Membicarakan urusan rumah tangga di meja makan sudah menjadi pilihan umum! Cobalah sesekali membicarakan urusan rumah tangga sembari mencuci piring bareng istri! Ada sensasi lain yang akan kamu dapatkan! Percayalah!

“Apa, mencuci piring bareng istri? Enggak ah!” Begitu komentar seorang teman. “Tidak ada yang mudah atau sulit! Semua kembali pada diri masing-masing.” Setidaknya begitu kalimat yang tepat untuk menjawab suami yang ‘enggan’ melakukan pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan istri atau perempuan. Salah satu contohnya adalah mencuci piring.

Tidak sedikit dari lingkar pertemanan saya yang masih membedakan pekerjaan rumah tangga mereka. Saya tidak bisa menyalahkan atau membenarkan. Tapi, barang kali mereka perlu memahami ada hal sederhana yang bisa menjadikan rumah tangga semakin bahagia, juga hal sederhana yang bisa menjadikan rumah tangga porak-poranda.

Anggapan bahwa istri memiliki tugas rumah; menyapu, memasak, cuci baju, cuci piring dan mengurus anak, saya kira perlu kita evaluasi sekali lagi. Setidaknya bagi kita yang generasi saat ini, calon ayah dan ibu muda yang baru memulai atau bahkan yang masih bersiap menuju pernikahan.

Membagi Tugas Rumah Tangga Secara Adil Bukan Berdasar Anggapan

Menikah adalah keputusan besar, sebuah keputusan yang diambil secara bersama-sama dengan sadar. Risiko dari pernikahan, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk kita ambil. Tentu saja tidak hanya sekedar risiko, namun beban kerja dan tanggung jawab yang bisa dibagi secara adil dan merata juga perlu untuk dibicarakan ketika kita memutuskan untuk menikah. Sesederhana urusan rumah yang tidak sederhana, seperti halnya mencuci piring bareng istri.

Tidak sedikit pernikahan yang ‘keindahannya’ hanya berlangsung selama pesta pernikahan, mungkin bertahan satu atau dua bulan ke depan. Mengapa? Karena berbagai kesepakatan luput untuk dibicarakan terlebih dahulu, salah satunya kesepakatan perihal pekerjaan. Lelaki lebih cenderung memaksakan kehendak, dan menjadi diktator baru ketika sebuah hubungan resmi diikat dalam pernikahan.

Salah satu yang menjadi sebab seorang lelaki menjadi diktator pada istrinya adalah pandangan atau anggapan umum. Sekali lagi, lingkungan menjadi ‘pengaruh’ dalam kita membangun rumah tangga. Misal, jika kita mengamini lingkungan yang menyatakan “perempuan sebaiknya diam di rumah” maka kita akan mulai risau karena istri masih saja bekerja.

Kemudian lingkungan memiliki anggapan bahwa; “urusan rumah itu urusan istri, mengasuh anak itu tanggung jawab istri” Maka ketika akan mencuci piring bareng istri, lantas sebagai suami kita kembali risau? Kita yang awalnya menjadi pengasuh anak bersama istri, mau mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian berubah menjadi adegan pada film atau sampul ilustrasi buku, majalah jaman dulu; Ibu memasak, ayah baca koran.

Saya rasa pembaca IMaos sudah jauh melebihi batas kemampuan untuk menerjemahkan anggapan umum dan mengembalikan semua pada prinsip kehidupan berumah tangga yang didasari kesepakatan bersama. Karena tidak jarang, selepas acara pernikahan hantu “anggapan umum” menjadi beban satu pihak dalam pernikahan, bisa jadi menimpa perempuan atau pun laki-laki. Sehingga tidak heran jika ada yang beranggapan mengapa menikah jika sendiri lebih baik?

Memahami Beban Kerja Istri di Rumah

Ketika kita telah membuat kesepakatan bersama pasangan, sebagai lelaki jika kita mau melihat sedikit lebih dalam, kita akan mendapati bahwa beban istri jauh lebih berat. Mungkin apa yang saya sampaikan akan berbeda dari setiap rumah tangga, namun ini adalah hal yang umum kita jumpai di masyarakat kita. Istri akan mendapatkan beban kerja yang jauh lebih besar dibanding suami, namun selalu dibalik anggapan ini bahwa “beban kerja suami jauh lebih besar”.

Ketika kita sepakat untuk tetap bekerja, suami bekerja dan istri bekerja. Dalam konsep rumah tangga ideal, tentu pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan pihak ketiga, kita bisa membayar jasa, mempekerjakan Asisten Rumah Tangga misalnya. Tapi bagaimana ketika kita tidak menggunakan ART? Ketika kita berbicara rumah tangga baru dengan UMR Jogja misalnya! ART tentu bukan pilihan!

