Selintas, sensory meltdown yang terjadi pada anak penyandang autisme dapat dilihat seperti si anak sedang meluapkan amarah dan sulit mengontrol emosinya. Padahal, sensory meltdown lebih serius daripada itu. 

Sensory meltdown adalah kondisi yang bisa kambuh seketika saat anak penyandang autisme terpapar stimulus tertentu yang tak bisa ia terima. Misalnya, lampu yang terlalu terang atau suara yang terlalu bising, atau bahkan sekedar sentuhan kecil di bagian tubuh tertentu. Setiap anak penyandang autisme memiliki pemicu yang berbeda-beda. Bayangkan anak selayaknya teko air, dan air itu adalah stimulus. Jika terlalu banyak diisi air, tentunya airnya akan tumpah. Tumpahnya air itu adalah kondisi yang disebut sensory meltdown. Jika tidak ditangani dengan tenang dan tepat, kondisi ini bisa meninggalkan bekas luka yang mendalam pada anak.

Kasus sensory meltdown pada anak penyandang autisme

Baru-baru ini, Lauren Bergner membagi kisahnya di portal berita CBS News. Lauren bersama anaknya, Brody, pergi bertamasya ke Disney World. Brody adalah anak penyandang autisme dan memiliki kesulitan berkomunikasi secara verbal. Ketika sedang mengantri untuk berfoto bersama tokoh Snow White, Brody selaku anak penyandang autisme seketika mengalami sensory meltdown. Brody menangis sejadi-jadinya.

Lauren mencoba untuk menenangkan anaknya sembari menjelaskan ke orang-orang sekitarnya bahwa anaknya autistik. Melihat hal tersebut, pemeran Snow White itu membiarkan Brody menangis di pangkuannya, lalu mengajaknya pergi dari kerumunan, lalu mengajaknya berdansa dan berfoto bersama. Brody yang tadinya menangis, mulai tenang dan kembali tersenyum ceria.

Pada kasus lain, seorang anak penyandang autisme mengalami meltdown di dalam pesawat di tengah penerbangan. Braysen, anak penyandang autisme berusia 4 tahun mulai mengalami sensory meltdown ketika pesawat hendak mengudara. Ia menolak duduk di kursinya dan menggunakan sabuk pengaman. Orang tuanya mencoba untuk menenangkannya dengan berbagai cara, namun tidak berhasil. Braysen memaksa ingin duduk di lantai karena getaran pesawat membuatnya tenang.

Akhirnya para pramugari mengajak Braysen duduk di kursi pramugari sambil memangkunya. Setelah lampu indikator sabuk pengaman mati, Braysen diperbolehkan untuk duduk dan berbaring di lantai kabin. Para pramugari ikut duduk bersamanya di lantai dan menemaninya mengobrol hingga ia kembali tenang sampai pesawat mencapai tujuan.

Kasus yang serupa terjadi pada Taylor Pomilla dan anaknya, Andrew yang berusia 4 tahun. Andrew adalah seorang anak autis yang memiliki masalah mengontrol emosinya dan cenderung meledak-ledak ketika emosinya meluap. Suatu hari, Taylor dan Andrew pergi naik kereta. Dalam perjalanan, Andrew menolak duduk di kursi dan memilih duduk di lantai. Karena kondisi kereta yang penuh sesak, Andrew ditegur dan disentuh oleh salah satu penumpang untuk duduk di kursi bersama ibunya. Saat itu juga Andrew kambuh dan berteriak menangis.

Untungnya, saat itu ada seorang polisi yang sedang menjadi penumpang di kereta itu. Polisi itu lalu duduk di samping Andrew dan mengajak Andrew mengobrol dan membiarkan Andrew bermain dengan topi dan borgol yang ia bawa. Andrew kembali tenang dan polisi itu menemani Andrew hingga sampai tujuan.

Penanganan yang tepat

Ketika Anda dihadapkan dengan situasi anak penyandang autisme yang mengalami sensory meltdown, berikut adalah 3 hal yang perlu Anda lakukan:

  • Berikan anak waktu untuk menenangkan diri. Pahami bahwa untuk bisa tenang dari paparan stimulus yang berlebih itu butuh waktu dan tidak bisa sekejap sembuh.
  • Ajak anak bicara dengan tenang dan tanyakan apa yang mereka inginkan, namun jangan memaksa anak untuk segera menjawab.
  • Beri ruang, atau sediakan ruang untuk anak menenangkan diri. Jika anak kambuh di ruang publik, minta orang sekitar untuk tidak mengerumuni atau bawa anak pergi ke tempat yang sepi dan tenang. Tidak ada salahnya untuk siap sedia selalu membawa headphone kedap suara agar anak tidak terganggu suara bising.

Tulisan ini tidak hanya ditujukan bagi para orang tua dari anak penyandang autisme, tapi untuk Anda semua, siapapun dan dimanapun Anda berada. Berkaca dari segelintir cerita di atas, yang membuat proses menenangkan sensory meltdown anak penyandang autisme lebih mudah adalah pengertian dan bantuan dari orang sekitar. Semoga masyarakat kita juga bisa seperti itu.

Referensi

Angel Sense. (2016, July). 10 Tips for De-Escalating Sensory Meltdowns This Summer. Diambil kembali dari Angel Sense: https://www.angelsense.com/blog/10-tips-de-escalating-child-special-needs-sensory-meltdown/

Kostelyk, S. (2017). Is My Child Having a Sensory Meltdown? Diambil kembali dari The Chaos and The Clutter: https://www.thechaosandtheclutter.com/archives/child-sensory-meltdown

Mckinley, C. (2019, September 4). Flight Crew and Passengers in First Class All Welcome Boy With Autism During Mid-Flight Meltdown. Diambil kembali dari Good News Network: https://www.goodnewsnetwork.org/flight-crew-and-passengers-welcome-autistic-boy-with-autism/

McKinley, C. (2019, September 9). Subway Officer Spent 30 Minutes Calming Boy With Autism Having a Meltdown—and They’re Now Best Friends. Diambil kembali dari Good News Network: https://www.goodnewsnetwork.org/subway-officer-spent-30-minutes-calming-boy-with-autism/

O’Kane, C. (2019, September 4). Snow White comforts boy with autism who had a “meltdown” in Disney World. Diambil kembali dari CBS News: https://www.cbsnews.com/news/snow-white-comforts-boy-with-autism-who-had-a-meltdown-in-disney-world/