Suatu hari, tiba-tiba anak melontarkan pertanyaan mengenai surga dan neraka. Ke mana perginya seseorang setelah ia mati? Siapa yang berhak masuk surga? Mengapa orang masuk neraka?

Pertanyaan seputar alam baka, akhirat, maupun kehidupan pasca kematian, kerap dilontarkan oleh anak. Konsep ini biasanya hadir dengan penjelasan yang berbeda-beda pada tiap agama dan keyakinan. Guna menjawab pertanyaan anak, dalam agama Samawi—Islam, Kristen, dan Yahudi—konsep kehidupan pasca kematian hadir dalam bentuk surga dan neraka.

Menjelaskan mengenai surga dan neraka pada anak yang masih belia bukanlah hal yang mudah. Jika Fams salah langkah, Fams bisa kehilangan keluguan si buah hati dalam sekejap. Layaknya menggali sebuah fosil, terkadang kita perlu menggunakan kuas, bukan sekop.

*****

Putri, seorang gadis kecil berusia 7 tahun, menangis di pelukan ibunya. “Bu, Putri takut,” ujar gadis itu di tengah isaknya. “Kata ibu guru, sebentar lagi mau kiamat. Putri takut masuk neraka. Putri masih belum rajin salat,” lanjutnya.

Di kasus lain, Budi, seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun, berteriak kesal ke ayahnya. “Yah! Ayo ke gereja! Nanti ayah gak masuk surga lho!” ujarnya dengan mantap. 

Peliknya ajaran agama untuk anak dan berbagai pertanyaan mengenai surga dan neraka

Berangkat dengan alasan ‘membuat anak taat beribadah’, banyak sekolah yang memberikan penjelasan mengenai konsep surga dan neraka yang terkadang terlalu ekstrem bagi anak. Surga seringkali digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan tiada tara. Sedangkan neraka digambarkan sebagai tempat yang penuh siksa yang sadis dan bengis.

Hasilnya, anak beribadah karena takut akan neraka dan mendambakan surga bahkan tanpa melontarkan satupun pertanyaan. Dalam tingkat ekstrem, bahkan ada anak yang ingin segera mati karena ingin segera berada di sisi Tuhan. Ini bukanlah hal yang baik.

Menanamkan agama dan keimanan pada anak sejak dini memang penting, namun bukan berarti Anda bisa menyodorkan semua ajaran dan aturan agama kepada anak sekaligus. Tanamkan ajaran agama pada anak mengikuti perkembangan usianya. Biarkan anak menyerap ajaran agama secara perlahan dengan temponya sendiri.

Kebanyakan ajaran agama bersifat abstrak dan konseptual. Berdasarkan teori perkembangan kognitif anak menurut Jean Piaget, anak berusia 7 hingga 11 tahun baru mulai belajar berpikir rasional. Dengan kata lain, anak mampu berpikir secara logis melalui objek-objek yang konkrit dan nyata. Di tahapan usia ini, anak belajar melalui pengalaman serta interaksi secara langsung, bukan dari simbol, ide, maupun abstraksi.

Konsep surga dan neraka merupakan salah satu sisi agama yang berpotensi memicu rasa ingin tahu dan pertanyaan dari anak. Itulah mengapa, orang tua harus siap menjelaskan ketika anak bertanya.

Beberapa tips menjawab pertanyaan anak mengenai surga dan neraka

Pertama-tama, pastikan anak berada dalam kondisi emosi yang positif. Pikiran yang tenang dan bahagia akan mempermudah anak dalam melakukan rasionalisasi terhadap informasi yang akan Anda paparkan. Pilihlah waktu dan tempat yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Baru setelah itu Anda bisa menjawab pertanyaan anak mengenai surga dan neraka.

Kedua, gunakan bahasa sehari-hari yang mudah diserap dan dipahami anak. Dewasa ini, banyak interpretasi dan pertanyaan terhadap kenikmatan surga maupun siksa neraka yang terlalu dilebih-lebihkan untuk anak. Alih-alih menggoda hasrat anak terhadap kenikmatan surga atau menakut-nakuti anak dengan siksa neraka, paparkanlah sesuai dengan apa yang ada di kitab suci. Hindari metafora atau analogi yang mungkin malah membuat anak tambah bingung.

Ketiga, jelaskan tentang surga lebih dahulu sebelum menjelaskan tentang neraka. Hal-hal yang positif akan lebih mudah menetap di pikiran anak daripada hal-hal yang negatif. Perbanyak cerita mengenai keindahan agama, rasa cinta Tuhan pada makhluk-Nya, rasa damai yang didapat dari beribadah dan berbuat kebaikan, dll. 

Keempat, sertakan penjelasan Anda dengan gestur kasih sayang, seperti tepukan, belaian, pelukan, atau ciuman. Perlakuan ini akan membuat anak mengasosiasikan penjelasan mengenai kehidupan pasca kematian dengan perasaan yang baik dan nyaman.

Setelah itu, Anda mulai bisa menyeimbangkan informasi mengenai neraka. Kurangi pemaparan mengenai penyiksaan. Jelaskan mengenai neraka seperlunya dan tekankan bahwa jika anak berbuat baik dan rajin beribadah, ia tidak akan masuk neraka. Selipkan juga informasi bahwa Tuhan itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang, agar anak tidak dihantui oleh rasa takut dan ngeri akan agama.

Penjelasan lebih lanjut

Ketika anak tumbuh besar menginjak usia remaja, Anda mulai bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep dan jawaban atas pertanyaan mengenai surga dan neraka dengan pemaparan yang lebih abstrak. Selain menjelaskan mengenai konsep surga dan neraka, Anda juga perlu menjelaskan mengenai kematian pada anak—jelaskan bagaimana tubuh berhenti berfungsi secara fisiologis, dan jelaskan bahwa tubuh tetap akan membusuk di liang lahat, serta perbedaan antara jiwa dan raga.

Anda juga bisa memberi anak kesimpulan bahwa semuanya merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. Beri anak pemahaman bahwa pengetahuan Anda sebagai manusia pun memiliki batas. Jelaskan pada anak bahwa Tuhan mengetahui segalanya di atas kemampuan manusia. Paparkan bahwa surga dan neraka adalah bentuk keadilan dari Tuhan, bahwa kebaikan dan keburukan memiliki balasannya masing-masing.

Referensi

Carter, N. (2015, April 8). When Your Child Is Terrified You’re Going to Hell. Diambil kembali dari Patheos

JellyTelly Guest Writer. (2014, April 17). How to Talk to Your Kids About Heaven. Diambil kembali dari Jellytelly Parents

Lestari, A. J. (2017, June 15). Mendampingi Anak Mengenal Surga dan Neraka. Diambil kembali dari SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Neffinger, V. (2017, May 3). 5 Things to Remember When Your Child Asks about Hell. Diambil kembali dari Crosswalk