Imaos
Laku Hidup

Mengapa Menikah Jika Lajang Lebih Baik?

Jika menjadi lajang jauh lebih baik mengapa menikah? Untuk apa membagi kebahagiaan jika itu juga untuk membagi penderitaan? Apa masih harus beranak pinak di bumi yang kian sesak? Bukankah menjadi bijak untuk tetap sendiri tanpa harus berbiak?

Salah satu isu yang aku kira tidak akan pernah habis untuk kita bicarakan adalah perihal keputusan untuk menikah. Ia tidak pernah menjadi sederhana, walau dalam puisi Sapardi yang dibutuhkan untuk memulai sebuah ikatan pernikahan salah satunya adalah cinta yang sederhana.

Tapi bukankah melalui puisi Sapardi telah berhasil mengelabuhi kita semua? Bahwa cinta yang sederhana adalah cinta yang paling tidak sederhana. Dan kita tahu, Sapardi adalah cinta itu sendiri, dia menikah dan beranak pinak. Sampai maut, mengantar Sapardi di suatu pagi pada usia senja dengan penuh cinta kembali ke surga.

Tidak! Kita tidak akan membicarakan sapardi, walau sebagian dari kita mungkin saja telah mengambil banyak kata-kata dari penyair ini untuk tujuan ‘cinta manusia’. Sebuah cinta yang bisa jadi tidak menemukan jawabnya atas pertanyaan “mengapa menikah?”, atau sebuah cinta yang diam-diam tak menginginkan ikatan sebagai tanda yang diamini langit dan juga manusia.

Apakah Sendiri Lebih Baik?

Bagi aku yang kini telah menikah, aku kembalikan pada pertanyaan sederhana kepada mereka yang bertanya mengapa aku memutuskan untuk menikah. Apakah sendiri lebih baik? Sebagian besar dari orang yang aku kenal yang kini masih melajang ternyata juga tidak mampu membendung persoalan mereka sendiri, tetap saja membutuhkan orang lain yang ‘antara dipaksa atau tidak’ menjadi tempat sampah dari omong kosong dan bualan kehidupan.

Apa bedanya dengan aku yang kini bisa berbagi persoalan kehidupan dengan istriku? “Lebih terhormat aku kira.” Untuk menjawab mengapa menikah. Dari pada mengganggu waktu orang lain yang sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan omong kosong dari kesendirian yang merongrong.

Kita, memang makhluk sosial, itu kodrat. Sendiri yang menjadi paling sendiri tidak pernah mampu kita lakukan.  Bagaimana pun akan membutuhkan waktu untuk membuka kata pertama dalam memuntahkan berbagai keluh kesah dari setiap detik yang kita habiskan tanpa terasa atas carut marut dunia.

Jadi, mengapa aku menikah? Karena mengakhiri kesendirian adalah jalan terbaik dari sisi manusia sebagai mahluk sosial yang melekat dalam jiwaku. Orang-orang akan pergi, temanku semasa SMA, temanku semasa kuliah, rekan kerja yang berubah menyebalkan, semua akan pergi, semua memiliki ruang dan waktunya sendiri. Aku bukan benalu kesendirian untuk mereka, juga sebaliknya.

Fitrah Manusia Menyalurkan Nafsunya

Tidak sedikit dari lingkaran pertemananmu yang bisa jadi memiliki otak sumbu pendek, atau jaringan data pengetahuan yang terlalu lemah, sehingga segala yang membawa pertalian antara dua jenis kelamin selalu dihubungkan dengan nafsu, birahi, dan kebutuhan biologis. Seolah jawaban mengapa menikah adalah persoalan di antara dua paha.

Tidak seutuhnya salah atau pun benar, memang fitrah manusia adalah menyalurkan nafsunya. Di berbagai ajaran agama pun perihal ini telah jelas menjadi pedoman, juga dalam tuntunan moral. Lalu apa yang patut dipertanyakan? Apa yang patut untuk dijawab jika memang menikah adalah sebagai jalan menyalurkan nafsu?

Jika merunut pada apa yang dituliskan Ferdy misalnya, kita bisa melihat bagaimana ada proses memilih, menentukan, siapa yang akan kita nikahi, salah satunya ya dari orientasi seksualnya. Ini menjadi penting, sejak awal. Sehingga tidak terjadi hal-hal di luar koridor kesepakatan dalam menyalurkan dan memenuhi tuntutan nafsu biologis atau apalah istilah untuk memperhalus kata ‘sange’.

Sehingga jika ada yang masih saja menuduhmu menikah karena nafsu, menikah bukan karena kematangan usia, ya wajar-wajar saja. Sematang-matangnya usia atau mental dari penilaianmu atau penilaian mereka, selepas pesta pernikahan yang dituju area itu juga. Percayalah!

Kembali Pada Pertanyaan; Mengapa Menikah?

Baik kita kembali pada pertanyaan mengapa menikah jika lajang lebih baik? Begini, pertama aku tidak mengajukan pernyataan bahwa lajang lebih baik atau menikah menjadi lebih baik. Pertanyaan sebagai sebuah judul atas pertanyaan orang kepadaku, yang kemudian aku ajukan sebagai judul pertanyaan kepadamu.

Jawabannya? Terserah, bagaimana kamu mampu menjawabnya, apakah kamu masih ingin sendiri, atau memutuskan untuk mulai menyiapkan pesta pernikahan. Apakah akan menahan laju kehancuran bumi dengan tidak berkembang biak dan menuju kepunahan bersama, atau melanjutkan normalnya mahluk hidup berkembang biak di alam semesta ini.

Jika kemudian aku menikah, karena aku telah melewati setiap pertanyaan dan ketakutan seperti yang sedang atau akan kamu rasakan di setiap malam-malam dingin dan sendirian. Sabarlah, menjadi lelaki memang tidak pernah mudah.

Related posts

Patah Hati Sang Buah Hati: Ketika Pertama Kali

Vikra Alizanovic
1 tahun ago

Tradisi Selamatan Kelahiran Bayi dalam Adat Jawa: Brokohan, Sepasaran, dan Selapanan

Vikra Alizanovic
9 bulan ago

Apa Keuntungan Melatih Bayi Makan Sendiri Sejak Dini?

Vikra Alizanovic
1 tahun ago
Exit mobile version