikian, proses pengasuhan anak menjadi kurang maksimal.

Ada pula golongan yang merasa telah siap memiliki anak. Kendati demikian mereka sering memaksimalkan otoritas sebagai ayah atau ibu dari anak-anak. Contoh nyata yang sering terjadi dalam pengasuhan anak adalah mengarahkan anak seperti harapan atau ekspektasi mereka. Kecenderungan tersebut secara tidak langsung memiliki unsur paksaan. Di samping itu, banyak pula yang menginginkan anak lebih baik dari mereka.

Memang orang dewasa lebih mengetahui sesuatu yang baik untuk anak. Mereka merasa memiliki andil penuh dalam proses tumbuh kembang anak. Otoritas orang tua dalam mendidik anak memang tak salah. Namun memaksakan ego mereka untuk kepentingan atau kepuasan sendiri kurang tepat.

Mereka beranggapan anak sebagai sosok yang belum memiliki otoritas. Sebagaimana dalam Konvensi Hak Anak (KHA), anak memiliki hak untuk mendapatkan kesamaan. Artinya, masing-masing anak memiliki kesempatan yang sama untuk dapat tumbuh dan  berkembang. Seiring berjalannya waktu, anak pun mulai bisa menentukan keputusan dan keinginannya sendiri.

Mengenal Konsep Mindful Parenting.

Pola asuh yang berporos pada orang tua akan lebih baik dengan konsep mindful parenting. Dikutip dari Parentalk, mindful parenting menekankan pada pengasuhan berdasarkan kesadaran. Dalam konsep tersebut ada lima dimensi di antaranya mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati, tidak menghakimi, pengendalian emosi diri, welas asih, adil, dan bijaksana.

Bukan hanya itu, faktor lingkungan dan budaya sekitar perlu diperhatikan. Mengarahkan memang baik, namun tak boleh melupakan sejatinya anak-anak.  Mereka juga berhak untuk berpendapat dan tak boleh memaksakan kehendak.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Michelle Beer, dkk, penerapan mindful parenting oleh orangtua pada anak terbukti dapat mengurangi stres, meningkatkan kepuasan dalam pengasuhan, penurunan agresi anak, peningkatan perilaku prososial anak, menumbuhkan dan mempertahankan kontak afektif yang paling dasar, meningkatkan kualitas komunikasi verbal dan nonverbal antara orang tua dan anak, bahkan secara efektif mampu membantu upaya pengasuhan para orang tua dari anak autis dan ADHD.

Otoritas Orang Tua dalam Mindful Parenting

Mindful parenting sendiri memiliki menekankan pada pengasuhan positif. Bagi keluarga yang menerapkan mindful parenting, tentu akan menyadari bahwa orang tua tetap punya kendali dalam mendidik anak. Mereka mengasuh anak secara kolaborasi dengan melibatkan sang anak. Orang tua akan mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati. Mereka memainkan peran sebagai komunikator yang efektif. Untuk itu, kesalahan yang perlu dihindari orang tua dalam menerapkan pengasuhan macam ini adalah memberi label, membandingkan, mengancam, hingga menghakimi.

Setelah menjalankan komunikasi efektif, rasa percaya antara anak dan orang tua pun tumbuh. Dengan begitu, orang tua akan mengetahui batas dan emosi mana yang harus dikeluarkan saat menghadapi anak. Pengendalian emosi diri dari orang tua terasa semakin mawas diri. Dengan begitu, pola pengasuhan yang terjalin cenderung positif.

Sumber:

Setyowati, Y., (2013). Pola komunikasi keluarga dan perkembangan emosi anak (studi kasus penerapan pola komunikasi keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosi anak pada keluarga Jawa). Jurnal Ilmu Komunikasi. 2.

Beer, M., Ward, L., & Moar, K. (2013). The relationship between mindful parenting and distress in parents of children with an autism spectrum disorder. Mindfulness 4, 102–112.