Kecenderungan perundungan terjadi pada anak difabel memicu terciptanya sebuah lagu yang mengekspresikan fenomena tersebut.

Suatu saat nanti aku akan menjawabnya, dengan cara apapun aku pasti bisa 

Ingatlah manusia tak ada yang sempurna, karena hidup itu berawal dari tinta pena 

Coba resapi dan kucoba hadapi, semua cobaan yang telah terjadi

Sajak di atas merupakan potongan lirik dari lagu berjudul “Kubalas dengan Karya” ciptaan Achmad Rizki Fauzi. Pria yang lebih akrab dipanggil Rizki ini merupakan penyandang disabilitas asal Banyuwangi. Dia menciptakan lagu tersebut sebagai bentuk ekspresi dan respons atas perundungan atau bullying yang ia rasakan di masa kecilnya.

Kondisinya sebagai seorang difabel membuatnya dihina, dipukuli, dan disuruh-suruh oleh teman-teman sebayanya. Hal-hal ini dilakukan kepadanya hanya karena ia berbeda.

Kondisi serupa terjadi pada Abi, seorang mahasiswa penyandang tunadaksa di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Kondisinya tubuhnya yang memiliki keterbatasan membuatnya sering menjadi bahan olokan teman-temannya. Tak hanya secara verbal, terkadang perundungan yang ia terima sebagai anak difabel juga menjurus ke arah fisik. Kejadian ini kerap membuatnya sedih, tertekan, bahkan hingga depresi.

Perundungan terhadap anak difabel harus dihentikan

Terkadang perundungan terhadap para anak difabel bisa sangat keterlaluan. Zulfikar, seorang difabel kelahiran Pati, Jawa Tengah, mengaku sering mendapatkan perlakuan yang tidak layak karena kondisinya yang berbeda. Teman-teman sekolahnya dulu kerap menertawakan, mengejek, menguncinya di kamar mandi, meniru gesturnya yang dianggap aneh di hadapan kelas, dll.

Zulfikar dilahirkan dengan kondisi Aspyhxia Neonatal, yakni sebuah kondisi yang menyebabkan dirinya sulit bicara dengan lancar serta sulit menggunakan tangannya untuk aktivitas tertentu. Ditambah lagi, banyak orang terdekatnya yang meragukan kemampuannya untuk mencapai mimpinya.

Perundungan secara verbal sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kebanyakan anak difabel. Faktanya, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mendapatkan pendidikan dan informasi yang cukup mengenai disabilitas. Alhasil, kata-kata yang menyakiti hati dan merendahkan bisa dengan mudahnya keluar dari mulut siapapun.

Contohnya seperti yang terjadi pada Andika, seorang pemuda kelahiran Riau. Sejak lahir, Andika menderita gangguan saraf di lengan kirinya sehingga lengan kirinya tidak bisa berfungsi. Di desa kelahirannya, ia kerap menerima ejekan dari teman-teman dan warga sekitar. Ungkapan “ngapain main sama dia, dia kan cacat” sering sekali ia dengar.

Peran orang tua menekan perundungan terhadap anak difabel

Kasus Rizki, Abi, Zulfikar, dan Andika memiliki beberapa kesamaan, yakni adanya dukungan orang tua yang membuat mereka terus menjalani hidup dengan semangat yang positif. Pengaruh dukungan orang tua memang sebesar itu. 

Kendati demikian, sebagai seorang orang tua dari anak difabel, tentunya mengetahui anak tercinta Anda mengalami perundungan bukanlah kabar yang menyenangkan. Bersikap suportif terdengar sederhana, namun belum tentu setiap orang tua tahu bagaimana penerapannya.

Banyak artikel yang mengimbau para orang tua untuk mencari tahu jika anaknya menjadi korban perundungan di sekolah maupun di lingkaran pergaulannya. Namun sangat jarang ada informasi mengenai cara yang tepat untuk meringankan beban anak, terutama anak difabel.

Dukungan dari orang tua

Mari kita merujuk ke beberapa kasus di atas. Zulfikar sempat malas untuk sekolah karena takut. Tetapi ayahnya selalu berpesan bahwa jika ia tidak mau sekolah, berarti ia membiarkan keterbatasannya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa Zulfikar tidak seperti apa yang teman-temannya katakan dan lebih berharga dari apa yang mereka tertawakan. Kini Zulfikar tengah melakukan studi doktoral di universitas internasional dan sukses menjadi penulis di berbagai media.

Berkat dukungan dari ibunya untuk masuk sekolah, Rizki memiliki modal untuk mulai berani berkarya. Abimanyu mengatakan bahwa dukungan dari keluarga membuatnya tetap kuat. Keluarga mendorongnya untuk tetap mencoba bersosialisasi dengan teman-temannya tanpa melepaskan pengawasan mereka. Andika mengaku bahwa dukungan yang hangat dan penuh cinta dari keluarga membuatnya tetap berjuang hingga sekarang ia sukses menjadi seorang barista meskipun kondisinya sebagai anak difabel kerap mendapat perundungan.

Gestur-gestur kecil dari orang tua ini justru menjadi modal utama bagi para anak difabel dalam melanjutkan kehidupan mereka. Kepercayaan bahwa setidaknya masih ada orang tua yang mendukung mereka membuat anak difabel menjadi lebih berani menantang dunia. Itulah inti dari semuanya. Orang tua harus mampu menjadi benteng yang kokoh sekaligus rumah yang nyaman untuk anak berlindung dan berteduh dari serangan apapun.

Jika orang tua saja tidak bisa mencintai kekurangan anaknya, jangan berharap orang lain bisa melakukan hal yang sama. Perundungan memang salah dan sulit untuk dihilangkan dalam waktu semalam saja. Oleh karena itu, orang tua harus memulai dari diri sendiri untuk bisa menanamkan cinta dan keberanian pada anak.

Referensi

Advice if your disabled child is bullied. (2019). Diambil kembali dari Bullying.co.uk.

ap/as. (2016). Dulu Dibully Karena Derita Difabel, Kini Go Internasional. Diambil kembali dari dw.com.

Disability and Safety: Information about Bullying. (2019). Diambil kembali dari CDC.gov.

Hakim, A. F. (2019). Kisah Perjuangan Andika, Dibully karena Keterbatasan Fisik Hingga Buktikan Bisa Jadi Barista. Diambil kembali dari TribunJakarta.com.

Kurniawan, E. (2018). Penyandang Tuna Daksa Ini Beberkan Pengalaman Jadi Korban Bullying. Diambil kembali dari Malangtoday.net.

Rachmawati, I. (2019). Kisah Rizky, Sering Dihina karena Difabel, Balas dengan Ciptakan Lagu. Diambil kembali dari Kompas.com.