Penulis: Yosimi Ratna

Editor: Bernadeta Diana

Puasa adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh umat Islam sebagai wujud ketaatan terhadap Allah SWT. Kewajiban berpuasa tercantum pada Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Sebagai orang tua, merupakan suatu tanggung jawab yang besar untuk membiasakan anak berpuasa. Adalah tugas orang tua untuk mengajak anak memahami puasa bukan hanya sebagai rangkaian kegiatan keagamaan semata, melainkan sebuah pendidikan untuk menjadi manusia. Terlihat masuk akal jika yang dihadapi adalah remaja atau dewasa muda. Pertanyaannya, bagaimana jika anak masih dalam masa kanak-kanak? Dari mana harus memulainya? Bagaimana cara mendidik anak melalui puasa?

Kapan Anak Wajib Berpuasa?

Dalam Islam, anak wajib berpuasa ketika sudah akhil baligh. Jika dihitung dalam usia, hal itu terjadi pada usia 10 tahun ke atas. Anak mulai sah berpuasa ketika sudah tamyiz, ketika anak sudah dapat dinasihati. Tamyiz adalah ketika anak dapat mengenal dan membedakan hal baik dan buruk. Anak pada masa tamyiz atau 7-10 tahun, belum dikenai kewajiban seperti salat, puasa, maupun haji. Namun, jika anak tersebut melakukan amalan tersebut, maka amalan dianggap sah.

Kisaran usia tersebut ternyata cocok jika dikaitkan dengan tahapan perkembangan moral Piaget. Anak masih dalam tahap heteronomous morality sampai pada usia 9 tahun. Artinya, anak belum bisa mengembangkan konsep moralnya. Anak usia 10 tahun berada pada tahap autonomous morality, sehingga sudah dapat mengembangkan pemahaman tentang moralitas. Dengan demikian, keputusan-keputusan yang diambil anak sehari-hari sudah berdasarkan pemahaman anak sendiri. Anak dapat mempertimbangkan alasan melakukan sesuatu. Dalam kaitan dengan puasa, anak dapat berpikir untuk berpuasa karena dorongan orang tua, motivasi teman sebaya, atau memang benar-benar ingin berpuasa dari dorongan diri sendiri. Oleh sebab itu, anak dianggap sudah wajib untuk berpuasa.

Puasa Mengenalkan Anak Tentang Disiplin, Kejujuran, Toleransi dan Sopan Santun

Disiplin, kejujuran, toleransi dan sopan santun adalah nilai yang dapat diterima secara universal, tanpa melihat suku, ras maupun agama. Nilai-nilai tersebut harus dikenalkan sejak masa kanak-kanak. Keempat nilai universal tersebut berhubungan dengan pengendalian ego. Anak usia 2-7 tahun masih berada pada fase egosentris, yakni fase dengan ke-aku-an yang sangat tinggi. Anak belum mampu melihat dari sudut pandang lain. Puasa dapat menjadi cara anak belajar mengenali ego, untuk lebih mudah mengendalikannya pada fase perkembangan selanjutnya.

  • Mengenalkan Disiplin Diri

Puasa mengajarkan anak untuk disiplin. Pada saat puasa, waktu untuk sahur dan berbuka sudah terjadwal. Anak akan belajar untuk bangun dan makan bersama ketika sahur, berhenti ketika imsak. Selain itu, kita dapat melatih kedisiplinan dengan menanyakan sampai jam berapa anak kita berniat puasa hari ini. Apakah dalam beberapa jam, sampai Dzuhur, Ashar, atau sampai waktu berbuka? Lalu, amati bagaimana usaha anak mempertahankan puasanya sampai waktu yang ia sebutkan tadi. Jelas, kita tidak bisa memaksa anak untuk berpuasa diluar kemampuan. Pembiasaan itu membentuk disiplin diri anak ketika sudah saatnya untuk wajib berpuasa.

  • Membiasakan Jujur

Anak boleh berbuka ketika Dzuhur atau Ashar, bahkan dalam hitungan jam sesuai kemampuan. Dalam hal inilah, anak belajar tentang kejujuran. Kapan anak benar-benar berbuka? Apakah anak mencuri-curi minum atau makan selama berlatih puasa? Beri pengertian anak jika berbohong membuat pahala puasa hilang dan hanya tersisa lapar saja. Ajak anak berbincang tentang pengalaman puasa hari ini pada saat berbuka.

  • Belajar Toleransi

Ketika anak berbuka sebelum maghrib, di sinilah anak belajar tentang toleransi. Beri anak penjelasan untuk tidak makan di depan orang lain yang sedang berpuasa. Kita bisa membuat pengecualian di depan ayah atau ibu, jika anak masih belum bisa mengambil makan sendiri. Selain itu, beri pengertian anak jika melihat temannya yang tidak berpuasa, baik yang belum sanggup puasa atau yang beragama lain. Ajak anak untuk menghormati temannya dengan tidak mengolok-olok atau membeda-bedakan.

  • Belajar Sopan Santun

Terakhir, selama berpuasa, anak belajar tentang sopan santun. Kata-kata yang buruk dan amarah mengurangi pahala puasa. Anak akan belajar mengelola emosi selama puasa. Tentu, orang tua juga harus memberi contoh untuk anak. Terlebih pada saat puasa Ramadhan, kegiatan seperti tarawih dapat mengajarkan anak untuk sopan santun ketika beribadah bersama. Kegiatan berbagi takjil dan pengajian juga dapat membiasakan anak berperilaku sopan ketika bersama orang lain.

Puasa yang Bermakna adalah Puasa yang Menyenangkan

Pembelajaran pada masa kanak-kanak selalu harus dalam konteks yang menyenangkan. Dengan demikian, belajar tentang puasa yang bermakna adalah puasa yang dipenuhi kegiatan yang menyenangkan. Isi puasa dengan kegiatan seru seperti menyiapkan hidangan buka bersama, sedekah harian, maupun melibatkan anak dalam pembagian takjil. Terlebih pada saat Ramadhan, kelekatan antara orangtua dan anak dalam menjalankan puasa, tarawih, tadarus dan shalat jamaah adalah momen pembelajaran yang penting untuk membentuk ikatan batin. Buat anak kita mencintai puasa, maka anak akan belajar mencintai Allah SWT sekaligus mengenal tentang nilai-norma dengan sendirinya.

Sumber:

https://www.simplypsychology.org/piaget-moral.html

http://www.nu.or.id/post/read/90521/hukum-puasa-anak-kecil