Banyak orang yang salah mengartikan makna dari keseganan anak. Segan itu beda dengan takut. Mendidik keseganan jelas beda dengan menanam ketakutan. Anak yang takut akan tumbuh menjadi anak yang terlampau penurut tanpa tahu manfaat dari apa yang ia turuti. Sebaliknya, anak yang segan akan menuruti orang tuanya dan bertindak karena ia tahu apa yang baik.

Kendati sifat segan bisa tampak kaku dan formal bila diterapkan dalam pergaulan atau lingkaran pertemanan, keseganan ini menjadi penting ketika menghadapi orang yang dituakan atau sosok yang dihormati.

Intinya adalah menempatkan diri. Tata krama dan sopan santun merupakan nilai dan kualitas yang vital dan perlu ditekankan untuk dimiliki oleh generasi sekarang.

Meski banyak anggapan bahwa keseganan merupakan sifat yang dibalut oleh ketakutan, hal itu langka terlihat pada pribadi parenting khususnya dalam adat Jawa. Pola mendidik anak dalam adat Jawa diwarnai dengan sikap hormat dan penuh dengan kesederhanaan. Penggunaan sikap hormat yang tepat telah dikembangkan oleh masyarakat Jawa sejak kecil melalui pendidikan dalam keluarga. Poin ini diterangkan oleh Hildred Geertz (1983) dengan 3 falsafah atau suasana perasaan yang menggambarkan sikap hormat dalam adat Jawa, yakni wedi, isin,dan sungkan.

Wedi, mendidik keseganan anak dengan sifat takut

Secara harfiah, wedi dapat diartikan sebagai takut. Namun takut yang dimaksud dalam konteks ini bukanlah ketakutan akan segala hal yang mencerminkan sikap pengecut. Takut di sini bisa dipahami sebagai reaksi terhadap ancaman, ataupun rasa takut akibat berbuat sesuatu yang tidak semestinya.

Dengan adanya rasa wedi, anak akan belajar untuk bersikap semestinya terhadap orang yang lebih tua atau dihormati. Secara tidak langsung, anak juga belajar akan keseganan. Anak yang bersikap wedi terhadap orang yang lebih tua akan tampak lebih terpuji tutur kata dan perilakunya. Tindakannya akan lebih halus dan sopan.

Contoh dari rasa wedi adalah ketika anak tidak berani berbuat kasar pada anggota keluarga, karena ia takut akan melukai dan dimarahi orang tuanya.

Isin, belajar rasa malu

Isin dapat diartikan sebagai malu. Geertz mengartikan isin sebagai sikap anak yang tahu malu. Memiliki rasa malu merupakan satu dari sekian langkah menuju ke arah kepribadian Jawa yang matang. Dengan memiliki rasa malu, anak akan membatasi tingkah lakunya pada hal-hal yang sewajarnya saja. Ketika seorang anak tidak memiliki rasa malu, ia dapat berbuat seenaknya tanpa memikirkan pendapat orang lain.

Isin dan keseganan merupakan satu kesatuan pada sikap anak. Dengan adanya rasa malu, anak juga lebih mudah mengakui kesalahan. Contoh dari rasa isin adalah ketika anak mengunyah makanan dengan mulut tertutup karena malu dilihat orang lain jika makannya berantakan.

Sungkan, mendidik rasa hormat anak dengan keseganan

Sungkan memiliki makna terdekat dengan malu dan keseganan pada anak. Jika anak sungkan, ia akan dapat menunjukkan sikap hormat yang tepat terhadap orang yang pantas dihormati. Geertz mengartikan rasa sungkan sebagai rasa hormat dengan penuh kesopanan terhadap atasan atau orang lain yang belum dikenal.

Masyarakat Jawa mendidik rasa hormat pada anaknya tanpa pandang bulu. Anak harus menunjukkan keseganan meskipun ia tidak mengenal orang tersebut. Sikap-sikap mendasar seperti berbicara tidak dengan suara yang keras, tertawa jangan terlalu lebar, atau makan jangan mengecap—semua sikap ini masuk ke dalam sikap sungkan.

Baik itu wedi, isin, ataupun sungkan, semuanya mengarah ke tata krama dan tata laku pribadi Jawa yang menghormati keberadaan orang lain, apapun derajatnya.

Referensi

Rochayanti, C., Pujiastuti, E. E., & Warsiki, A. (2012, Agustus). Sosialisasi Budaya Lokal dalam Keluarga Jawa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(3), 308-320.

SPIN. (2019, Februari 25). Apakah Sungkan itu Sopan? Diambil kembali dari Spin Productions