Maka pekerjaan rumah akan tetap menjadi tanggung jawab bersama. Namun alih-alih menjadi pekerjaan bersama, sesederhana menyapu, atau mencuci piring bareng istri tidak sedikit lelaki yang enggan untuk mengerjakan pekerjaan rumah; mencuci, menyapu, memasak, beres-beres, atau mengasuh anak.

Untuk urusan mengasuh anak ini saya tekankan pada ‘menjadi pengasuh’ yang sesungguhnya tidak sekedar menemani anak bermain agar istri bisa memasak. Walau dalam tahapan ini sudah membagi peran. Namun ada hal lain yang suami perlu ketahui, misalnya, bagaimana ketika mengganti popok anak, membuatkan susu di tengah malam, bisa segera terjaga ketika anak menangis. Hal-hal ini lebih banyak diperankan oleh istri. Di sini saya pernah menyebutkan bagaimana kebanyakan dari suami pada akhirnya menjadi ayah yang tidak hadir.

Beban kerja istri di rumah begitu besar! Jika pun istri tidak bekerja, secara penuh menjadi Ibu rumah tangga, beban pekerjaan rumah akan tetap besar. Maka, perlu dalam rumah tangga kita membicarakan ini sejak awal pernikahan, bahkan ketika dalam tahap menuju pernikahan. Membicarakan bagaimana pembagian tugas dan tanggung jawab secara adil.

Mencuci Piring Bareng Istri Dahulu Kualitas Rumah Tangga Kemudian

Mengapa kita sebagai suami perlu memulai dari kegiatan mencuci piring? Ini pekerjaan yang menurut istri saya ‘menjengkelkan’ tidak jarang tumpukan piring, mangkok, gelas, dan perabot menjadi pemandangan di dapur rumah kami, bisa jadi pemandangan serupa juga ada di dapur kamu?

Alasan kedua adalah, buat kamu suami yang baru belajar berbagi tugas rumah, percayalah mencuci piring adalah tugas termudah yang bisa kamu lakukan. Urusan mencuci piring tidak akan membuat kamu kawatir ‘ketahuan’ tetangga kamu sedang mengerjakan pekerjaan rumah, jika kamu masih belum benar-benar yakin menghapus anggapan umum di lingkungan tempat tinggal kamu.

Mencuci piring yang letaknya di dapur, area tersembunyi dari rumah, akan menghindarkan kamu dari sorotan ibu-ibu atau bapak-bapak di lingkungan tempat tinggalmu, sehingga tidak perlu menjadi ‘rasan-rasa tetangga” baik itu dalam hal positif atau pun negatif.

Selain itu, di antara pekerjaan rumah tangga yang lain, mencuci piring merupakan kegiatan yang paling berdampak pada hubungan suami istri. Ini bukan kata saya pribadi! Ini menurut sebuah penelitian yang dilakukan Council of Contemporary Families, AS. Bahwa;

kegiatan mencuci piring lebih banyak dilakukan oleh para istri, dan mereka mengaku kurang puas dengan pernikahan mereka. Pernikahan mereka cenderung diwarnai konflik dibandingkan para istri yang suaminya mau membantu cuci piring.

Urusan Ranjangmu Dimulai Dari Mencuci Piring Bareng Istri

“Dampak lebih lanjut dari kegiatan cuci piring sampai ke urusan ranjang. Istri yang lebih sering mencuci piring sendiri dilaporkan memiliki kehidupan seks yang buruk. Berbeda dengan istri yang berbagi tugas rumah tangga dengan suaminya.”

Mengapa kegiatan mencuci piring menjadi penting agar kualitas rumah tangga kita terus meningkat dan terhindar dari konflik? Hail penelitian yang sama menyebutkan: Pertama, melihat tumpukan piring kotor akan membuat jengkel. Kedua, para istri biasanya tidak akan mendapat pujian jika berhasil menyelesaikan kegiatan mencuci piring, beda dengan ketika memasak.

Alasan ketiga, istri terlalu dibebani dengan pekerjaan bersih-bersih rumah, dan biasanya yang mengotori rumah adalah suami atau anak-anak mereka. Dari tiga kondisi ini jika dibiarkan lama-kelamaan akan memicu stres dan kemarahan yang terpendam

Nah, buat kamu para suami jika selama ini ada saja cekcok kecil yang terjadi, bisa jadi muaranya adalah tumpukan piring kotormu sendiri. Atau jika kualitas hubungan seksual mulai tidak menyenangkan, coba lihat lagi apakah dapurmu sudah bersih? Siapa yang membersihkan. Jadi para suami, apakah mau diam diri, atau mulai mencuci piring bareng istri?