Imaos
Laku Hidup

Menjadi Lelaki Sesederhana Membeli Popok Sebelum Pulang

People photo created by rawpixel.com - www.freepik.com

Aku tidak tahu konsep menjadi lelaki ideal yang ada di balik tempurung kepalamu. Bisa jadi konsep budaya dan lingkungan kita yang tidak jauh berbeda, akan memberikan konsep lelaki ideal yang kurang lebih sama. Mulai ketika kita lahir, tumbuh dalam keluarga, mulai mencari dalam usia remaja, kian dewasa dan akhirnya menjadi lelaki itu sendiri.

Sebuah perjalanan yang mungkin saja akan membuat kita tertawa, bahwa kita pernah ingin tumbuh jerawat agar terlihat lebih lelaki, atau menginginkan jakun agar lebih macho. Semua atribut biologis seorang lelaki yang kita dambakan dari waktu ke waktu pertumbuhan sebagai seorang lelaki.

Lelaki Ideal Dalam Ingatan Masa Kecil

Bagaimana kamu melihat ayahmu yang pendiam? Bisa jadi kamu melihat diamnya seorang ayah adalah hal yang tidak menyenangkan, dan begitulah kelak kita akan tumbuh, menjadi sosok manusia dengan jenis kelamin lelaki yang akan diam saja ketika seorang perempuan menghujani dengan banyak pertanyaan.

Semoga adegan semacam ini tidak hanya ada dalam ingatan masa kecilku, tapi juga masa kecilmu. Konsep lelaki ideal yang ada dikelapaku tidak jauh dari apa yang ada dan terlihat dari sosok ayahku.

Mengcopy semua yang ayah kerjakan, mulai dari cara menyisir rambut, melipat lengan bacu, menggendong aku dibelakang, memilihkan warna baju, sampai cara memberi uang saku yang tanpa menghitung lebih dulu.

Diam, tenang, dan semua diperhitungkan tanpa perlu banyak diskusi.  Lelaki dalam gambaran seorang ayah adalah perintah dan kerja. Memerintah anaknya melakukan ini, meberi hadiah atas apa yang kita kerjakan. Sesekali juga bisa memberikan ganjaran yang setimpal atas apa yang kita perbuat.

Keluar dari ingatan pada sosok ayah yang melekat dalam darah dan daging kita sebagai seorang anak lelaki, juga melihat sosok lelaki ideal pada Abang, Om, atau siapapun yang terlihat begitu garang, dengan suara berat, kumis, jenggot, wajah kasar, dan jangkun yang tumbuh.

Sebuah konsep lelaki ideal yang jauh sebelum kita bersama-sama megenal artis korea sebagai identitas baru dalam New Masculinity yang wangi, berwajah bersih dan dapat menari lincah gemulai dan menjadi idola kaum wanita masa kini.

Menjadi Lelaki Ideal Dalam Perjalanan Masa Remaja

Kita tumbuh dalam lingkungan yang berbeda ketika remaja, dari berbagai lingkungan pertemanan, dari berbagai jenis musik yang di dengarkan, idola masa remaja, cita-cita sebagai remaja lelaki tanggung, semua mendukung satu konsep baru seperti apa lelaki ideal sesungguhnya.

Tidak sepenuhnya melepas konsep lelaki yang ada dari ayah kita, tetapi bumbu baru mulai masuk. Gaya rambut yang berbeda, pilihan warna pakaian, model sepatu, wangi parfum. Semua mulai berubah. Tidak sedikit yang terjebak pada konsep lelaki ideal dari sisi lawan jenis.

Kita mulai menirukan bagaimana konsep lelaki dari sisi idola remaja. Jika ingatan itu aku putar kembali kadang aku tertawa sendiri, aku pernah se-emo itu, atau aduh pilihan musikku dulu norak sekali, atau  aku pernah punya poni. Semua adalah proses, dari apa yang kita rekam, dari lingkungan yang kita masuki. Tentu aku dan kamu akan berbeda.

Tapi usia remaja ini kita mulai mengerti bahwa menjadi lelaki sejatinya adalah bagaimana mengalahkan hati wanita pujaan. Bagaimana membuat dia bisa tertarik dengan penampilan diri kita. Sesederhana bagaimana ketika seorang manusia kali pertama merasakan jatuh cinta. Maka konsep lelaki pun mulai menjadi berubah untuk ke sekian kalinya.

Menjadi Lelaki Malam Ini

Saat aku menulis ini, aku sempat menengok kembali  ke dalam kamar, istriku dan anakku telah tertidur lelap. Sedang aku masih terjaga dengan gelas kopi ketiga. Aku melihat sejenak wajahku ke dalam cermin, mengingat kembali setiap kenangan yang lalu lalang, masa putih abu-abu, perpindahan kehidupan dari satu kota ke kota lain, sampai akhirnya aku berada di rumah ini, membangun keluarga kecil sejak dua tahun lalu.

Aku mengerti, aku telah melewati berbagai  proses menjadi seorang lelaki. Proses yang barang kali tidak pernah menemukan akhir, atau kata sempurna dari setiap tahapan. Tidak ada tanda centang sebagai pernyataan selesai, atau nilai yang diberikan dari setiap rekam jejak upaya menjadi lelaki ideal sesederhana melihat ayah membawa pulang popok untuk adik pada ingatan masa kecil dua puluh tahun lalu.

Dan saat ini, pada tahapan yang apakah masih ada ‘lelaki ideal’ yang aku impikan di kepalaku, aku telah menjadi seperti ayahku. Lebih bayak diam dari setiap hujan pertanyaan istriku. Menebar senyum dari setiap tumbuh kembang anakku.

Kini aku mengerti bahwa menjadi lelaki sesederhana membeli popok sebelum pulang, dan memastikan orang-orang yang aku cintai, mereka yang mau berbagi dalam satu lantai dan atap kehidupan ini dapat terjaga, tertidur pulas, tersenyum dengan mimpi dan impian masing-masing atas kehidupan di dunia ini.

Related posts

Pahami 8 Ciri-cirinya! Mungkin Saja Anak Anda adalah Pelaku Bullying

Vikra Alizanovic
8 bulan ago

Pengalaman Ayah Membangun Kedekatan dengan Anak dari Jarak Jauh

Mabruri Salim
11 bulan ago

Pentingnya Kehadiran Orang Tua dalam Menemani Anak Belajar

Admin
1 tahun ago
Exit mobile version