Sejauh ini, masih banyak orang tua menganggap anaknya adalah sebuah aset. Dalam hal ini, anak dianggap sebagai suatu yang berharga dan nantinya bisa digunakan (berbakti -red) saat orang tua di usia senja. Padahal, konsep seperti ini yang membuat orang tua dan anak tidak memiliki kedekatan. Oleh karena itu, artikel tentang membangun persahabatan bersama anak ini akan memberikan sedikit pencerahan buatmu sebagai orang tua.

Konsep Anak Adalah Anugrah

Anak merupakan anugrah yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Tidak semua orang beruntung bisa memiliki anak. Tapi, ada juga orang tua yang tidak berkehendak memiliki anak karena takut mengganggu hidup dan tidak bisa mengurusnya.

Pemahaman seperti itu sangat lah wajar, meskipun ada pro dan kontra di masing-masing sisinya. Hanya saja, konsep anak adalah anugrah bukanlah sebuah konsep yang bisa kita tolak begitu saja. Konsep ini muncul karena adanya faktor pasangan yang sudah berusaha memiliki anak, tetapi tidak kunjung memperolehnya.

Dengan kata lain, anak adalah anugrah adalah pemahaman yang membuat orang yakin bahwa kehadiran seorang anak dalam keluarga tidak hanya sebatas hasil hubungan badan suami dan istri. Selain faktor kesehatan dan kesuburan, kehadiran anak juga dianggap sebagai bentuk dari kehendak Tuhan.

Konsep Anak Adalah Aset

Saat ini masih banyak orang tua yang memiliki pemikiran bahwa anak adalah aset. Aset dalam hal ini dimaknai sebagai sesuatu yang berharga dan bisa bermanfaat di kemudian hari. Dengan kata lain, konsep anak adalah aset merupakan pemahaman sebagian besar orang yang melihat anaknya harus berbakti pada orang tuanya.

Memang, anak lahir dari kedua orang tua. Bahkan, anak tidak bisa tumbuh dengan baik jika tidak dirawat oleh orang tua dengan penuh kesabaran. Hal ini yang terkadang membuat sebagian orang tua pamrih terhadap perlakuan yang diberikan kepada anaknya.

Padahal, tidak ada anak di dunia ini yang ingin dilahirkan. Semua anak lahir karena keinginan orang tuanya. Bahkan, jika orang tua tidak menginginkan kehadiran anak sampai rela untuk menggugurkannya saat dalam kandungan.

Bentuk kesiapan dan pengorbanan anak ini membuat para orang tua lalai bahwa mereka lah yang menginkan kehadiran anaknya. Namun, saat anak tidak bisa mengikuti apa yang diinginkan orang tuanya, maka orang tua akan merasa bersedih. Bahkan, ada orang tua yang sampai rela mengutuk anak yang tidak mengikuti perintah orang tua.

Pamrih Membuat Lelah Orang Tua

Pemahaman pamrih ini bisa dianalogikan saat orang tua mengharapkan sesuatu kepada anaknya. Orang tua sering memberikan target atau pencapaian kepada anaknya dengan alih-alih demi kebaikan anaknya.

Padahal, tidak semua anak berkenan untuk melakukan semua perintah orang tua. Tapi, tidak semua anak berani menentang permintaan orang tua sehingga mereka hanya bisa bertahan dengan kesabarannya.

Konsep pamrih seperti ini justru membuat orang tua dan anak memiliki hubungan yang kurang baik. Mereka sama-sama lelah saat berekspektasi satu dengan yang lain. Tapi, mereka juga tidak bisa menemukan solusi untuk berdamai dengan ekspektasi dan realitanya.

Seperti contoh, orang tua memaksakan anak masuk ke fakultas kedokteran sehingga memaksa anak belajar dengan giat. Di sisi lain, anak tidak berani menentang orang tua karena konsep durhaka dan ketergantungan hidup anak pada orang tuanya. Alhasil, hubungan itu sama-sama dipaksakan. Orang tua memaksakan anaknya masuk fakultas kedokteran dan anaknya memaksakan diri belajar tetapi tidak bisa optimal.

Membangun Persahatan Bersama Anak

Setelah memahami konsep anak sebagai anugrah, anak sebagai aset, dan bentuk pamrih orang tua kepada anak, membangun persahabatan adalah solusi untuk semuanya.

Membangun persahabatan bersama anak bisa mengarahkan pada paham bahwa anak adalah anugrah yang dititipkan sehingga tidak bisa dimonopoli sesuai keinginan orang tua. Anak adalah aset yang dianalogikan bahwa aset memiliki nilai yang naik dan turun sehingga tidak bisa dipaksakan harus naik terus.

Dengan paham demikian, orang tua tidak akan lagi pamrih kepada anaknya. Seorang sahabat tidak akan pamrih, dia akan membatu sahabatnya saat susah dan senang. Sahabat juga tidak akan masuk ke ranah privasi sehingga hubungan tetap terjalin sesuai yang diharapkan oleh keduanya.

Orang tua membangun persahabatan bersama anak adalah solusi untuk menjadikan hubungan anak dan orang tua tidak memiliki sekat. Jika orang tua sudah bersahabat dengan anak, semua perilaku baik dan buruk anak pasti akan disampaikan pada orang tuanya.

Orang tua tidak perlu lagi khawatir apa yang akan dilakukan anaknya di luar rumah. Anak tidak perlu lagi khawatir untuk menceritakan semua permasalah dan keadaan hidup sosialnya kepada orang tua. Hubungan seperti ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan.