Pernikahan bukanlah hal yang sederhana dan mudah untuk dijalankan. Banyak aspek yang membuat hubungan pernikahan itu cukup kompleks. Salah satu dari sekian banyak permasalahan dari hubungan pernikahan adalah konflik peran yang muncul. Konflik peran ini sering membuat seorang lelaki lelah menjadi penengah antara perselisihan istri dan orang tua.

Bukan tidak mungkin, konflik peran ini sangat sering terjadi dalam sebuah pernikahan. Ilustrasi sederhana dari konflik peran ini seperti halnya konflik antara anak dengan orang tua. Tidak sedikit anak-anak yang berselisih dengan orang tuanya, baik perselisihan kecil hingga besar. Hal ini muncul sering karena suatu perbedaan pandangan.

Perbedaan pandangan itu sendiri terjadi karena banyak faktor, seperti faktor pengalaman dan pengetahuan. Orang tua cenderung lebih merasa berpengalaman daripada anaknya sehingga mereka meyakini bahwa apa yang dipercayanya adalah suatu kebenaran. Anak-anak cenderung merasa lebih memiliki pengetahuan terbaru dan terupdate sehingga merasa pengalaman orang tua zaman dahulu sudah tidak relevan diperbicarakan lagi.

Perbedaan seperti inilah yang sering membuat perselisihan dari hubungan orang tua dan anak. Tidak heran jika mertua dan menantu terkadang berselisih terhadap suatu hal, baik perselisihan itu diungkapkan secara eksplisit maupun perselisihan itu dipendam dan menjadi penyakit hati menantu yang harus mengalah.

Mertua dan Menantu, Hubungan Batin Istri dan Orang tuaku

Keputusan untuk menikah adalah risiko untuk saling menghubungkan satu dengan yang lain, yakni orang tua dengan istri, kamu dengan keluarga istri, dan hubungan-hubungan lain yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pernikahan tidak serta merta kamu hidup bermesraan dengan istri setiap hari. Pernikahan juga mengikatmu untuk bisa mesra dengan keluarga istrimu dan memesrakan istrimu dengan keluargamu.

Hal ini karena pernikahan tidak hanya sekadar menghubungkan dua manusia saja, tapi menghubungkan sejumlah orang dengan banyak pemikiran. Jika kamu seorang mediator yang handal atau kamu memiliki batas sabar yang luar biasa maka ini bukanlah menjadi soal. Hanya saja, jika kamu menganggap pernikahan sebatas ikatan resmimu dengan istri, maka kamu akan menghadapi banyak rintangan di depannya.

Salah satu rintangan yang paling dekat dan sering muncul adalah hubungan batin istri dan ibu. Sesama wanita, mereka pasti punya standar masing-masing tergantung dari pengetahuan dan pengalaman yang pernah mereka jalani. Lelaki yang baik harus bisa memposisikan diri untuk mengambil sikap dalam perselisihan antara kedua wanita yang paling kamu cintai ini.

Kasus yang paling sering muncul dari perselisihan batin antara istri dan ibu ini terkait dengan kebiasaan istri di mata ibu dan terkait perbedaan pegasuhan anak kalian sekaligus cucu orang tuamu.

Terkait kebiasaan istri di mata ibu ini sering menjadi permasalahan karena adanya perbedaan pandangan. Hal yang sering muncul adalah kebiasaan istri yang bangun siang atau istri yang tidak biasa masak dan bersih-bersih rumah. Konsep perempuan yang dipahami ibu adalah sosok “penjaga rumah”, dari membersihkan rumah, memasak, hingga melayani suami. Konsep perempuan yang dipahami perempuan modern (istrimu) adalah partner dari suami.

Terkait pola asuh anak, kebanyakan orang tua sekarang ingin menjadikan anaknya mandiri dan siap memasuki dunia modern saat ini. Tapi, pola asuh anak dari kakek nenek cenderung memanjakan cucunya hingga dirasa terlalu berlebihan. Bagi kamu dan istri, anak adalah generasi penerus keluarga sehingga harus dipersiapkan secara matang. Bagi orang tuamu, anakmu seperti one piece atau sesuatu yang sangat berharga sehingga cenderung ke arah dimanjakan.

Kedua perbedaan itu sering sekali muncul di hampir setiap keluarga, khususnya perbedaan pola asuh anak atau cucu dari orang tuamu. Terkadang kita berupaya untuk menjaga anak agar bisa mandiri dengan cara menyuruhnya makan sendiri, tetapi bagi orang tuamu menyuapi cucunya makan adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Lelah Menjadi Penengah, Konflik Tak Berujung dari Hubungan Istri dan Orang tuaku

Terkadang kita akan lelah menjadi penengah dari konflik batin istri dengan orang tua kita. Tapi, apabila kita lelah untuk memposisikan diri sebagai penengah bagi mereka maka akan membuat batin mereka bersedih. Bersedih karena ekspektasi mereka tidak sesuai dengan realita yang mereka harapkan.

Hal seperti ini yang membuat banyak orang menyarankan untuk bisa hidup sendiri. Tidak sedikit dari pasangan suami istri memutuskan untuk berjuang KPR rumah agar bisa tidak hidup satu atap dengan orang tua meskipun KPR rumah adalah masalah lain yang muncul kemudian. Hanya saja, pilihan untuk KPR terkadang lebih masuk akan daripada konflik peran akan sering muncul.

Pasangan suami istri saat ini akan cenderung bekerja bersama-sama untuk bisa memiliki rumah sendiri. Bukan hanya sekadar sebagai pembuktian untuk mandiri, tapi memiliki rumah sendiri bagi pasutri adalah salah satu cara untuk menghindari konflik batin yang sering muncul antara menantu dan mertua.

Tidak heran jika saat ini istri dianggap sebagai partner suami. Hal ini karena keadaan yang mengharuskan mereka untuk bisa berjuang bersama untuk bisa mandiri dengan cara mereka tanpa harus ada interferensi dari pihak lain, termasuk orang tua mereka sendiri. Konflik peran membuat mereka lelah menjadi penengah, baik suami menjadi penengah istri dan orantuamu atau sebaliknya.

Oleh karena itu, kalian yang ingin menikah mungkin harus mempertimbangkan konflik peran seperti ini. Bukan untuk menakut-nakuti, hanya saja konflik peran ini membuatmu harus menjadi penengah dan itu sangatlah merepotkan. Kalian juga perlu ingat bahwa menikah itu tidak hanya mengikat dua keluarga, tapi mengikat banyak keluarga, yakni keluargamu dengan keluarga istrimu, keluargamu dengan keluarga besar istrimu, hingga keluargamu dengan tetangga keluarga istri. Begitu juga sebaliknya!