Penulis: Khoirunnissa Hidayati

Editor: Bernadeta Diana

Beberapa tahun belakangan ini, isu kesetaraan gender mulai muncul ke permukaan. Tidak hanya terkait dengan besaran gaji dan peluang untuk mendapatkan promosi pekerjaan, namun sekarang isu kesetaraan gender juga sudah masuk ke ranah pendidikan anak-anak. Pelabelan gender yang dimulai sejak anak-anak nantinya akan semakin terasa ketika mereka tumbuh dewasa. Namun demikian, sadarkah kita bahwa konsep netralitas gender justru dapat memaksimalkan perkembangan anak?

Kecenderungan Pelabelan Gender Pada Mainan Anak

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dahulu orang tuamu selalu memberikan boneka untuk anak perempuan dan mobil-mobilan kepada anak laki-lakinya? Kejadian tersebut mungkin sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, namun nyatanya hingga saat ini hal tersebut masih kerap ditemukan dalam kejadian sehari-hari. Misalnya saja kamu sedang pergi ke toko mainan, kamu akan mendengar seorang ibu yang melarang anak perempuannya untuk membeli robot-robotan atau melarang anak laki-lakinya untuk membeli boneka dengan alasan, “Anak perempuan kok main robot-robotan, itukan  mainan anak  laki-laki!” atau  “Anak laki-laki kok main boneka, kayak perempuan”.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya mainan anak-anak tidak memiliki label gender alias netral-gender. Yang melakukan pelabelan gender pada mainan tidak lain adalah kita sendiri sebagai orang tua. Padahal, anak-anak hanya memilih mainan yang menarik perhatiannya, tidak ada alasan lebih. Namun ketika orang tua mulai memberikan label pada mainan dan hanya memperbolehkan anaknya untuk bermain dengan jenis mainan tertentu, maka anak otomatis akan mengenal yang namanya perbedaan gender. Itulah penyebabnya mengapa saat ini ketimpangan komposisi gender terjadi di dunia di berbagai kalangan.

Sebenarnya tidak hanya dari pihak orang tua saja yang menyebabkan munculnya perbedaan gender, namun pihak lain juga memberikan kontribusi yang sama. Coba lihat iklan mainan anak-anak yang sering muncul di layar televisi, ketika ada mainan boneka pasti yang jadi model iklannya adalah anak-anak perempuan, kita tidak akan pernah melihat mainan boneka yang dibintangi oleh anak laki-laki. Iklan-iklan seperti inilah yang akhirnya tertanam pada otak anak-anak saat melihat iklan tersebut, mereka akan menganggap bahwa boneka adalah mainan anak perempuan dan hanya boleh dimainkan oleh anak perempuan saja.

Anak-anak yang sudah diberikan label gender sejak kecil akan menerima konsep tersebut dan akan memproses informasi tersebut hingga tahun-tahun mendatang ketika ia sudah besar nanti. Misalnya saja ketika ia sudah memasuki usia sekolah, ia cenderung akan bermain dengan teman-teman yang memiliki gender sama dengannya. Pernahkah kamu mendengar seorang anak yang diejek oleh teman-temannya sendiri karena bermain dengan teman-teman yang berbeda gender dengannya? Ini adalah salah satu contoh dari dampak pelabelan gender pada anak-anak.

Sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa mainan memiliki peran yang sangat penting terhadap perkembangan kognitif anak. Anak-anak yang sering bermain dengan boneka akan belajar empati dan juga cara untuk menjaga seseorang. Anak-anak yang bermain dengan blok-blok kecil akan mengembangkan kemampuan otomotif atau hal sains. Dan anak-anak yang bermain dengan puzzle, keterampilan spasialnya akan berkembang. Ketika orang tua membatasi mainan pada anak, maka perkembangan anak akan terhambat, inilah yang kemudian juga menyebabkan terjadinya ketimpangan kemampuan pada pria dan wanita di masa depan.

Implementasi Konsep Netral-gender dalam Mendidik Anak

Saat ini negara-negara di dunia sudah mulai terbuka dengan isu kesetaraan gender, contohnya saja di Inggris yang mengeluarkan kampanye Let’s Toys Be Toy’s. Kampanye tersebut bertujuan agar mainan anak-anak untuk perempuan maupun laki-laki tidak memiliki pelabelan berdasarkan gender. Anak-anak dapat memilih mainan apa yang mereka inginkan tanpa adanya batasan gender. Pemerintah Inggris berharap dengan adanya kampanye ini dapat mengurangi ketimpangan gender dalam berbagai sektor. Di Indonesia memang belum ada gerakan kampanye seperti ini, namun sebagai orang tua tentu kita bisa memulainya dengan tidak melabeli mainan dengan gender sehingga anak-anak bebas bermain.

Contoh lainnya adalah yang ada di Swedia. Ada salah satu prasekolah atau playgroup yang ada di Swedia yang menetapkan sebuah peraturan yang cukup menggemparkan. Prasekolah yang bernama Egali ini menghapuskan penggunaan kata dia laki-laki (han) dan dia perempuan (hon) untuk menyebutkan anak-anak yang bersekolah disana. Pihak sekolah mengatakan bahwa mereka menggunakan kata pengganti hen, kata ini tidak ada dalam kamus Swedia namun biasa digunakan oleh komunitas feminis dan gay sebagai salah satu bentuk untuk mewujudkan kesamaan gender, kesamaan antar sesama manusia dan juga sebagai salah satu bentuk demokrasi.

Jika kamu tertarik untuk membesarkan anak-anak dengan netral-gender, tidak mengkotak-kotakkan anak sebagai laki-laki atau perempuan, mungkin bisa melihat bagaimana Beyoncé membesarkan anak-anaknya. Dalam majalah Vogue edisi September 2018, Beyoncé menceritakan bagaimana ia membesarkan seluruh anaknya tanpa memaksakannya untuk mengikuti ekspektasi dunia terkait feminitas dan juga maskulinitas. Untuk anak perempuannya, Beyoncé mengatakan bahwa mereka tidak perlu menjadi tipe tertentu atau menyesuaikan diri mereka pada kategori tertentu, mereka dapat mengeksplorasi apapun yang mereka inginkan, agama apapun, jatuh cinta dengan orang manapun yang mereka inginkan. Beyoncé pun menginginkan agar anak laki-lakinya tah hanya bisa menjadi sosok yang berani dan kuat, namun juga bisa menjadi peka dan baik hati, memiliki kecerdasan emosional yang baik sehingga ia bisa menjadi seseorang yang peduli terhadap orang lain, jujur dan juga bersikap apa adanya.

https://magdalene.co/story/biarkan-mainan-anak-tidak-berkategori-gender https://www.vice.com/id_id/article/mb45ep/beyonce-membesarkan-anak-anaknya-lepas-dari-stereotip-gender-dan-dia-bukan-satu-satunya

https://www.kompasiana.com/tiyowidodo/5500f8788133116619fa8135/kesetaraan-gender-unik-di- prasekolah-egalia-swedia